Rating : ratings 0.0%

Risperidone Dosis Rendah untuk Terapi Serangan Panik

(21-Jun-2010)
Oleh: ASL
Print Preview
Risperidone Dosis Rendah untuk Terapi Serangan PanikKalbe.co.id - Berdasarkan DSM-IV, serangan panik didefinisikan sebagai episode paroksismal dari perasaan takut dan tidak nyaman dan disertai dengan gejala gangguan somatik dan kognitif yang muncul pada keadaan normal dimana tidak ada gangguan atau ancaman lingkungan yang nyata. Berbagai penelitian neurobiologi membuktikan bahwa adanya peran sistem neurotransmiter serotonergik dan noradrenergik pada serangan panik.

SSRI (Selective serotonine reuptake inhibitor) digunakan secara luas untuk serangan panik. Paroxetine sebagai salah satu obat golongan SSRI melalui berbagai uji klinis RCT (randomized clinical trial) dinilai efektif untuk terapi gangguan panik dan juga mengurangi gejala pada serangan panik.

Sejak tahun 1993 risperidone telah disetujui oleh FDA sebagai obat untuk terapi psikosis dan skizofrenia. Risperidone mempunya mekanisme kerja dalam menghambat aktivitas reseptor dopamine D2 dan serotonin sehingga dianggap mempunyai efek anxiolitik. Berbagai uji klinis menunjukkan efek anxiolitik dari risperidone pada pasien-pasien gangguan cemas, depresi dengan komorbid gangguan cemas, gangguan cemas yang resisten terhadap berbagai terapi pada geriatri, gangguan cemas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder) ditemukan pada dosis yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dosis yang digunakan untuk psikosis.

Sebuah uji klinis melakukan perbandingan antara terapi risperidone dosis rendah dengan paroxetine untuk terapi serangan panik. Disain dari uji klinis ini adalah acak, tersamar tunggal (single-blind), kontrol obat (dalam hal ini paroxetine digunakan sebagai kontrol) dengan durasi selama 8 minggu. Subjek yang dimasukkan dalam studi ini sebanyak 56 pasien dengan serangan panik yang diacak untuk menerima terapi risperidone dosis rendah (n=33) dan paroxetine (n=23). Prosedur intervensi yang diberikan adalah untuk risperidone terapi dimulai dengan dosis 0,25 mg/hari, dinaikkan menjadi 0,5 mg/hari pada hari ke 3 untuk pasien yang belum remisi dari gejala panik dan diturunkan menjadi 0,125 mg/hari pada hari ke 3 untuk pasien yang mengalami efek samping sedasi. Terapi paroxetine dimulai dengan dosis 30 mg/hari dan dosis dinaikkan jika belum ada remisi dari gejala. Dosis maksimal yang diperbolehkan untuk risperidone adalah 16 mg/hari dan untuk paroxetine adalah 60 mg/hari.

Selama durasi 8 minggu, follow up yang dilakukan sebanyak 10 kali yaitu pada hari pertama sebelum intervensi, hari ketiga, hari ke tujuh dan selanjutnya sekali seminggu untuk minggu ke 2 sampai ke 8. Pengukuran objektif yang dilakukan adalah skor HAM-D-17 (skor yang dinilai oleh dokter untuk menilai gejala depresi), skor HAM-A (skor yang dinilai oleh dokter untuk menilai gejala cemas/anxietas), skor PDSS (skor yang dinilai oleh dokter untuk menilai gejala serangan panik), skor SPAS-P (skor yang dinilai oleh pasien untuk menilai gejala cemas/anxietas) dan skor CGI (skor yang dinilah oleh dokter untuk menilai kondisi keseluruhan dari pasien).

Hasil dari penelitian ini adalah untuk skor PDSS, HAM-A dan HAM-D, kedua kelompok terapi menunjukkan penurunan bermakna untuk skor akhir. Pada akhir studi tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok terapi risperidone dosis rendah dan paroxetine. Untuk skor SPAS-P, kelompok terapi risperidone mendapatkan jumlah skor rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok terapi paroxetine tetapi perbedaan ini tidak bermakna.

Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok terapi dari penilaian perbaikan skor PDSS, HAM-A, HAM-D dan CGI. Efek samping yang ditemukan pada kelompok terapi risperidone dan paroxetine tidak berbeda bermakna.Kesimpulan dari penelitian ini adalah risperidone dosis rendah mempunyai efektifitas yang sama dengan paroxetine untuk terapi serangan panik.

Dari sesi diskusi dari penelitian beberapa hal yang menarik adalah, rata-rata dosis risperidone pada uji klinis ini adalah 0,53 mg/hari dan tidak ada pasien yang mendapatkan terapi risperidone dengan dosis diatas 1 mg/hari. Jika dibandingkan dengan dosis untuk terapi psikosis, maka dosis diatas kurang dari setengahnya. Sehingga dengan dosis yang rendah inilah dapat mengurangi kejadian efek samping.

Kelemahan dari studi ini adalah durasi studi yang singkat hanya 8 minggu sehingga tidak memberikan data mengenai efektifitas dan keamanan jangka panjang dari penggunaan risperidone pada serangan panik. Selain itu jumlah sampel yang masih relatif kecil.

Kesimpulan
  1. Serangan panik adalah episode paroksismal dari perasaan takut dan tidak nyaman dan disertai dengan gejala gangguan somatik dan kognitif yang muncul pada keadaan normal dimana tidak ada gangguan atau ancaman lingkungan yang nyata.
  2. Paroxetine sebagai salah satu obat golongan SSRI melalui berbagai uji klinis RCT (randomized clinical trial) dinilai efektif untuk terapi gangguan panik dan juga mengurangi gejala pada serangan panik.
  3. Risperidone dosis rendah mempunyai efek anxiolitik
  4. Penelitian menunjukkan bahwa terapi risperidone dosis rendah pada pasien dengan serangan panik mempunyai efikasi yang tidak berbeda bermakna dengan paroxetine dengan efek samping yang minimal.

Bookmark and Share

Related Articles:

http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/kalxetin_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/zypraz_(120x50)
http://www.kalbe.co.id/files/product/banner/zofredal_(120x50)
Calendar of Events