Hemapo
HEMAPO mengatasi anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang terjamin
Composition
Setiap mL larutan berisi :
Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) ..... 3.000 IU dan 10.000 IU
Pharmacology
Erythropoietin endogen adalah faktor pertumbuhan yang merupakan suatu hormon protein yang disekresikan terutama oleh sel interstisial peritubular ginjal. Pada orang dewasa, kurang lebih 10% dari erythropoietin endogen disintesa oleh hati dan juga beberapa tempat di luar ginjal.
Sekresi erythropoietin terjadi akibat suatu mekanisme umpan balik, yaitu sebagai respon terhadap turunnya tekanan oksigen arterial dan atau vena dan juga karena penurunan oksigenasi jaringan di ginjal. Pada kondisi dimana pasokan oksigen menurun, terjadi aktivasi pada sensor oksigen di ginjal yang kemudian mensintesa protein yang berikatan dengan gugus aktif dari gen erythropoietin dan merangsang sintesa erythropoietin. Peningkatan produksi sel darah merah pada akhirnya akan menormalkan kembali oxygen carrying capacity, yang pada akhirnya akan menormalkan kembali oksigenasi jaringan.
Pada penderita penyakit gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal stadium akhir, didapatkan anemia normositik normokromik dan penurunan jumlah retikulosit yang disebabkan oleh defisiensi erythropoietin. Defisiensi erythropoietin ini disebabkan karena berkurangnya massa ginjal yang diperlukan untuk mensintesa hormon.
Indication
Pengobatan anemia yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialysis dan non dialysis
Contra Indication
• Hipertensi berat yang tidak terkontrol
• Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.
• Hipersensitif terhadap human albumin
Warning
• Pengobatan pertama dianjurkan dilakukan dibawah pengawasan dokter
• Hati-hati bila diberikan pada keadaan anemia refrakter dengan pembentukan blast yang berlebihan, epilepsi, trombositosis, dan gagal ginjal kronik
• Defisiensi asam folat dan vitamin B12 dapat menurunkan efektivitas erythropoietin
• Kelebihan aluminium akibat pengobatan gagal ginjal dapat mengurangi atau bahkan menghambat efektivitas erythropoietin
• Pengunaan erythropoietin untuk pasien nefrosklerosis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual, karena kemungkinan dipercepatnya progresivitas gagal ginjal tidak dapat dipastikan.
• Sebaiknya kadar kalium dan fosfat dalam serum dimonitor secara teratur selama terapi erythropoietin
• Penggunaan pada wanita hamil dan menyusui: penelitian pada hewan percobaan tidak menemukan adanya efek teratogenik.
Adverse Reaction
-Sistem Kardiovaskular
Pasien anemia dengan gagal ginjal kronis: efek samping tersering selama terapi erythropoietin adalah naiknya tekanan darah atau makin memburuknya hipertensi yang telah ada sebelumnya, terutama peningkatan PVC yang cepat. Bila kenaikan tekanan darah tidak dapat dikontrol dengan pemberian obat-obatan, dianjurkan untuk menghentian terapi erythropoietin. Lakukan pengawasan secara berkala (terutama pada awal masa terapi) terhadap kemungkinan timbulnya krisis hipertensi dengan gejala ensepalopati (seperti sakit kepala, ganguan motor-sensorik, dll), karena keadaan inipun dapat terjadi pada pasien dengan tekanan darah normal atau rendah. Sakit kepala menyerupai migraine yang timbulnya mendadak perlu mendapat perhatian khusus karena mungkin merupakan suatu pertanda.
-Darah
Pasien anemia dengan gagal ginjal kronis: Pasien anemia dengan gagal ginjal kronis: Tergantung pada dosis yang diberikan, pengobatan erythropoietin dapat menyebabkan peningkatan jumlah platelet (meskipun masih dalam batas-batas normal), khususnya pada pemberian secara IV, dan akan pulih kembali seiring berlanjutnya terapi. Dianjurkan untuk melakukan pengawasan jumlah platelet secara berkala dalam 8 minggu pertama terapi. Seringkali diperlukan peningkatan dosis heparin selama hemodialis sebagai akibat dari meningkatnya kadar hematokrit. Pada umumnya, turunnya kadar ferritin dalam serum seiring dengan naiknya kadar hematokrit, sehingga pada pasien dengan kadar serum ferritin < 100 g/L atau saturasi transferrin <20% dianjurkan untuk diberikan preparat besi 200 mg/hari per oral. Dapat terjadi peningkatan sementara kadar kalium dan fosfat dalam serum, sehingga sebaiknya kedua parameter ini juga monitor secara berkala.
-Lain-lain
Meskipun jarang sekali, dapat dijumpai reaksi kulit seperti rash, pruritus, dan urtikaria; sakit kepala, artralgia, mual, edema, fatigue, diare, muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. Pada kasus yang di isolasi, dilaporkan terjadinya reaksi anafilaktik. Akan tetapi, pada studi klinis terkontrol tidak ditemukan adanya peningkatan insiden reaksi hipersensitivitas.
Dosage
Larutan dapat diberikan secara IV atau SC.
Fase Koreksi :
Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0.5%/minggu), dapat dilakukan penyesuaian setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/kg/minggu, tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu.
Dosis untuk pasien non dialysis : 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian.
Fase Pemeliharaan :
Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%, sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis berkurang menjadi 2/3 dosis semula). Sebaiknya kadar hematokrit dimonitor setiap 2-4 minggu sehingga dapat dilakukan penyesuaian
dosis secara berkala untuk mempertahankan kadar Ht yang optimum dan mencegah erythropoiesis yang terlalu cepat.
Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang, akan tetapi pengobatan ini dapat dihentikan setiap saat.
Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis dosis sebaiknya dipertimbangkan secara individual.
Direction
Larutan dapat diberikan secara IV atau SC.
Stability
Simpan dalam lemari es, suhu 2-8 derajat C. Terlindung dari cahaya.
Jangan dibekukan dan dikocok
Presentation
Box isi pre-filled syringe 3.000 IU/mL; 10.000 Iu/mL