
Kalbe.co.id - Henry Lik-Yuen Chan dari
Chinese University of Hong Kong dan rekan melakukan analisis prospektif untuk menyelidiki hubungan antara
genotipe HBV dan perkembangan fibrosis hati.
Studi ini mempelajari 1.106 pasien yang belum pernah menerima pengobatan untuk hepatitis B kronis. Kurang lebih separuh (524 pasien atau 49%) memiliki HBV genotipe B dan sisanya (582 pasien atau 51%) memiliki
genotipe C. Secara keseluruhan, 711 (64%) berusia lebih tua dari 40 tahun, namun usia rata-rata pasien dengan genotipe C sedikit lebih tinggi daripada pasien genotipe B (41 tahun vs 36 tahun).
Para peneliti memperkirakan tahap fibrosis dengan menggunakan
transient elastography (
FibroScan). Yang menggunakan gelombang suara untuk mengukur “kekakuan” hati. Algoritma kekakuan hati yang divalidasi digunakan untuk mendefinisikan fibrosis yang tidak bermakna (tidak ada fibrosis dan moderat) dan fibrosis lanjut.
Hasil
* 370 pasien (34%) adalah hepatitis B antigen “e”(HBeAg) positif.
* 386 peserta (35%) mengalami peningkatan serum
alanine aminotransferase (ALT).
* Peserta dengan genotipe C secara signifikan cenderung memiliki fibrosis yang tidak signifikan dibandingkan dengan genotipe B (42% vs 55%; P <0,0001).
* Sebaliknya, pasien
genotipe C lebih mungkin untuk memiliki fibrosis lanjutan dibandingkan dengan pasien genotipe B (25% vs 19%; P = 0,015).
* Perbedaan keparahan fibrosis hati antara 2
genotipe paling menonjol di antara pasien yang lebih tua dari usia 40 dan di antara mereka yang HBeAg negatif.
* Di antara pasien yang berusia lebih dari 40 tahun dan memiliki HBeAg negatif, orang-orang dengan genotipe C memiliki DNA HBV dan tingkat ALT yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe B.
HBV
genotipe C dikaitkan dengan fibrosis hati lebih parah daripada HBV
genotipe B.