
Kalbe.co.id - Untuk yang ke-6 kalinya, Divisi Bedah Digestif, Dept. Ilmu Bedah FKUI bekerja sama dengan PT. Kalbe Farma, Tbk mengadakan kursus nutrisi bedah dengan topik
Surgical Nutrition in Practise bertempat di G. H. Universal Hotel Bandung. Acara yang digelar pada hari Sabtu–Minggu, 31 Juli–1 Agustus 2010 ini diikuti oleh 22 peserta yang berasal dari berbagai daerah antara lain Jakarta, Bogor, Tangerang, Pontianak, Aceh dan Surabaya. Ke-22 peserta ini tidak hanya dari kalangan bedah tetapi ada pula dokter GP bedah (2 orang), GP ICU (2 orang), penyakit dalam (2 orang), anestesi (1 orang), bedah syaraf (2 orang), sisanya adalah dokter bedah (13 orang).
Acara dibuka dengan pembukaan oleh Kepada Bagian Bedah Digestif FKUI yaitu dr. Arnold Simanjuntak, SpB-KBD pada pkl 14.00 WIB. Beliau mengatakan bahwa kursus nutrisi kali ini dibuat berbeda dari kursus terdahulu dengan memperbanyak sesi workshop mengenai pemberian nutrisi sehingga diharapkan para peserta nantinya tidak hanya mengetahui teori saja tetapi dapat terampil secara aplikasi di lapangan.
Sesi pertama mengenai malnutrisi disampaikan oleh dr. Arnold Simanjuntak, SPB-KBD pula, beliau mengatakan bahwa hospital malnutrition (malnutrisi yang terjadi saat dirawat di rumah sakit) dapat terjadi sampai dengan 50% dan 12.5% di antaranya yang dapat diidentifikasi. Diharapkan setelah kursus, 100% pasien malnutrisi tersebut dapat teridentifikasi. Dari segi prevalensi, suatu studi di Inggris menyebutkan bahwa 46% pasien umum mengalami malnutrisi, disusul dengan 45% pasien yang memiliki masalah pernafasan, 27% pasien bedah dan 43% dialami pasien geriatri. Konsekuensi medis dari kejadian malnutrisi ini meliputi perubahan dalam saluran pencernaan (intestinal barrier), penurunan berat badan, wound healing yang relatif lama, imnunitas menurun, memperpanjang lama rawat di rumah sakit yang sekaligus menambah biaya yang harus dikeluarkan pasien dan ujungnya adalah menaikkan tingkat mortalitas. Maka dari itu, dr. Arnold mengungkapkan bahwa peran nutrisi sangatlah penting bagi para pasien yang dirawat di rumah sakit khususnya pada pasien bedah baik sebelum dan setelah tindakan.
Nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien mencakup makronutrisi yaitu kabohidrat, potein, lemak dan mikronutrisi yaitu vitamin, mineral serta dilengkapi juga dengan kebutuhan air, demikian diungkap oleh dr. Ibrahim Basir, SpB-KBS sebagai pembicara ke-2. Untuk mengetahui berapa jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien, tentunya seorang dokter harus mengetahui kondisi pasien dan perubahan metabolik yang dialami pasien. Hal ini disampaikan di sesi ke-3 yang dibawakan oleh dr. Benny Phillipi, SpB-KBD. Sedangkan untuk mengetahui status nutrisi pasien, perlu dilakukan penapisan nutrisi (
nutritional screening) dan penilaian (
assessment) nutrisi, demikian dikatakan oleh dr. Toar JM Lalisang. Penapisan nutrisi merupakan metode yang paling cepat untuk mengukur status gizi pasien karena dapat dilakukan secara cepat tetapi kekurangannya adalah kurang akurat dalam hasil dan sangatlah bersifat permukaan, detail seringkali tidak diikutkan sehingga penapisan harus diikuti dengan penilaian nutrisi. Salah satu cara yang sampai saat ini masih sering dipakai adalah menggunakan SGA (
Subjective Global Assessment).
Dalam kursus kali ini terdapat 12 sesi yaitu mengenai
Malnutrition and its consequences, Energy metabolism and nutritional requirements, Metabolic changes in Injury and Sepsis, Nutritional Screening and Assessment, Complications parenteral and enteral nutrition, Early vs late feeding in GI surgery, Nutritional support in surgical patient with co morbidity: liver and renal, Nutrition in Abdominal sepsis, Nutrition in patients with GI fistulae, Nutritional support in cancer patient dan The nutrition therapy team. Sesi-sesi tersebut dibawakan oleh tim dari Divisi bedah digestif FKUI yaitu dr. Arnold Simanjuntak, SpB-KB, dr. Benny Phillipi, SpB-KBD, dr . Toar JM Lalisang, SpB-KBD, dr. Agi Satria Putranto, SpB-KBD, dr. Ibrahim Basir, SpB-KBD, dr. Yarman Mazni, SpB-KBD dan pembicara dari tim gizi klinik yaitu dr. Johana Titus, M.S, SpGK.