Untuk menginvestigasi hal itu, tim peneliti menganalisis data sejumlah subjek dewasa pengidap artritis berusia 40 tahun ke atas yang berpartisipasi dalam National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) tahun 2007-2008 yang lalu. Ide bunuh diri dinilai berdasarkan jawaban subjek atas pertanyaan NHANES, "Dalam dua minggu terakhir, seberapa sering Anda merasa terganggu dengan masalah berikut: berpikir kalau Anda lebih baik mati, atau menyakiti diri sendiri dengan cara-cara tertentu?" Meskipun tidak menanyakan secara spesifik tentang gagasan bunuh diri, pertanyaan tersebut telah dipakai pada banyak studi yang bertujuan menilai ide bunuh diri dan lebih jarang tidak menghasilkan jawaban (respons) dibanding pertanyaan yang lebih spesifik.
Ide bunuh diri ditemukan pada 2,4% subjek sehat dan pada 5,6% subjek pengidap artritis. Prevalensi ini mirip dengan temuan pada para pengidap diabetes (6,8%) dan kanker (5,1%). Di antara subjek pengidap artritis, gagasan bunuh diri lebih banyak ditemukan pada individu yang bukan kulit putih, berpendidikan rendah, miskin, memiliki riwayat kunjungan ke psikiater lebih sering, masih merokok, pecandu alkohol, serta mengalami ansietas dan nyeri. Mereka juga memiliki lebih banyak komorbiditas, mengalami gangguan tidur, depresi, dan berbagai keterbatasan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Di lain pihak, ide bunuh diri secara umum lebih rendah pada subjek dengan durasi artritis yang lebih lama, berusia lebih tua, berpenghasilan lebih tinggi, memiliki lebih banyak teman dekat, hanya minum alkohol sesekali, dan berpendidikan lebih tinggi.
Selain itu, para peneliti menemukan bahwa 11 dari 16 korelasi teratas ide bunuh diri pada pasien-pasien artritis juga relevan untuk pasien-pasien pengidap diabetes dan kanker. "Jadi, subkelompok pasien dengan durasi artritis yang lebih singkat, mengalami depresi, pecandu alkohol, berpenghasilan rendah, dan memiliki lebih dari tiga komorbiditas merupakan populasi yang paling berisiko memiliki ide bunuh diri sehingga harus menjadi fokus perhatian," dr. Tektonidou menyimpulkan.
Image adopted from www.peacefulmind.com