Penelitian baru ditampilkan dalam Jurnal Neurology bulan Agustus baru-baru ini. Sebagai bagian dari studi cross-sectional, peneliti mewawancarai lebih dari 5.500 siswa tentang keluhan sakit kepala. Para remaja juga mengisi kuesioner dan menjalani pemeriksaan klinis dengan pengukuran tinggi dan berat badan. Peneliti selanjutnya mengelompokkan remaja yang sangat sehat secara fisik dan tidak perokok sebagai memiliki gaya hidup yang baik. Faktor gaya hidup negatif menunjukkan hal yang menakjubkan dengan aktivitas fisik rendah pada 31%, merokok pada 19%, dan kelebihan berat badan pada 16% remaja.
Dalam analisis multivariat disesuaikan, sakit kepala berulang dikaitkan dengan rasio kelebihan berat badan (odds [OR], 1,4; kepercayaan 95% interval [CI], 1,2-1,6; P<0,0001), rendahnya aktivitas fisik (OR, 1.2; 95% CI, 1,1-1,4; P = 0,002), dan merokok (OR, 1.5; 95% CI, 1,3-1,7; P<0,0001). Adanya lebih dari 1 faktor gaya hidup negatif akan meningkatkan risiko sakit kepala. Studi ini menunjukkan kelebihan berat badan, aktivitas fisik yang sedikit, dan merokok yang secara sendiri ataupun kombinasi berhubungan dengan nyeri kepala berulang di kalangan remaja, jelas peneliti.
Dr Hershey dariUniversity of Cincinnati di Ohio dan Dr Lipton dariAlbert Einstein College of Medicine di Bronx, New York. Mereka menyimpulkan pengaruh setiap faktor gaya hidup negatif yang sama besarnya untuk setiap jenis sakit kepala. "Kurangnya spesifisitas untuk jenis sakit kepala meningkatkan kemungkinan bahwa faktor-faktor ini dapat dikaitkan tidak hanya dengan sakit kepala tapi dengan semua penyebab rasa sakit." Hasil ini mirip dengan studi lainnya yang dipublikasikan dalam Journal Headache pada bulan Juni. Peneliti yang dipimpin oleh Rudiger von Kries, MD, dari Ludwig-Maximilians-University di Munich, Jerman, menemukan bahwa aktivitas fisik dan tidak mengkonsumsi alkohol, kafein, dan tembakau bisa membantu mencegah sakit kepala pada remaja. Studi ini melibatkan 1.260 mahasiswa, dan setelah mengontrol variabel sosial ekonomi, prevalensi sakit kepala pun meningkat pada remaja yang melaporkan secara teratur minum koktail (OR, 2.0; 95% CI, 1,3-3,0), yang minum setidaknya 1 cangkir kopi per hari (OR, 2.0; 95% CI, 1,2-3,5), dan yang secara fisik kurang aktif (OR, 2.0; 95% CI, 1,3-3,1). Merokok sehari-hari memiliki OR sebesar 1,8. Dr Andrew Hershey dan Dr Richard Lipton mengatakan bahwa "penelitian ini merupakan langkah penting menuju pemahaman yang lebih baik dari pengaruh gaya hidup dan potensi dari intervensi perilaku untuk remaja dengan gangguan sakit kepala."
Temuan ini, seru editorialis, menunjukkan bahwa pemahaman lebih baik dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor pencetus mungkin dapat sebagai stategi intervensi yang baru.