
Kalbe.co.id - Orang-orang yang menggunakan ibuprofen berisiko 40 persen lebih kecil menderita penyakit Parkinson. Namun perlu studi lebih lanjut untuk menyatakan bahwa ibuprofen mampu mencegah parkinson.
Setelah enam tahun bergelut dengan 293 kasus penyakit Parkinson terdiagnosis, peneliti menemukan, pengguna ibuprofen berisiko 40 persen lebih kecil menderita parkinson dibandingkan mereka yang tidak menggunakan ibuprofen. Selain itu, studi juga menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih banyak tablet ibuprofen per minggu berisiko lebih kecil menderita parkinson dibandingkan mereka yang menggunakan lebih sedikit.
Efek ibuprofen terhadap risiko penyakit parkinson, terang peneliti, tetap sama terlepas dari faktor usia, kebiasaan merokok, dan penggunaan kafein.
Peneliti menemukan bahwa obat pereda rasa sakit tersebut merupakan satu-satunya dari kelas
nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) yang mempunyai efek terhadap penyakit parkinson.
"Jenis NSAIDs dan analgesik lainnya, termasuk aspirin dan acetaminophen, tidak mempunyai efek dalam menurunkan risiko penyakit parkinson," terang peneliti Xiang Gao, MD, dari
Harvard School of Public Health di Boston."Diperlukan studi lanjutan untuk melihat bagaimana dan mengapa ibuprofen mengurangi risiko penyakit parkinson," imbuh Gao, seperti dikutip situs
webmd.com.
Studi yang akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunan
American Academy of Neurology pada April mendatang ini melihat efek penggunaan ibuprofen atau jenis NSAIDs lainnya dalam menurunkan risiko penyakit parkinson. Peneliti melibatkan 136.474 partisipan laki-laki dan perempuan. Semua partisipan bebas dari parkinson di awal studi.
Hasil studi ini, lanjut peneliti, tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara ibuprofen dan penyakit parkinson. Sama seperti jenis NSAIDs lainnya, ibuprofen bisa menyebabkan perdarahan usus dan mengganggu ginjal. Peneliti menyimpulkan bahwa diperlukan studi lanjutan untuk menentukan potensi ibuprofen dalam mencegah parkinson.