Harapan tersebut memang tidak bisa dicapai dalam waktu semalam, melainkan butuh proses panjang. Lebih-lebih jika anak-anak menganggap sains sebagai sesuatu yang berat, identik dengan buku-buku tebal dan teori-teori yang rumit.
Oleh karena itu, anak-anak perlu diberi pengalaman eksploratif yang menyenangkan,seperti bermain di alam sambil diperkenalkan dengan dunia sains,atau menunjukkan bahwa sains pun lekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, rasa ingin tahu anak terpicu sehingga mereka berusaha mencari jawabannya sendiri.
Her-Mann Tsai, seorang peneliti dan penemu dari Singapore Science Center mengatakan bahwa yang penting dalam sebuah inovasi adalah bagaimana anak-anak mau menggali informasi atas pertanyaan mereka sendiri. Hal tersebut dikatakannya saat talkshow di acara Junior Science Fair (JSF) di Assembly Hall Jakarta Convention Center, 10-11 September 2011.
Sang Juara
JSF adalah pameran education dan entertainment (edutainment) yang digelar sebagai puncak perayaan HUT ke-45 PT Kalbe Farma Tbk. Dalam acara tersebut, digelar bermacam atraksi dan pertunjukan, salah satunya Kalbe City yang memperkenalkan dunia sains yang diterapkan dalam industri farmasi, nutrisi serta logistik dan distribusi. Didukung oleh Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) dan Singapore Science Center, acara tersebut juga menampilkan berbagai atraksi seperti pembuatan pesawat dari kertas dan pertunjukan sulap secara sains.
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Irawati Setiady mengatakan, dari pengalaman Kalbe sebelumnya, yang telah dua kali mengadakan lomba riset untuk orang dewasa bekerja sama dengan Kemenegristek, Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA) menyimpulkan bahwa iklim penelitian di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, meneruskan tradisi, Kalbe ingin masuk ke bagian yang lebih hulu yaitu anak-anak SD. “Diharapkan jika kecintaan terhadap sains dan penelitian sudah muncul sejak dini, pada masa depan anak-anak yang telah akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini bisa memajukan dan rnengangkat derajat bangsa dan negara kita menjadi bangsa yang besar dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia,” kata Irawati.
Untuk mendukung harapan tersebut, Kalbe juga menggelar Junior Scientist Award, program yang ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar di Indonesia (kelas IV-VI SD) untuk menampilkan sekaligus menjadi ajang kompetisi dari hasil karya dan kreativitasnya di bidang sains.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak Indonesia bahwa ilmu pengetahuan bukan sesuatu hal yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang menyenangkan, mengasyikkan, dan mudah.
Aktivitas JSA telah dimulai pada 10 Mei 2011, dan dari 199 karya yang masuk, tim juri memilih 18 tim yang diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan penelitian mereka. Selain mengikuti acara penjurian pada tanggal 22 Juli 2011, dalam rangka Hari Anak Nasional, ke-18 finalis JSA bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono, serta Menteri Pendidikan Nasional RI Prof. Dr. Mohammad Nuh.
Selanjutnya, pada 25 Juli 2011 dipilih 9 pemenang yang menampilkan karya mereka pada ajang JSF. Di sini, pengunjung JSF bisa memilih pemenang favorit dengan cara mengklik komputer di masing masing stan.
Dari hasil voting selama dua hari penyelenggaraan JSF, keluarlah nama Raynor Baruna Reksa Ananta dan Miura Chanda dari SD Kuntum Cemerlang-Bandung dengan judul karya Win on Zero: Permainan Matematika Melatih Mencari Selisih sebagai pemenang favorit, mengalahkan delapan pemenang lain dalam perolehan suara.
Seluruh pemenang Junior Scientist Award mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 10 juta dan piala. Sementara itu Raynor dan Miura (pemenang favorit) mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 20 juta. Selain hadiah untuk pemenang, Kalbe juga memberikan hadiah Rp 10 juta kepada masing-masing sekolah sebagai tanda penghargaan atas upaya sekolah mendukung para pemenang mengikuti lomba tersebut.