
Kalbe.co.id - Anemia adalah salah satu penyakit komorbid yang sering ditemui pada pasien-pasien dengan gagal jantung kronik simtomatik dan berkaitan dengan kualitas hidup yang buruk. Selain itu anemia pada gagal jantung kronik merupakan faktor risiko independen yang kuat dalam meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Patofisiologi dari anemia pada gagal jantung kronik adalah terjadinya defisiensi absolut atau juga defisiensi relatif dari eritropoietin dan defisiensi besi. Sehingga diperkirakan pemberian eritropoietin sebagai agen penstimulasi eritropoiesis (
erythropoiesis stimulating agent) merupakan hal yang rasional.
Sebuah meta-analisis dilakukan untuk melihat efek dari terapi anemia dengan menggunakan eritropoietin terhadap fungsi jantung pada pasien-pasien gagal jantung kronik. Dengan pengukuran objektig adalah fraksi ejeksi ventrikel kiri, kelas gagal jantung menurut NYHA, durasi latihan, jarak berjalan selama 6 menit, volume O2 puncak, kadar BNP,
Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ)
score,
Kansas City Cardiomyopathy Questionnaire (KCCQ) dan
Patient's Global Assessment (PGA).
Dari 116 artikel yang ditelusuri terdapat 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dari tahun 2001 sampai 2008 dengan total pasien sebanyak 678 pasien dimana 371 pasien menerima terapi eritropoietin dan 307 pasien sebagai grup kontrol.
Dari hasil meta analisis ini, 3 artikel menyimpulkan bahwa terdapat perbaikan pada fraksi ejeksi ventrikel kiri saat anemia telah terkoreksi (p=0,0007). Kualitas hidup pasien yang diukur dengan PGA juga mengalami perbaikan setelah terapi anemia (OR 2,55 p=0,05). Kelas NYHA, durasi latihan, jarak berjalan selama 6 menit, volume O2 puncak, kadar BNP dan perubahan skor KCCQ juga mengalami perbaikan pasca terapi pada kelompok pasien dengan terapi eritropoietin.
Sehingga dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwaTerapi anemia dengan eritropoietin terbukti secara bermakna meningkatkan fungsi jantung pada pasien gagal jantung kronik.