Suatu meta-analisis yang dilakukan oleh Sligl WI, dkk. yang dipublikasikan dalam Clinical Infection Disease tahun 2009 menunjukkan kortikosteroid bermanfaat untuk syok septik. Meta-analisis ini menggabungkan studi-studi acak dan observasi yang dipublikasikan dari Januari 1993 – Desember 2008. Studi ini dipilih jika mencakup mengenai kasus syok septik pada pasien dewasa, perawatan dengan kortikosteroid intravena, serta paling tidak 1 output dari ketiga hal berikut, mortalitas, pemulihan syok, dan insidens superinfeksi. Dilakukan penghitungan untuk pooled relative risks (RRs) dan confidence intervals (CIs).
Dari 8 studi acak yang mencakup 1876 pasien dipilih. Secara keseluruhan kortikosteroid tidak memberikan perbedaan yang bermakna dalam hal mortalitas dalam periode 28 hari (42.2% [369 dari 875 pasien] vs. 38.4% [384 dari 1001]; RR, 1.00; 95% CI, 0.84-1.18). Tetapi terdapat perbedaan yang bermakna dalam hal pemulihan syok dalam periode 7 hari antara yang menerima kortikosteroid dengan yang tidak menerima kortikosteroid (64.9% [314 dari 484 pasien] vs. 47.5% [228 dari 480]; RR, 1.41; 95% CI, 1.22-1.64), dengan nilai yang sama pada pasien yang merespons atau tidak merespons tes stimulasi kortikotropin.
Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal insidens superinfeksi antara pasien yang menerima kortikosteroid dengan yang tidak menerima kortikosteroid (25.3% [114 dari 450 patients] vs. 22.7% [10 dari of 441]; RR, 1.11; 95% CI, 0.86-1.42). Pemberian kortikosteroid pada kasus syok septik relatif aman serta secara signifikan mengurangi insidens syok.
Image adopted from www.healthcaretraveler.modernmedicine.com