
Kalbe.co.id - Perempuan dengan HIV lebih berisiko terhadap virus papiloma pada manusia (human papillomavirus/HPV), yang dapat menyebabkan perubahan sel pada leher rahim (displasia atau neoplasia). Kanker leher rahim adalah keadaan terdefinisi AIDS, tetapi kemungkinan perempuan HIV-positif meninggal akibat kanker leher rahim tidak lebih tinggi dibandingkan perempuan HIV-negatif, yang disokong oleh skrining secara rutin yang dapat mendeteksi perubahan prakanker sejak dini dan pada stadium yang lebih dapat diobati.
Definisi kanker leher rahim
Kanker leher rahim: Kanker di jalur masuk rahim. Leher rahim adalah bagian rahim yang lebih bawah dan sempit. Rahim adalah rongga, organ berbentuk buah pear yang terletak di bagian bawah perut perempuan, di antara kandung kemih dan dubur. Leher rahim membentuk kanal terbuka menuju vagina, yang menuju ke bagian luar tubuh.
Pada tes Pap biasa – dipakai sejak 1040-an- petugas klinis mengambil contoh sel leher rahim yang dioleskan pada piringan kaca dan diperiksa dengan mikroskop. Memakai cara yang lebih baru yang disetujui pada 1996, disebut sitologi berbasis cairan (merek ThinPrep), sel leher rahim dibilas dengan cairan pengawet sebelum diperiksa, contoh yang sama juga dapat dites untuk menemukan keberadaan HPV. Sebagian besar ginekolog di AS memakai tes ThinPrep.
Peneliti dari Belanda dan Belgia melakukan penelitian untuk menilai kinerja sitologi berbasis cairan yang dibandingkan dengan sitologi Pas yang biasa untuk mendeteksi cervix intraepithelial neoplasia (CIN) yang dikonfirmasi secara histologi.
Uji coba terkontrol ini melibatkan 89.784 perempuan berusia 30-60 tahun yang terlibat dalam program skrining leher rahim di 246 klinik keluarga. Antara April 2004 dan Juli 2006, 122 klinik ditunjuk untuk menskrining dengan memakai sitologi berbasis cairan pada 49.222 pasien, sementara 124 klinik ditunjuk menskrining dengan memakai tes Pap biasa pada 40.562 pasien.
Peserta ditindaklanjuti selama 18 bulan hingga akhir Januari 2008. Hasil ukuran yang utama adalah tingkat deteksi CIN dan nilai prediktif positif (positive predictive value/PPV) dengan memakai kedua sistem sitologi tersebut.
Hasil
* Rasio tingkat deteksi yang disesuaikan untuk CIN grade 1 atau lebih tinggi adalah 1,01, menunjukkan bahwa kedua metode itu secara fungsional adalah setara.
* Rasio tingkat deteksi untuk CIN grade 1 atau lebih tinggi adalah 1,00 (lagi-lagi, secara fungsional adalah setara).
* Untuk mendeteksi CIN grade 3 atau lebih tinggi, tingkat rasio adalah 1,05 (juga setara)
* Namun, untuk mendeteksi kanker leher rahim yang sesungguhnya, tingkat rasio adalah 1,69.
* Rasio PPV yang disesuaikan, diperhitungkan pada beberapa proses sitologi dan untuk berbagai hasil CIN, tidak berbeda secara bermakna dari satu, atau setara.
* Satu dari 100 Pap smear harus diulang karena kesalahan atau tidak terbaca, dibandingkan dengan satu dari 200 tes sitologi berbasis cairan.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menulis, “Penelitian ini menunjukkan bahwa sitologi berbasis cairan tidak lebih baik dibandingkan dengan tes Pap biasa dalam kaitannya dengan sensitivitas relatif dan PPV untuk mendeteksi tanda awal kanker leher rahim.”
Peneliti menunjukkan bahwa “cara sitologi berbahan cairan tidak lebih baik untuk mendeteksi prakanker leher rahim dibandingkan Pap smear yang dilakukan dengan baik,” tulis Mark Schiffman dan Diane Solomon dalam tajuk rencana bersama. “Uji coba itu mengonfirmasi meta-analisis ini yang juga tidak menunjukkan peningkatan ketepatan dengan memakai sitologi berbasis cairan.”
Namun, mereka mencatat, sementara ThinPrep lebih mahal, tes itu “lebih disukai di sebagian besar laboratorium karena contohnya dapat dipetakan dengan lebih mudah dan lebih cepat di bawah mikroskop.” Mereka juga berpendapat bahwa sitologi leher rahim dapat ditinggalkan karena tes HPV secara langsung, khususnya dengan kian meningkatnya jumlah perempuan yang terjangkau oleh vaksin HPV yang baru-baru ini disetujui.