Rating : ratings 0.0%

Penuaan Sel Perbesar Risiko Kanker

(20-Jul-2010)
Oleh: NFA
Print Preview
Penuaan Sel Perbesar Risiko Kanker Kalbe.co.id - Menurut temuan studi yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association, penuaan sel-sel meningkatkan risiko Anda mengalami kanker mematikan. Hal ini, tetap berlaku meskipun Anda masih relatif muda. Sel-sel akan tetap muda sepanjang mereka bisa memperbaiki DNA sendiri. Kemampuan ini bergantung pada telomer, protein yang terdapat di ujung tiap-tiap kromosom. Tapi, setiap kali sel bereproduksi, telomernya akan bertambah pendek.

Sel-sel yang menua dalam jumlah kecil tidak menjadi masalah. Tapi, sebuah studi baru mengejutkan menunjukkan bahwa orang-orang yang menumpuk banyak sel-sel bertelomer pendek berisiko lebih besar menderita kanker fatal.

Dibandingkan orang-orang dengan panjang telomere berada pada peringkat tiga teratas, orang-orang yang berada di urutan tiga terbawah berisiko tiga kali lipat lebih tinggi menderita kanker. Sedang orang-orang yang berada di tengah berisiko dua kali lipat lebih besar dibandingkan orang-orang dengan telomer terpanjang.

"Berdasarkan catatan, panjang telomer berkaitan dengan kanker yang mempunyai tingkat fatalitas tinggi seperti kanker lambung, paru-paru dan ovarium. Tapi tidak terlalu berkaitan dengan tumor yang memiliki prognosis lebih baik," tutur Peter Willeit MD dari Austria's Innsbruck Medical University, seperti dikutip situs webmd.com.

Orang-orang dengan panjang telomer di urutan tiga terbawah berisiko 11 kali lipat lebih tinggi meninggal akibat kanker dibandingkan orang-orang pada peringkat tiga teratas. Orang-orang yang berada di tengah berisiko 5,6 kali lebih tinggi meninggal akibat kanker.

Ukuran telomer

Selama 10 tahun, tim Willeit mengikuti 787 warga Bruneck, Italia, yang menerima semua perawatan medis di rumah sakit lokal yang sama. Partisipan berusia 40 hingga 79 dan semuanya bebas kanker di awal studi. Satu dekade kemudian, 92 partisipan telah mengalami kanker.

Secara berkala, peneliti menghitung panjang telomer rata-rata dari sel darah putih masing-masing partisipan. Peneliti menemukan beberapa hal menarik berikut:
1. Lelaki mempunyai telomer lebih pendek dibandingkan perempuan.
2. Telomer pendek berkaitan dengan risiko diabetes, infeksi kronis, dan kurangnya aktivitas fisik.
3. Telomer pendek juga berkaitan dengan risiko kanker kandung kemih, paru-paru, ginjal, dan kanker kepala dan leher serta non-Hodgkin's lymphoma.

Willeit dan teman-temannya memperkirakan bahwa telomer pendek membuat orang berusia lanjut lebih berisiko mengalami kanker. Telomer pendek, menurut peneliti, mengindikasikan penuaan sistem kekebalan tubuh.

Lebih jauh lagi, terang peneliti, sel-sel dengan telomer pendek mengaktifkan enzim telomerase sebagai upaya mengembalikan panjang telomer. Dalam proses ini, sel-sel ini kemungkinan secara tidak sengaja berubah bentuk menjadi sel-sel tumor.


Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/paxus_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/glisodin120x50
Calendar of Events