Rating : ratings 0.0%

DMARDs Berpotensi Menurunkan Risiko Diabetes pada Pasien RA dan Psoriasis

(27-Jun-2011)
Oleh: AAM
Print Preview
DMARDs Berpotensi Menurunkan Risiko Diabetes pada Pasien RA dan Psoriasis
Kalbe.co.id - Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs) tertentu berpotensi menurunkan risiko diabetes pada pasien dengan rheumatoid arthritis (RA) atau psoriasis. Temuan ini merupakan hasil studi observasional yang baru-baru ini dipublikasikan di Journal of American Medical Association. Pada sekitar 14.000 pasien dengan RA atau psoriasis, para peneliti menemukan bahwa penggunaan inhibitor tumor necrosis factor (TNF) atau hydroxychloroquine ternyata berkaitan dengan penurunan risiko terjadinya diabetes secara bermakna, dibanding penggunaan DMARDs non-biologik lain. "Temuan studi epidemiologik ini memang baru sebatas hipotesis," ungkap dr. Daniel Solomon, "Meskipun demikian, mempertimbangkan korespondensi hasil studi ini dengan temuan studi-studi sebelumnya yang mengungkap adanya perbaikan metabolisme glukosa dan insulin serta penurunan risiko diabetes dengan penggunaan hydroxychloroquine dan inhibitor TNF, akumulasi semua hasil tersebut mengisyaratkan bahwa DMARDs dan imunosupresi memegang peranan dalam pencegahan diabetes pada kasus RA dan psoriasis," lanjut beliau.     

Dalam studinya, dr. Solomon dan kolega, dari Brigham and Women's Hospital Boston, mengidentifikasi 121.280 pasien dengan diagnosis RA atau psoriasis. Mereka menggunakan data administratif dari dua program asuransi kesehatan besar, satu di Kanada dan satu di Amerika Serikat. Tim peneliti ini memfokuskan analisisnya pada 13.905 pasien yang telah mendapat sedikitnya satu resep DMARD sebelum follow-up dimulai dan sudah menggunakannya selama rata-rata 5,8 bulan. Regimen obat dikategorikan ke dalam 4 kelompok: (1) inhibitor TNF dengan atau tanpa DMARDs; (2) methotrexate tanpa inhibitor TNF atau hydroxychloroquine; (3) hydroxychloroquine tanpa inhibitor TNF atau methotrexate; (4) DMARDs non-biologik lain tanpa inhibitor TNF, methotrexate, atau hydroxychloroquine.  

Selama follow-up, para peneliti menemukan 267 kasus diabates yang baru terdiagnosis: 80 kasus pada kelompok 1, 82 kasus pada kelompok 2, 50 kasus pada kelompok 3, dan 55 kasus pada kelompok 4. Insidens diabetes terlapor paling rendah pada kelompok 1 (pengguna inhibitor TNF) dan paling tinggi pada kelompok 4 (pengguna DMARDs non-biologik lain; 50,2 per 1000 person-years). Untuk kelompok pengguna metothrexate dan hydroxychloroquine, insidens diabetes berturut-turut adalah 23,8 dan 22,2. Multivariate adjusted hazard ratio untuk diabetes tercatat sebesar 0,62 untuk kelompok 1, 0,77 untuk kelompok 2, dan 0,54 untuk kelompok 3, dibandingkan dengan pengguna DMARDs non-biologik lain (kelompok 4). Berdasarkan data observasional retrospektif ini, tim peneliti menyatakan bahwa randomized controlled trial (RCT) guna menyelidiki kemampuan agen-agen tersebut dalam mencegah diabetes pada para pasien dengan penyakit peradangan sistemik layak dipertimbangkan.   

Pada editorial penyerta, dr. Tim Bongartz dan dr. Yogish Kudva (dari Mayo Clinic College of Medicine Rochester, Minnesota) sepakat bahwa studi prospektif memang dibutuhkan untuk mengonfirmasi data observasional tersebut dan mengklarifikasi pasien mana yang bisa mendapat manfaat dari efek pleiotropik potensial agen-agen anti-inflamasi spesifik. Kedua dokter ini menegaskan, "Jika hydroxychloroquine atau inhibitor TNF dianggap bermanfaat untuk memodifikasi proses penyakit melalui intervensi tunggal, harus diselidiki lebih lanjut seberapa besar efek antidiabetik yang berpotensi untuk menghasilkan kontrol penyakit yang baik, durabilitas efek tersebut, dan timing terapi."

 

Image adopted from www.health-reply.com


Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/labro_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/bannerkcl.png
Calendar of Events