
Kalbe.co.id - Sebuah tes
viral load baru yang dirancang untuk rangkaian miskin sumber daya dapat diandalkan sebagaimana alat tes yang baku. Hal itu berdasarkan laporan dalam
Journal of Acquired Immunodeficiency Syndromes. Tes baru itu, tes
ExaVir Load dirancang oleh Cavidi sebuah perusahaan Swedia, hasilnya dapat diandalkan, contoh darah dapat cukup sedikit saja – 0,25 ml, menunjukkan bahwa tes itu dapat dipakai untuk tes pediatrik. Namun, hasil tes itu hanya sesuai pada orang dengan
viral load di atas 1.000, peneliti mencatat.
Cavidi sudah memproduksi alat tes
viral load yang murah sejak 2002, dan peneliti menguji alat tes
ExaVir Load versi 2 dan 3. Peneliti menemukan bahwa biaya rata-rata tes
ExaVir Load termasuk seluruh perlengkapannya adalah seperlima dari harga tes
Amplicor COBAS buatan Roche.
Tes itu lebih murah dan sederhana dibandingkan tes
viral load yang baku karena tes itu tidak mendeteksi jumlah produk akhir replikasi virus –
viral load – tetapi menghitung jumlah perubahan genetika virus, sebagaimana diukur oleh panjangnya untaian DNA yang dihasilkan oleh enzim
reverse transcriptase virus. Produksi untaian DNA itu diukur berdasarkan jumlah antibodi monoklonal yang mengikat DNA yang baru terbentuk.
ExaVir adalah murni tes secara kuantitatif yang menghitung jumlah reverse transcription sehingga tidak dapat mendeteksi jenis RNA virus yang sedang diproduksi. Oleh karena itu, tes itu tidak dapat mendeteksi mutasi yang resistan terhadap obat atau subtipe HIV – tetapi seharusnya mampu mendeteksi subtipe baru yang mungkin terlewatkan oleh tes
viral load yang baku.
Peneliti mengambil 221 contoh darah dari pasien AIDS dewasa yang mengunjungi bagian penyakit infeksi di rumah sakit Alfred di Melbourne, Australia. Peneliti juga mengambil 27 contoh darah anak HIV-positif di bawah usia 18 bulan yang merupakan bagian dari penelitian MTCT di Nairobi, Kenya.
Peneliti menemukan bahwa secara keseluruhan sensitivitas tes ExaVir lebih rendah dibandingkan COBAS. Namun, ExaVir mendekati sensitivitas COBAS untuk
viral load di atas 1.000 dan sensitivitasnya sama untuk
viral load di atas 10.000. ExaVir mendeteksi 94% contoh darah dengan
viral load di atas 1.000 tetapi hanya mendeteksi 55% contoh darah dengan
viral load antara 50 dan 400. Hal itu dibandingkan dengan sensitivitas 95% untuk
viral load di atas 53 dengan alat tes model terakhir versi otomatis Amplicor COBAS (Perrin).
Tes ExaVir dirancang untuk bekerja dengan jumlah contoh darah satu mililiter. Namun, jumlah itu tidak mudah didapatkan pada kasus pediatrik dan di beberapa daerah di rangkaian miskin sumber daya.
Peneliti menemukan sedikit perbedaan pada keandalan hasil yang hanya memakai contoh darah sejumlah 0,5 dan 0,25ml. Perbedaan rata-rata
viral load pada lebih sedikit contoh darah dilaporkan sebagai minus 0,14 log (-30%) apabila memakai alat tes versi 2 dan plus 0,06 log (+15%) apabila memakai alat tes versi 3. Perbedaan antara alat tes versi 2 dan 3 adalah proses yang lebih cepat – versi 3 memerlukan kurang lebih 90 menit untuk memperoleh hasil dibandingkan tiga jam dengan versi 2.
Peneliti menemukan bahwa biaya ExaVir seperlima biaya COBAS. Penelitian sebelumnya (Stewart) menemukan bahwa satu tes ExaVir biayanya 15-20 dolar AS. Tes
viral load yang baku diiklankan dengan harga 40-50 dolar AS per tes, tetapi penelitian terhadap tes Amplicor COBAS menemukan bahwa apabila seluruh biaya laboratorium diperhitungkan maka biaya per tes adalah 127-148 dolar AS (Germer). Tes
viral load yang baku juga memerlukan ruang tes
viral load khusus untuk menghindari pencemaran; hal ini tidak menjadi diperlukan pada tes ExaVir.
Biaya 20 dolar AS masih cukup mahal di rangkaian miskin sumber daya; tes
viral load dua kali per tahun dengan biaya tersebut akan menambah 10-20% nilai ARV per tahun, tergantung rejimen yang dipakai. Namun demikian, pemerintah Botswana baru-baru ini memesan 22.020 ExaVir, atau satu untuk setiap lima orang yang saat ini memakai ART di sana.