CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
91
TINJAUAN PUSTAKA
dan perilaku maka dapat dipastikan bahwa gangguan tersebut
dapat diperberat atau dicetuskan oleh alergi makanan. Selanjutnya
dilakukan eliminasi provokasi untuk mencari penyebab alergi
makanan tersebut satu persatu.
Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam penanganan
alergi makanan sesuai dengan pengalaman klinis tiap ahli atau
peneliti, sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan
diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani alergi
makanan pasien autisme. Banyak kasus pengendalian alergi
makanan tidak berhasil optimal, karena hanya berdasarkan
pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas.
Penanganan pasien autis yang disertai alergi makanan haruslah
dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan.
Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan
alergi tersebut. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan
terbaik dalam penanganan alergi makanan. Perlunya obat anti
alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti gagal
mengendalikan penyebab alergi makanan.
PENATALAKSANAAN DIET PASIEN AUTIS
Beradasarkan teori bahwa alergi makanan dapat menjadi penyebab
autisme serta pentingnya vitamin atau mineral untuk memper-
baiki gejala autis, diperlukan edukasi kepada orang tua pasien.
Diet saat ini adalah bebas gluten dan kasein (GFCF- Gluten Free-
Casein Free). Gluten adalah sejenis kasein yang banyak ditemu-
kan pada biji berbagai sereal seperti terigu atau gandum,
gandum yang biasa dipakai dalam pembuatan bir serta gandum
hitam. Kasein merupakan protein penting susu.
Diet yang paling ideal adalah pemberian sejenis gandum oat
yang sampai saat ini masih dipakai sebagai standar. Penting
diperhatikan bahwa oat yang ditanam sering terkontaminasi
dengan biji padi yang mengandung gluten, jadi sulit sekali
mendapatkan oat yang murni. Dikatakan hanya kurang lebih
5% oat murni yang saat ini bisa digunakan atau dikonsumsi.
Sudah banyak dijual tepung GFCF, yang dapat langsung
digunakan sebagai bahan baku makanan atau dibuat biskuit
atau sediaan yang lain. Selain itu berbagai produk bebas gluten
dan kasein telah banyak dijual baik berupa produk yang sudah
jadi, antara lain berupa roti atau tepung yang beraneka ragam
jenisnya. Yang juga penting adalah tidak mengandung zat
tambahan seperti pewarna, pemanis atau pengawet dalam
setiap makanan.
VITAMIN & SUPLEMEN
Selain diet Bebas Gluten dan Bebas Kasein (GFCF), juga perlu
diberi terapi suplemen yaitu:
a) Vitamin B6 dan Magnesium.
Hasil analisis Cochrane, yang berhasil mengumpulkan penelitian
kecil sebelum tahun 2002 yang menilai peranan vitamin B6 dan
Magnesium sebagai terapi autisme, menyatakan bahwa masih
dibutuhkan pembuktian lagi untuk penggunaannya karena
kebanyakan penelitian jumlah pasiennya kecil dan bermasalah
dalam kualitas dan metodologi penelitian. Namun demikian dari
hasil kebanyakan penelitian sejak tahun 1965, dosis vitamin B6
yang disarankan adalah dosis besar 0,2 - 1 gram perhari, dan
yang banyak digunakan adalah 500 mg/hari
b) N-Dimethylglycine
Meski tidak berbeda bermakna, penelitian berskala kecil yang
pernah dipublikasikan hasilnya secara kuantitatif efektif.
c) Asam Folat
Penting sebagai zat esensial untuk memperbaiki proses metabo-
lisme, dengan dosis 0,5 0,7 mg/kgbb./hari)
d) Kalsium
Kalsium dan Magnesium sangat rendah kadarnya dalam tubuh
pasien autis.
e) Vitamin B3
f) Vitamin C
Dapat dipakai sebagai antioksidan, memperbaiki jalur biosintesis
kofaktor dan enzim yang penting untuk sistem neurotransmiter.
Makin tinggi dosis, makin bermanfaat mengurangi gejala autis.
Hasil studi awal menunjukkan bahwa dosis yang memberikan
manfaat adalah : 8 gram/70 kgbb./ hari.
g) Zinc/Seng
Penting untuk pemeliharaan fungsi otak, sistem gastrointestinal
dan sistem imun pasien autis. Dosis : 2 mg/kgBB/hari, maksimum
50 mg/hari
h) Asam Lemak Esensial
DHA, Omega 3 dan Omega 6 juga telah dibuktikan dapat mem-
perbaiki gejala pasien autis.
i) Vitamin A
Digunakan untuk perbaikan jaringan baik di usus, otak dan
berbagai jaringan yang lain.
j) Selenium
Dosis yang dianjurkan adalah 1 4 mcg/kg/hari, terutama dalam
bentuk L-selenomethionine.
k) Melatonin juga bisa diberikan sebelum tidur, dengan dosis
0,1 mg/kgbb. jika sulit tidur.
HORMON SECRETIN
Secretin adalah sejenis hormon peptida yang dihasilkan oleh kelenjar
S di duodenum. Gluten ternyata dapat menurunkan kadar hormon
Secretin, sehingga penting menambah kadar hormon tersebut.
Saat ini sedang dikembangkan preparat secretin dosis tunggal untuk
memperbaiki problem gastrointestinal pada pasien autis.
w w w. k a l b e . c o . i d