
Kalbe.co.id - Bertempat di hotel JW Marriott Surabaya, pada tanggal 28 – 30 Mei 2009 diselenggarakan Kongres Nasional Perkumpulan Andrologi Indonesia (PANDI) ke X serta Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI) Ke II.
Acara ini selain dihadiri oleh Kepala BKKBN Pusat Bp. Dr. Sugiri S, Gubernur Jawa Timur, serta para undangan lainnya, juga ketua yayasan Damandiri yang merupakan mantan Menko Kesra RI serta mantan kepala BKKBN Pusat Prof. Dr. Haryono Suyono yang memberikan kuliah umum mengenai Kontrasepsi pria kepada para peserta Kongres Nasional ini.
Sebelum pembukaan acara KONAS PANDI X dan PERSANDI II ini didahului kegiatan workshop satu hari mengenai Infertilitas serta sex & men’s health yang diikuti kurang lebih 170 peserta. Kegiatan kongres nasional ahli andrologi seluruh Indonesia sendiri tercatat diikuti oleh 300 peserta seperti yang disebutkan oleh Ketua Panitia, Dr. Hudi Winarso, M.Kes, Sp.And.
Beberapa pakar ahli Andrologi dari dalam negeri seperti Prof. Arif Adimulya, Prof Wimpie Pangkahila, Prof. Alex Pangkahila, Prof. OS Tendean dll., hadir dalam kongres ini, demikian juga beberapa pembicara dari luar negeri seperti Prof Gordon Baker dari Australia serta Prof. Aw Tar Choon dari Singapura.
Dalam kongres nasional PANDI / PERSANDI ini banyak topik serta simposium yang menarik mengenai kesehatan seksual pada pria , seperti : Testosterone Deficiency Syndrome (TDS),
Testosterone replacement therapy, Infertilitas, kebugaran seksual , Disfungsi Ereksi, kontrasepsi pria dsb.
Salah satu topik yang dikemukan pada kongres tersebut adalah topik Penuaan dan Testosteron pada kesehatan pria, seperti yang dikemukakan oleh Dr. Johannes Soedjono, Sp.And :
Sebagian besar pria usia 50-60 tahun mengalami petanda klinis penurunan virilitas, seperti penurunan kemampuan fisik, kekuatan otot, osteopenia dan fungsi seksual. Kekurangan hormon Testosterone yang dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada defisiensi Testosteron yang berkepanjangan akan menyebabkan penurunan densitas tulang, peningkatan insiden fraktur, penurunan massa otot, peningkatan lemak, peningkatan gangguan depresi serta disfungsi seksual. Untuk menegakan diagnosa TDS ini para peneliti menggunakan hasil pemeriksaan biokimia dan secara klinis. Batas terendah plasma Testosteron total adalah 11 nmol/l (315 ng/dl), 0,225 nmol/l (6,5 ng/dl) dan untuk testosteron yang biologis aktif adalah 5 nmol/l ( 140 ng/dl) sedangkan klinis dengan kuesioner yang diberi nama
The St. Louis University Androgen Deficiency in aging Males (ADAM) questionnaire, yaitu 10 pertanyaan terkait dengan libido yang berkurang, penurunan energi, ukuran ketinggian tubuh yang berkurang, bagaimana dengan ereksi, kemunduran dalam kualitas hidup, dsb.
Beberapa suplementasi Testosteron pada pria lanjut usia dengan menggunakan Testosteron oral seperti Testosterone undecaonate (TU), injeksi (parenteral) dengan Testosteron Enanthate serta yang lain adalah bentuk Transdermal / Gel yaitu Testosterone gel 2% (setara dengan 20 mg testosteron per gram gel) yang memberikan keuntungan seperti dapat segera dihentikan apabila terjadi efek samping serta lebih praktis dan nyaman untuk pasien.
Topik lain mengenai kontrasepsi pria, berdasarkan yang dikemukakan oleh pembicara Dr. Indra G Mansur, DHES, Sp.And, saat ini para ilmuwan sedang mengembangkan kontrasepsi hormonal pria untuk menekan spermatogenesis guna mengatur atau mencegah kehamilan. Perkembangan kontrasepsi melalui pendekatan imunologi sangat mendesak dibutuhkan disebabkan hal tersebut tepat sasaran dan alami. Respon imun tubuh manusia ini bisa bereaksi melawan semua komponen penting yang menyebabkan kehamilan.
Antigen fungsional dari spermatozoa manusia terdiri dari M42, PH-20, PH-30, MS207, fertilin, Sp-17, Sp-10, LDH-C4 dan FA-1. Pada saat ini, banyak penelitian sedang dilakukan untuk antisera antigen tersebut. Hasil dari beberapa penelitian pada beberapa laboratorium sudah menciptakan vaksin terhadap fungsi antigen tersebut.
Pada kebugaran seksual dan latihan kebugaran, Prof. Dr. Tendean, Sp.And. mengemukakan berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ternyata tidak semua latihan kebugaran seksual dapat meningkatkan kebugaran seksual, misalnya latihan lompat katak, untuk otot paha dan panggul, dapat menyebabkan varikokel pada pria. Varikokel adalah pelebaran vena daerah skrotal, menyebabkan gangguan fungsi testis, sehingga kualitas sperma terganggu dan dapat menyebabkan ketidaksuburan / infertilitas pada pria sebesar 8 -23 %. Itu sebabnya latihan lompat katak untuk kebugaran fisik maupun kebugaran seksual tidak lagi dianjurkan.
Topik yang juga tidak kalah menarik adalah topik mengenai aspek stem-cell / sel punca yang dibawakan oleh Prof. Aw Tar Choon dari Singapura, beliau mengemukakan sel punca sudah memasuki area praktek klinik. Adapun penelitian saat ini dari Blood stem cell (BSC) digunakan dalam kelainan darah, serta pilihan baru pengobatan seperti penyakit jantung, Diabetes, penyakit hati serta gangguan yang berkaitan dengan degenerasi saraf (neurodegenerative disorder).