background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
482
Sel punca hematopoetik
Sel punca hematopoetik dalam perkembangannya dapat meng-
hasilkan sel pembentuk darah. Sel tipe hematopoetik merupakan
tipe sel punca yang sejak lama telah digunakan dalam terapi
keganasan darah (leukemia). Strategi terapi ini memungkinkan
dilakukannya kemoterapi dosis tinggi yang dapat mengeliminasi
sel abnormal (ablasi) pada penderita keganasan.
Populasi sel yang `tereliminasi' oleh kemoterapi akan digantikan
oleh sel punca hematopoetik yang ditransplantasikan. Namun
perlu diperhatikan bahwa selama populasi sel belum ter'gantikan',
pasien berada dalam kondisi yang sangat rentan untuk terkena
infeksi sehingga diperlukan perawatan di fasilitas "isolasi terbalik"
yang dapat menjamin kondisi yang aseptik. Saat ini fasilitas
ruang "isolasi terbalik" masih jarang dimiliki oleh rumah sakit di
Indonesia dan hal ini seringkali membuat biaya transplantasi sel
punca menjadi sangat tinggi.
Sel punca hematopoetik memiliki molekul yang khas pada per-
mukaan selnya, yaitu molekul glikoprotein CD34. Molekul
penanda ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menghitung
jumlah sel punca hematopoetik yang berhasil diisolasi dari ber-
bagai sumber di atas. Bahkan dalam penggunaannya dalam terapi
keganasan, telah ditentukan jumlah CD34 yang direkomendasikan
oleh ASBMT (American Society for Blood and Marrow Transplan-
tation) dan ISCT (International Society for Cellular Therapy)
bahwa untuk meningkatkan angka keberhasilan engraftment
dari sel yang ditransplantasikan diperlukan setidaknya 5 x 10
6
CD34+ cells/kg berat badan. Oleh karena itu, fasilitas laborato-
rium terpercaya yang dapat menghitung jumlah sel CD34+
(CD34 enumeration) menjadi mutlak diperlukan untuk trans-
plantasi jenis ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan bahwa + 80% dari
sel punca CD34+ juga mengekspresikan penanda CD133.
Sel dalam populasi CD34+/CD133+ dikenal dengan sebutan
hemangioblast yang dalam perkembangannya dapat berdi-
ferensiasi menjadi turunan sel hematopoetik (heme) dan sel
pembangun pembuluh darah (angio).
Hal ini dipertegas dengan temuan Asahara et al yang melapor-
kan bahwa populasi sel tersebut merupakan sel tipe Endothelial
Progenitor Cell/EPC (Gambar 4a). Lebih lanjut, EPC merupakan
sel progenitor yang bertugas meregenerasikan sel endotel dalam
pembuluh darah (Gambar 4b). Oleh karena itu, jumlah EPC
dalam sirkulasi peredaran darah dilaporkan mengindikasikan
besarnya risiko terjadinya artherosklerosis maupun kejadian
kardiovaskular mayor.
Gambar 4. (a) Tampilan Endothelial Progenitor Cells (EPC) dalam kultur
secara in vitro membentuk koloni dengan morfologi yang khas dengan
sebutan colony Hill's
Gambar 4.(b) Pembuluh darah dilapisi oleh selapis sel endotel. Endothelial
Progenitor Cells (EPC) merupakan populasi sel yang melakukan regenerasi sel
endotel pembuluh darah.
Sel punca mesenchymal
Sel punca mesenchymal merupakan tipe sel punca yang dalam
perkembangannya dapat menghasilkan tendon, stroma
sumsum tulang, tulang rawan, tulang keras, dan sel adiposa. Sel
tipe ini memiliki sifat khas yaitu tidak memiliki molekul HLA kelas
II, sedangkan HLA kelas I hanya diekspresikan dalam tingkat
sangat rendah. Hal ini memungkinkan penggunaan sel punca
mesenchymal secara alogenik tanpa perlu pencocokan HLA
terlebih dahulu. Lebih lanjut, sel punca mesenchymal ini justru
memiliki kemampuan untuk meningkatkan populasi sel T
regulatory, yang bersifat mensupresi imunitas yang berlebih.
Dalam beberapa tahun terakhir telah dilaporkan penggunaan sel
punca mesenchymal pada pasien dengan GVHD (Graft versus
Host Disease) dan pasien autoimunitas.