
Kalbe.co.id - Studi penggunaan hormon dengan kombinasi antara Androgen dan progestogen sebagai kontrasepsi pada pria memberikan hasil yang cukup menjanjikan, meskipun masih terus disempurnakan untuk dapat diaplikasikan.
Mekanisme Androgen yang diberikan, berfungsi menekan hormon gonadotropin sehingga dapat menekan spermatogenesis dan juga untuk mempertahankan kadar testosteron darah sehingga tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti terjadinya penurunan libido pria. Sedangkan mekanisme progestogen diharapkan dapat lebih menekan hormon gonadotropin sehingga dapat lebih menekan spermatogenesis.
Sebagaimana hal yang disampaikan oleh Prof Dr. Nukman Moeloek pada acara PIT PERSANDI & PANDI di Solo bulan April 2010. Penelitian beliau mengenai kombinasi Androgen dan progestogen jangka panjang yang dilakukan oleh Prof Moeloek dkk tahun 2002, menggunakan Testosteron undekanoat (TU) dan Depot Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) pada 40 pria Indonesia, di Jakarta dan Palembang menunjukkan semua pria mencapai azoospermia.
Prof Moeloek dkk, saat ini sedang melakukan penelitian membuat TU dan DMPA menjadi satu emulsi yaitu Mikroemulsi TU/DMPA sehingga lebih mudah diterima masyarakat karena untuk aplikasinya sehingga akseptor hanya perlu satu kali disuntik setiap datang.
Demikian pula dengan penelitian oleh Dr. Gu dan rekan dari Beijing memberikan kontrasepsi pria secara hormonal yang diberikan secara injeksi selama interval 2 sampai 3 bulan. Menggunakan suntikan depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) dan testosterone undecanoate (TU) interval 8 minggu untuk menekan proses spermatogenesis pada pria China sehat. Setelah
screening awal, 30 sukarelawan pria yang sehat dipilih dan secara acak masuk dalam 3 kelompok dosis yaitu 10 orang/kelompok mendapatkan 1.000 mg TU (kelompok A); 1.000 mg TU + 150 mg DMPA (kelompok B) seta 1.000 mg TU + 300 mg DMPA (kelompok C). Semua dosis obat tersebut diberikan secara suntikan intramuskular dgn interval setiap 8 minggu Studi ini diamati dalam periode 8 minggu kontrol (
baseline), setelah 24 minggu periode pengobatan serta 24 minggu periode pemulihan. Keadaan azoospermia atau oligozoospermia yang berat tercapai dan dipertahankan pada seluruh sukarelawan selama periode pengobatan, kecuali untuk 2 pria dalam kelompok TU saja yang mengalami konsentrasi sperma yang meningkat secara rebound.
Regimen pengobatan kombinasi Testosteron Undekanoat selama 8 minggu ditambah depot MPA pada kedua kombinasi dosis tersebut efektif dalam menekan proses spermatogenesis yaitu azoospermia pada pria China. Seluruh suntikan dapat ditoleransi dengan baik; tidak ada efek samping serius yang dilaporkan. Kombinasi dosis yang lebih rendah, direkomendasikan untuk studi / tes selanjutnya untuk menilai efektivitas studi yang lebih bermakna.