Rating : ratings 0.0%

Testoteron Membantu Terapi Sindroma Klinefelter

(21-Jan-2010)
Oleh: IWA
Print Preview
Testoteron Membantu Terapi Sindroma KlinefelterKalbe.co.id - Sindroma Klinefelter merupakan suatu keadaan dimana seorang anak laki-laki mempunyai kelebihan/ ekstra kromosom  X didalam sel. Secara tradisional, perempuan mempunyai kromosom - XX dan pria  mempunyai kromosom -XY.  Laki-laki dengan sindroma Klinefelter mempunyai XXY, sehingga dengan kelebihan/ ekstra kromosom menyebabkan seorang anak laki menghasilkan lebih sedikit hormon Testosteron daripada anak laki dengan kromosom XY saja.  Kekurangan hormon Testosteron menyebabkan pubertas yang terlambat, sedikit massa otot, sedikit rambut, genital yang lebih kecil, infertilitas, pertumbuhan payudara, perkembangan motorik yang terlambat, kesulitan dalam bahasa dan membaca, perasaan malu secara social dan juga pengurangan kekuatan tulang.

Menurut American Association for Klinefelter Syndrome Information & Support, Sindroma Klinefelter dapat terjadi pada  1 dari  500 laki-laki.
Pengobatan dengan  hormon testosteron seharusnya secara ideal diberikan sekitar masa pubertas, biasanya  12 - 14 tahun. Selain itu pengobatan, dapat dimulai pada waktu dewasa, dimana secara umum penderita sindroma  Klinefelter yang tidak terdiagnosa mencari pengobatan fertilitasnya.  
Pengobatan Testosteron dapat diberikan dalam bentuk suntikan, diminum maupun dengan penggunaan topikal, salah satunya testosteron gel.                      

Tujuan atau sasaran pengobatan adalah menormalkan kadar testosteron pada pria untuk mencapai level yang normal, yang dapat menstimulasi dari perkembangan karakter kejantanan / maskulinisasi seperti perubahan suara, tumbuhan rambut pada tubuh, meningkatnya perkembangan dari otot dan alat genital.  Hasil pengobatan menjadi lebih efektif, bila diberikan pada waktu anak laki-laki mencapai masa pubertas, hal ini juga dapat mencegah terjadinya pertumbuhan payudara pada anak tersebut, yang biasa disebut sebagai ginekomastia, untuk meningkatkan kekuatan tulang dan merangsang massa otot.  Ketika menjalani pengobatan dengan testosteron, kemungkinan pembesaran penis masih ada, namun tidak membuat pembesaran ukuran testis serta tidak membuat pria  menjadi fertile.

Menurut the National Institute of Child Health and Development, sekitar 95 - 99 %  pria dengan sindroma Klinefelter adalah  infertil, namun pengobatan fertilitas kadang dapat menolong laki-laki dengan sindroma Klinefelter. Pengobatan hormone Testosteron kadang dapat dikombinasi dengan konseling psikologis, latihan berbicara dan berkomunikasi untuk anak remaja  dapat menolong mereka untuk menyesuaikan emosional dilingkungannya. Selain itu, pembedahan masih dapat dilakukan pada pria yang mempunyai ginekomastia, dengan memindahkan jaringan payudara yang berlebih. 

Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/glisodin120x50
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/banner_default_120x50
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/zegase_(120x50)
Calendar of Events