Wanita dengan kehamilan tunggal secara acak menerima vitamin D3 dengan dosis 400, 2.000, atau 4.000 IU pada usia kehamilan 12 hingga 16 minggu dan berlanjut hingga melahirkan. Kecukupan kadar 25(OH)D yang berada pada sirkulasi maternal dan neonatal pada saat kelahiran merupakan tujuan utama penelitian, sementara tujuan sekundernya adalah untuk mencaoai kadar 25(OH)D sebesar 80 nmol/L atau lebih dan kadar 25(OH)D yang dibutuhkan untuk mencapai produksi maksimal 1,25(OH)2D. Jumlah subjek penelitian yang mengikuti penelitian hingga melahirkan adalah 350 wanita dari 494 wanita yag direkrut. Kelompok yang mendapat suplementasi memiliki beragam nilai rerata 25(OH)D pada saat melahirkan dan 1 bulan sebelum melahirkan (p <0,0001), demikian pula dengan proporsi subjek penelitian yang mengalami kecukupan vitamin D (p <0,0001).
Untuk kelompok yang menerima 2.000 IU dibandingkan dengan kelompok yang mendapat 400 IU, risiko relatif untuk mencapai kadar 25(OH)D lebih dari 80 nmol/L dalam 1 bulan setelah melahirkan berbeda secara bermakna (RR 1,52; 95% CI 1,24 – 1,86). Hal ini juga berlaku untuk kelompok yang menerima 4.000 IU dibandingkan dengan kelompok yang menerima 400 IU (RR 1,60; 95% CI 1,32 – 1,95), tetapi tidak demikian untuk kelompok yang menerima 400 IU dibandingkan dengan yang menerima 2.000 IU (RR 1,06; 95% CI 0,93 – 1,19). Terdapat efek langsung dari konsentrasi 25(OH)D plasma pada konsentrasi 1,25(OH)2D plasma selama periode kehamilan (p <0,0001), dengan produksi 1,25(OH)2D tertinggi pada kelompok yang menerima 400 IU.
Simpulannya, suplementasi vitamin D dengan dosis 4.000 IU per hari merupakan dosis paling efektif dalam mencapai kecukupan kebutuhan vitamin D pada semua wanita dan janinnya. Selain itu, pemberian vitamin D dengan dosis 2.000 IU dan 4.000 IU per hari aman tanpa efek samping yang timbul selama kehamilan.
Image adopted from www.worldpulse.com