Beliau menyebutkan dengan bertambahnya usia, kadar hormon Testosteron (T) semakin menurun dan diiringi dengan keluhan dan gejala yang disebut sebagai testosteron deficiency syndrome (TDS). Penurunan produksi T pada pria lanjut usia adalah kondisi yang ireversibel sehingga memerlukan terapi jangka panjang. Sehingga kunci keberhasilan Terapi Sulih hormon Testosteron (TST) dengan demikian adalah tolerabilitas atau kepatuhan pasien.
Langkah penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien menurutnya, dengan diagnosa yang tepat tentang keluhan dan gejala yang timbul dengan harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan biokimia, memberikan informasi yang jelas tentang dosis dan lama pemberian T dan terutama melibatkan pasien dalam pemilihan preparat Testosteron.
Jenis preparat T yang efektif untuk Terapi sulih Testosteron cukup banyak antara lain Testosteron gel, patch, implant, oral dan injeksi. Ada keuntungan dan kekurangan dari masing-masing preparat tersebut.
Mengenai Trasdermal Testosteron gel, menurut dr Johannes, sangat menarik karena penggunaan dan penyesuaian dosis mudah, iritasi kulit sangat minimal sehingga menghasilkan kepatuhan pasien yang sangat memuaskan. Keuntungan lain yang sangat penting adalah waktu paruh yang pendek, sehingga optimal untuk pasien TDS lanjut usia, yang mana terjadinya insiden BPH maupun kanker prostat pada kelompok usia ini meningkat. Sehingga apabila dihentikan penggunaannya, dalam waktu 4 hari kadar Testosteron telah kembali ke kadar awal. Kekurangan dari Testosteron gel adalah harga yang relatif lebih mahal dan adanya resiko transfer ke orang lain lewat kontak fisik.
Topik mengenai Pendekatan baru untuk mengurangi stress oksidatif yang menyebabkan kerusakan sperma dibahas oleh pembicara Dr. Indra G Mansur, DHES, Sp.And (FKUI / Ketua PANDI). Stres oksidatif, menurutnya suatu ketidakseimbangan pembentukan Reaktif Oksigen Species (ROS) dengan kemampuan antioksidan tubuh yang ada untuk melawannya. ROS yang terdiri dari ion oksigen, radikal bebas, peroksida dll, dapat menyebabkan kerusakan biomolekul sel yaitu DNA, RNA, lipid dan protein.
Patofisiologi infertilitas pada pria dapat dihubungkan dengan ditemukannya stress oksidatif pada seminal plasma infertil, Superoksida anion, hidrogen peroksida dan hidroksil radikal yang dimasukan ke dalam ROS akan menyebabkan kerusakan membran sperma sehingga terjadi penurunan motilitas dan kemampuan sperma untuk berfusi dengan oocyte. Stres oksidatif diduga sebagai salah satu penyebab dari infertilitas pada pria. Banyak marker dipakai untuk mengetahui adanya stres oksidatif tetapi yang lebih mudah dideteksi didalam sel dan jaringan tertentu serta dapat juga dideteksi didalam urin dan darah. Untuk sperma dengan melihat fragmentasi sperma melalui uji Halosperma dan uji Anilin biru.
Pada acara PIT PERSANDI & PANDI, juga didukung pameran oleh beberapa perusahan farmasi dgn stand/booth antara lain PT Kalbe Farma dengan produk TOSTREX® gel, Pfizer, Bayer Schering, dan lain-lain.