
Kalbe.co.id - Dalam pertemuan TCT (
The Transcatheter Cardiovascular Therapeutics) 2009 (TCT merupakan forum bidang intervensi kardiovaskular), dr Jason H. Rogers dari
UC Davis Medical Center, Sacramento, California, Amerika Serikat, mengumumkan mengenai dimulainya penelitian ZEN (
Zotarolimus-Eluting Peripheral Stent System for the Treatment of Erectile Dysfunction in Males with Sub-Optimal Response to PDE5 Inhibitors), yang bertujuan untuk meneliti efek penggunaan zotarolimus-eluting stent sebagai terapi bagi pasien-pasien penderita disfungsi ereksi. Penelitian ZEN ini berada di bawah pengawasan FDA (
Food and Drug Administration) Amerika Serikat dan melibatkan 9 rumah sakit di Amerika. Penelitian ZEN akan meneliti manfaat pemasangan stent pada 50 pasien pria yang telah gagal diterapi dengan
phosphodiesterase-5 (PDE-5) inhibitors. Pada pasien-pasien ini diketahui adanya penyakit arteri pudendal melalui pemeriksaan angografi.
Pemikiran yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ZEN adalah hasil penelitian PANPI (
the Pelvic Angiography in Non-Responders to PDE-5 Inhibitors), yang memperlihatkan adanya hubungan angiografik antara penyakit jantung koroner dengan penyakit arteri pudendal. Dalam penelitian PANPI ini, 10 pasien yang mengalami gejala penyakit jantung koroner dan memiliki respon yang buruk terhadap terapi
PDE-5 inhibitors menjalani pemeriksaan angiografi koroner dan angiografi pelvis. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penyumbatan (stenosis) yang terjadi pada arteri koroner sangat mirip dengan penyumbatan pada arteri pudendal. Kisaran rata-rata penyumbatan adalah 52% pada arteri pudendal interna kanan, hingga 60% arteri pudendal interna kiri. Para ahli penelitian PANPI menyimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara penyakit jantung koroner dengan penyakit arteri pudendal, sehingga, pemasangan stent, yang hingga kini dilakukan pada kasus-kasus penyumbatan pembuluh koroner, dapat juga dipasang pada pembuluh darah pudendal.
Dr. Jason menambahkan bahwa 4 dari 5 kasus disfungsi ereksi disebabkan karena gangguan vaskular dan disfungsi ereksi memiliki faktor risiko yang sama dengan penyakit jantung koroner, seperti umur, diabetes, hipertensi, dislipidemia dan merokok. Hingga 70% pria dengan penyakit jantung koroner juga mengalami disfungsi ereksi.
Dr. Jason mengatakan bahwa hinggi kini belum ada penelitian yang meneliti efek pemasangan stent pada arteri pudendal dan mengingatkan bahwa pemasangan stent yang akan dilakukan dalam penelitian ini akan dilakukan pada arteri pudendal, bukan pada penis.
Penelitian ZEN ini membuka era baru kerja sama antara ahli kardiologi dengan ahli urologi. Tentunya hasil penelitian ZEN ini akan menarik sekali, karena dalam penelitian sebelumnya, PANPI, pada peserta penelitian lebih tertarik mengenai hasil angiografi pembuluh pudendalnya dibandingkan dengan hasil angiografi pembuluh darah koronernya. Hasil penelitian ZEN diharapkan dapat dipublikasikan pada tahun 2011.
Berdasarkan hasil penelitian PANPI diperkirakan adanya kesamaan profil angiografi antara pembuluh darah koroner dengan pembuluh pudendal di daerah pelvis. Berdasarkan hasil penelitian PANPI tersebut, dilakukan penelitian ZEN, yang meneliti apakah pemasangan stent pada pembuluh pudendal juga akan bermanfaat seperti pada pemasangan stent pada pembuluh darah koroner.