Efek silymarin terhadap saluran cerna ini diantarannya dikarenakan kemampuan silymarin merangsang aktivitas antioksidan pankreas, efek ini memberikan hasil positif pada hewan coba. Pemberian silymarin pada hewan coba akan mencegah peningkatan kadar gula darah dan mencegah terjadi hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah).
Bagaimana efek antidiabetes dari silymarin ini pada studi klinis, ada beberapa studi penggunaan baik pada gangguan hati maupun pada diabetes melitus tipe II. Diantaranya adalah studi yang dilakukan oleh Velussi dkk, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Therapeutic Research, pada studi tersebut silymarin diberikan sebesar 600 mg selama 12 bulan pada pasien gangguan hati yang disertai dengan diabetes dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden masing-masing kelompok (obat vs plasebo). Dari studi pertama ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang bermakna dari parameter rata-rata gula darah puasa, rata-rata kadar gula darah harian, serta kadar HbA1c, serta penurunan kebutuhan insulin jika dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Sedangkan pada studi lain adalah studi dilakukan oleh Husaeini dkk, studi ini dipublikasikan dalam jurnal Phytotherapy Research adalah studi pemberian silymarin pada penderita diabetes mellitus tipe II. Studi yang melibatkan sebanyak 25 subyek pada kelompok yang mendapat silymarin (200 mg 3x sehari) dan sebanyak 26 subyek pada kelompok plasebo. Pemberian silymarin selama 4 bulan. Pada akhir studi menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang bermakna kadar HbA1c, kadar gula darah puasa, total kolesterol dan LDL,trigliserida serta transaminasi pada kelompok yang mendapat silymarin dibandingkan dengan plasebo.
Dari studi-studi tersebut para penulis menyimpulkan bahwa bahwa silymarin mempunyai potensi yang luas diantarannya termasuk juga adanya efek antidiabetogenik serta efek penghambatan peroksidasi lemak.