
Kalbe.co.id - Stem Cell / sel punca adalah obat masa depan. Secara kodrati, manusia akan menjadi tua. Jika penyakit infeksi bisa ditanggulangi dengan antibiotika, maka penyakit denegeratif –sampai saat ini diketahui - hanya bisa disembuhkan sel punca. Demikian penjelasan dr Boenjamin Setiawan pada acara "
International Conference on Science and Technology in Biomass Production 2009". Acara yang diselenggarakan oleh Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB) tersebut berlangsung tanggal 25 - 26 November 2009 di
West Hall of Insitut Teknologi Bandung.
Sasaran ICEBP 2009Menurut informasi yang diperoleh dari pihak panitia, ada 3 sasaran penyelenggaraan acara berskala internasional ini yaitu:
- Memberikan sumbangan pada pemecahan problem nasional berupa tingginya ketergantungan pada produk dan teknologi impor di sektor bioindustri. Untuk mencapai sasaran tersebut akan dikembangkan model kerjasama universitas-bioindustri untuk perbaikan teknologi produksi biomasa dan pengembangan produk baru (bio-based products) terutama melalui kerjasama riset dengan bioindustri, serta kerjasama penguatan basis teknologi pada usaha kecil dan menengah (UKM) penghasil produk berbasis biomasa. Dalam kerangka program ini, SITH akan berperan sebagai in-campus research & development (R & D) bagi bioindustri dan sebaliknya bioindustri akan berperan sebagai in-industry laboratory bagi SITH.
- Mendorong berkembangnya kerjasama riset antara universitas-bioindustri di Indonesia sehingga dapat memacu percepatan perbaikan teknologi produksi biomasa dan pengembangan produk baru. Hal ini akan dilakukan melalui pelibatan peneliti dari universitas lain dalam kerjasama SITH-bioindustri, diseminasi atau penyebaran model kerjasama serta melakukan sharing pengalaman dalam membangun dan melaksanakan kerjasama dengan bioindustri.
- Memberikan kontribusi pada perbaikan kualitas tenaga kerja di sektor bioindustri dengan memperkuat kompentensi dan daya adaptasi lulusan SITH yang akan memasuki pasar kerja bioindustri.
Acara yang dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Thailand, Nigeria, Turki, Bangladesh, China "dimeriahkan" dengan
teleconference dari salah satu nara sumber yang berhalangan hadir di Bandung, yaitu Patrick Sorgeloos dari Ghent Univerisity Belgium.
Dalam acara tanya jawab, dr Boen menganjurkan agar semua pihak (terutama universitas) bisa melakukan riset yang lebih
applied / aplikatif (bisa segera menghasilkan) dengan tidak melupakan riset-riset dasar dan jangka panjang. "Ini penting karena kita masih berada dalam negera berkembang", lanjut
founder dari
Stem Cell and Cancer Institute (SCI) tersebut. SCI merupakan salah satu model bagaimana industri turut juga berperan dalam bidang riset.
Dalam
Poster Session, SCI bersama-sama dengan Departemen Mikrobiologi FK Maranatha Bandung dan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila turut mempresentasikan hasil karya penelitiannya yang berjudul "
Expansion and Modulation of Mesenchymal Stem Cell using Curcuma domestica Linn"
Pada akhirnya, baik para pembicara maupun peserta sama-sama menyadari bahwa kerjasama pelbagai pihak yang sudah terlihat ini sebaiknya diteruskan dengan langkah konkrit.