H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
406
Penelitian mengenai gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius
pada penderita rinitis alergi telah dilaporkan oleh Lazo Saenz
dkk. Pada 60 orang penderita rinitis alergi dan 50 orang normal
dilakukan pemeriksaan timpanometri. Di kelompok penderita
rinitis alergi didapatkan 15,5% dengan timpanogram abnormal
( 13% tipe C dan 3% tipe B) sedangkan di kelompok kontrol
seluruhnya dengan timpanogram tipe A
11
. Kudelska dkk.
melakukan pemeriksaan audiometri dan timpanometri pada 30
penderita rinitis alergi seasonal dan 30 penderita rinitis alergi
perennial. Hasilnya pada penderita rinitis alergi perennial ditemu-
kan gangguan pendengaran tipe konduktif 26,7% dengan
gambaran timpanogram tipe B dan tipe C masing-masing 20%
sedangkan pada penderita rinitis alergi seasonal ditemukan
gangguan pendengaran tipe konduktif 10% dengan gambaran
timpanogram tipe B 3,33% dan tipe C 6,67%
12
.
Mempertimbangkan dampak gangguan tuba Eustachius akibat
rinitis alergi pada telinga tengah, maka perlu dilakukan deteksi
fungsi ventilasi tuba Eustachius pada penderita rinitis alergi.
BAHAN dan CARA
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study.
Sampel penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok kasus
dan kelompok kontrol. Kelompok kontrol adalah penderita
rinitis alergi yang datang ke Poliklinik THT-KL RS. Perjan Dr. Wahidin
Sudirohusodo, Makassar dengan hasil prick test alergen inhalan
positif, berusia 17 sampai 60 tahun, membran timpani utuh,
bebas obat antihistamin, kortikosteroid dan dekongestan minimal
5 hari, dan tidak pernah mendapat imunoterapi.
Penderita rinitis alergi dengan infeksi saluran nafas atas, deviasi
septum nasi berat, polip nasi stadium 2 dan 3, riwayat operasi
telinga tengah, hidung, nasofaring dan tumor di sinonasal serta
nasofaring tidak diikutkan dalam penelitian ini. Kelompok kontrol
adalah orang tanpa kelainan THT secara klinis. Pengambilan
sampel menggunakan tehnik purposive sampling. Pada pen-
derita rinitis yang datang ke poliklinik THT dilakukan anamnesis,
pemeriksaan THT, tes alergi, dan pemeriksaan timpanometri
dengan alat impedance audio traveler tipe AA 222, dengan
serial no. 128998 dan software version 1.09116 kalibrasi tahun
2005.
HASIL PENELITIAN
Sampel penelitian berjumlah 30 orang terdiri dari laki-laki 14
(46,7%) dan perempuan 16 (53,3%), berumur antara 17 - 60
tahun, rerata umur 27,9 tahun. Kelompok umur paling banyak
adalah 20 tahun.
Pada kelompok kasus 14 orang (46,7%) termasuk rinitis alergi
persisten sedang berat, 11 orang (36,7%) persisten ringan, 4
orang (13,3%) intermiten ringan dan 1 orang (3,3%) intermiten
sedang berat.
Gambaran tipe timpanogram berdasarkan derajat rinitis alergi
dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 dengan gambaran timpanogram
terbanyak adalah tipe A. Tipe B hanya ada 1 (3,3%) dan tipe C
3 (10 %). Berdasarkan derajat rinitis alergi, semua kelainan
timpanogram ada di kalangan penderita rinitis alergi persisten
sedang berat.
Tabel 1. Distribusi tipe timpanogram telinga kanan pada kelompok kontrol dan kelompok kasus
A
28
4
9
1
11
25
93,3%
100,0%
81,8%
100,0%
78,7%
83,3%
As
2
0
2
0
1
3
6,7%
0,0%
18,2%
0,0%
7,1%
10,0%
B
0
0
0
0
0
0
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
C
0
0
0
0
2
2
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
14,2%
6,7%
Total
30
4
11
1
14
30
100,0%
p = 0,698
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
Tipe
Timpano
gram
Kontrol
Intermiten
ringan
Persisten
ringan
Intermiten
sedang berat
Persisten
sedang berat
Total
K a s u s
www.kalbe.co.id