64.Filariasis
14/05/2007
.gif)
Bagi sementara orang, filariasis menypakan. penyakit yang hanya didengar ceritanya saja taa pernah melihat sendiri penderitanya. Penyakit ini memang sejenis penyakit parasit yang penyebarannya tidak merata, melainkan terkonsentrasi di beberapa kantong-kantong wilayah tertentu. Meskipun demikian, penyakit ini tetap merupakan masalah kesehatan yang penting, karena menyebabkan kerugian masyarakat berupa penurunan produktivitas penderitanya, apalagi sarana pemberantasannya sebenarnya sudah cukup tersedia. Adanya kendala yang di-jumpai di lapanganlah yang mengakibatkan mash terdapatnya daerah-daerah endemik filariasis sampai saat ini. Edisi kalil ini menampilkan kumpulan makalah yang pernah dibahas pada Seminar Penyakit Menular yang diadakan oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular Departemen Kesehatan RI beberapa waktu yang lalu, ditambah dengan artikel yang membahas aspek imunologi dan bioteknologinya. Seminar tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi yaitu : Karena keterbatasan biaya operasi untuk pemberantasan filariasis, maka sejak tahun anggaran 1987 - 1988 pelaksanaânnya diserahkan ke Puskesmas dengan melakukan pengobatan bagi penderita yang berobat ke Puskesmas setempat. Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka forum diskusi simposium filariasis memandang perlu untuk menyiapkan penanggulangan filariasis di tingkat Pus-kesmas. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah sebagai berikut : 1) Petugas Puskesmas dengan memakai indikator gejala klinis: adenolimfangitis dan elephantiasis, dapat memperkirakan adanya filariasis di suatu daerah atau desa. 2) Suatu desa yang diperkirakan merupakan daerah endemis, dianjurkan melaksanakan pemeriksaan darah jari 20 ul pada malam hari, dari sejumlah 10% dari penduduknya. 3) Bila hasil pemeriksaan darah.menunjukkan mikrofilaremia 5% atau lebih dari jumlah yang diperiksa, maka sebaiknya dilakukan pengobatan massal dengan biaya dari Daerah. 4) Pengobatan massal dianjurkan dengan dosis rendah yang diberikan secara berkala sampai dicapai dosis total Dietilkarbamasin sejumlah 4 g untuk B. malayi dan 6 g untuk W. bancrofti lama pengobatan ditetapkan oleh kebijaksanaan dokter Puskesmas. Pe-ngobatan tersebut dianjurkan dengan peran serta masyarakat. 5) Vektor potensialdi daerah endemis ini perlu ditentukan, untuk mengetahui tempat perindukannya. Selanjutnya bila memungkinkan dilakukan pengendalian lingkungan dengan kerjasama lintas sektoral khususnya bidang pertanian. 6) Evaluasi pengobatan dianjurkan dilaksanakan 3 tahun setelah pengobatan. 7) Memasukkan Dietilkarbamasin dalam daftar obat essensial filariasis obat Inpres Pus-kesmas.
3.
Program Pemberantasan Filaria di Indonesia
Penulis :
Isrin Ilyas
4.
Masalah dalam Pemberantasan Filariasis di Indonesia
Penulis :
Sri Oemijati
5.
Aspek Epidemiologi Filariasis yang Berhubungan dengan Pemberantasannya
Penulis :
M. Sudomo
6.
Aspek Sosio Budaya dalam Penanggulangan Filariasis
Penulis :
Kasnodihardjo
7.
Beberapa Aspek Imunologi dan Bioteknologi dalam Penanggulangan Masalah Filariasis
Penulis :
Liliana Kurniawan
8.
Identifikasi Komponen Protein Mikrofilaria B malayi dan hubungannya dengan Status Kliniko Parasitologik dari Filaria
Penulis :
Basundari Sri Utami
9.
Nutritional Polyneuropathy in Surabaya and its Surrounding
Penulis :
Djoenaidi Widjaja
11.
Pola Preskripsi Obat yang Dikaitkan dengan Diagnosis di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Kelas C, Kelas D, dan Puskesmas
Penulis :
Retno Gitawati
12.
Kunjungan Pasien Kanker di Unit Rawat Jalan Beberapa Rumah Sakit di Indonesia
Penulis :
Reflinar Rosfein
15.
Kegiatan Ilmiah
Penulis :
CDK
16.
Kalender Kegiatan Ilmiah
Penulis :
CDK
18.
Pengalaman Praktek
Penulis :
CDK
19.
Humor Ilmu Kedokteran
Penulis :
CDK