Yualdo Yudoprawiro, analis dari Samuel sekuritas merekomendasikan saham Kalbe Farma. Dengan pertumbuhan kinerja perseroan yang positif, KLBF dianggap pantas dihargai premium karena fundamental yang solid dan menjadi pemimpin pasar untuk produk farmasi. “Menggunakan terminal growth 5% dan WACC 15,7%, target harga berdasarkan DCF adalah Rp2.600 per saham, dengan potensi penguatan 16%,” katanya.
Saat ini, harga KLBF diperdagangkan pada Price Earning (P/E) 2010-2011 sebesar 15,14 kali- 13,73 kali. Pertumbuhan pendapatan hingga 2014 diperkirakan mencapai 30% CAGR. ROA untuk 2010 diproyeksikan menjadi 24% dan akan naik menjadi 27% pada 2011. “Rekomendasi beli untuk emiten ini,” ujarnya.
Kalbe Farma adalah perusahaan farmasi publik terbesar dengan pertumbuhan kinerja yang kuat. Perseroan memasarkan dan menjual produk di 6 pasar utama di Asia Tenggara. Perseroan melaporkan penjualan CAGR sebesar 19,25% dari 2000–2009. “Hal ini menunjukkan konsistensi dalam pertumbuhan tahunan,” imbuh Yualdo.
KLBF pun memiliki pendapatan kuat dengan margin yang sehat. Pendapatan perseroan tumbuh 31,4% YoY hingga 2009, didukung marjin laba bersih sebesar 10% dan permintaan elastis atas obat bebas di Indonesia, yang banyak digunakan konsumen untuk pengobatan sendiri.
Selain itu, perseroan juga memiliki neraca yang kuat dengan posisi kas bersih dan ROAE ( Imbal Hasil Ekuitas Rata-rata ) konsisten sebesar 23% untuk 2009. Hal ini juga didukung manajemen yang solid dan ekuitas merek yang kuat.
Total pertumbuhan penjualan KLBF pada kuartal pertama 2010 pun mencapai 10%, kenaikan laba operasional 25,5% dan pertumbuhan pendapatan bersih 20,4%. Dengan membaiknya ekonomi dan penguatan rupiah, diharapkan adanya kinerja yang lebih baik pada 2010.
Marjin laba bersih diproyeksikan akan meningkat 2% di 2011 dan pendapatan naik 15% - 16%, “Kami yakin pendapatan dapat tumbuh menjadi 17% pada tahun 2010 dan 18% pada tahun 2011,” pungkasnya.
Senada dengan pengamat pasar modal Alfiansyah. Menurutnya, pertumbuhan bisnis emiten farmasi punya prospek bagus. Terihat dari aktivitas bisnis yang terintegrasi dari produksi hingga distribusi, yang akhirnya menjadi salah satu keunggulan KLBF dibanding produsen obat-obatan lainnya.
Selain itu, rencana aksi korporasi, berupa akuisisi perusahaan farmasi lokal dan beberapa di negara Asia Tenggara, membuat valuasi aset perusahaan di masa depan akan meningkat.
Alfiansyah pun memperkirakan harga saham KLBF hingga akhir kuartal tiga akan bertengger pada level Rp2.250 per lembar.
“Mereka sudah siap ekspansi ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika, karena tingkat kesehatan rakyat rendah. Di sini ada peluang untuk pemasaran obat-obatan dan makanan kesehatan,” ucapnya. [mdr]