Bayi preterm di US yang memerlukan transfusi eritrosit diperkirakan sebanyak 300 ribu setiap tahunnya. Dan jumlah angka transfusi eritrosit ini mencapai sebanyak 80% dari total bayi lahir dengan berat kurang dari 1.000 gram, dan kondisi inilah yang disebut dengan anemia akibat prematuritas dan tentunya dengan pemberian agen yang bersifat eritropoiesis diharapkan akan membantu perkembangan bayi yang lahir prematur tersebut. Namun apakah pemberian EPO pada bayi dengan anemia prematuritas ini akan membantu tumbuh kembangnya dalam jangka panjang ?.
Suatu studi yang bertujuan menilai perkembangan neurologis pada bayi lahir rendah (ELBW) yang mendapatkan rEPO (recombinant human eritropoetin), pada usia sekolah dilakukan sejak tahun 1993 sampai tahun 1998. Selama kurun waktu tersebut diperoleh data sebanyak 171 (86%) bayi lahir rendah yang mendapat terapi rEPO, dan dari sebanyak bayi tersebut diperkirakan sebesar 148 (87%) yang diikuti sampai dengan usia antara 10 – 13 tahun. Perkembangan neurologis dan hasil belajar di sekolah dari bayi-bayi yang sebelumnya mendapatkan rEPO pada minggu-minggu pertama kehidupannya (n=89) dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan rEpo (n=57). Penilaian yang lainnya diantaranya meliputi korelasi antara pengobatan rEPO dengan kejadian perdarahan intraventrikuler, serta parameter lainnya adalah perkembangan neurologis yang diukur dengan Hamburg-Wechsler Intelligence Test for Children-III (HAWIK-III) dengan skala Intelligence Quotient (IQ) sebagai variabel dependen.
Dari studi tersebut ternyata memberikan hasil bahwa kelompok yang mendapatkan rEPO secara bermakna mempunyai hasil yang lebih baik untuk semua parameter perkembangan (55% vs 39% dari perkembangan normal, p < 0.05), begitu juga dari parameter psikologis dengan parameter yang dinilai adalah skor rata-rata HAWIK-III IQ masing-masing untuk kelompok rEPO vs non-rEPO yaitu 90.8 vs 81.3, p < 0.005. Sedangkan dari analisis ANOVA menunjukkan bahwa perdarahan intraventrikuler pada kelompok yang mendapatkan rEPO secara bermakna lebih baik daripada yang tidak mendapatkan rEPO (52% vs 6% perkembangan normal, skor HAWIK-III IQ, 90.3 vs 67.0). Kelompok pengobatan dan kelompok kontrol sebanding dalam hal prognosis perinatal.
Dari hasil studi observasi tersebut menunjukkan ataupun sebagai konfirmasi hipotesis dalam hal efek rEPO sebagai neuroprotektor pada BBLR (berat bayi lahir rendah) dengan perdarahan intraventrikuler. Dan tentunya hasil ini memberikan harapan dalam terapi pencegahan pada bayi dengan risiko tinggi.