Tim tersebut juga menyimpulkan bahwa sabun antibakteri tersebut sebenarnya dapat berisiko karena dapat mengurangi efektivitas beberapa antibiotika yang umum digunakan seperti amoksisilin. Hal itu dikarenakan tidak seperti sabun antibakteri yang digunakan pada rumah sakit dan klinik lainnya, sabun antibakteri yang dijual ke masyarakat umum tidak mengandung konsentrasi triklosan yang cukup tinggi untuk membunuh bakteri seperti E.coli. Konsentrasi triklosan dalam sabun antibakteri di pasaran adalah 0,1-0,45%.
Menurut Allison Aiello dari U-M School of Public Health, E.coli dapat bertahan hidup pada konsentrasi triklosan dalam sabun antibakteri yang diformulasi untuk konsumen. Jadi sabun yang mengandung triklosan yang digunakan di masyarakat tidak lebih efektif dibanding sabun biasa dalam mencegah gejala penyakit infeksi.
Lebih lanjut, studi ini juga menemukan bahwa sabun antibakteri yang dijual ke masyarakat tidak menghilangkan lebih banyak bakteri dari tangan dibanding sabun biasa.
Triklosan bekerja pada jalur biokimia dalam bakteri yang menyebabkan bakteri
mempertahankan dinding selnya tetap utuh. Hal tersebut menyebabkan dapat
terjadinya mutasi pada lokasi target. Aiello mengatakan bahwa mutasi dapat
berarti bahwa triklosan dapat tidak lagi mencapat lokasi target dalam waktu
yang lebih lama untuk membunuh bakteri karena bakteri dan jalur biokimianya
telah berubah bentuk, sehingga bakteri menjadi resisten terhadap
antibiotika. Perubahan tersebut belum terdeteksi pada tingkat populasi,
tetapi E.coli dalam percobaan laboratorium menunjukkan resistensi
jika dipaparkan sabun triklosan 0,1%.
Analisis
tersebut menyimpulkan bahwa badan regulator pemerintah sebaiknya
mengevaluasi klaim dan iklan produk antibakteri dan mendorong penelitian
lebih lanjut. Sedangkan FDA tidak secara formal mengatur kadar triklosan
yang digunakan dalam produk konsumen.
Produk
antiseptik lain di pasaran yang mengandung bahan aktif lain seperti alkohol
dan bahan sanitasi tangan tidak diteliti dan bahan-bahan aktif tersebut
tidak diisukan.