background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
11
BEVACIZUMAB
Percobaan fase 2 yang membandingkan Bevacizumab dengan
fluorouracil dan leukovorin menunjukkan bahwa Bevacizumab
meningkatkan repon tumor. Huwitz dkk. melakukan percobaan
pada 815 pasien yang diberi IFL bersama bevacizumab dibanding
IFL ditambah plasebo. Penambahan bevacizumab meningkatkan
rerata respon dan memperpanjang median survival 4,7 bulan secara
bermakna. Pada penelitian melibatkan pasien yang dipertimbang-
kan tidak dapat mentolerir irinotecan, Kabbivanavar dkk menunjuk-
kan bahwa bevacizumab yang ditambahkan pada fluorouracil
dan leucovorin meningkatkan rerata respon dan memperlambat
progresi tumor, tetapi tidak memperpanjang median survival.
Pada dua penelitian tersebut bevacizumab berhubungan dengan
hipertensi dan proteinuria yang reversibel dan relatif ditolerir dengan
baik. Peningkatan median survival secara bermakna dilaporkan pada
penambahan bevacizumab pada FOLFOX, yang dibandingkan
dengan pemberian FOLFOX saja. Penelitian terakhir ini dilakukan
pada kanker kolorektal yang telah diberi terapi irinotecan.
17
Tabel 5. Percobaan Terapi pada Kanker Kolorektal
17
* TD tidak dilaporkan dan IFL : irinotectan, fluouracil dan leucovorin.
Pada kelompok cetuximab dilakukan pertukaran dengan kelompok cetuximab
dan irinotecan. Empat puluh empat pasien secara acak kemudian ditukar men-
dapat cetuximab sebagai obat tunggal, hasilnya 3,6 terjadi respon pasrsial
dan 35,7 % penyakit menjadi stabil.
Pada percobaan ini, dua kelompok mendapat bevacizumab:satu kelompok
mendapat 10 mg per kg BB dengan hasil median survival 16,1 bulan dan pada
kelompok lain yang mendapat 5 mg per kgBB memiliki median survival secara
keseluruhan.
21,5.
Percobaan
dan regimen
Cetuximab
Saltz dkk.
- cetuximab dan
irinotectan
Saltz dkk.
- hanya cetuximab
Cunningham dkk
- Cetuxmab saja
- Cetuximab dan
irinotectan
Bevacizumab
Kabbinavar dkk.
- Fluorouracil dan
leukovorin
- Flourouracil,
leukovorin dan
bevacizumab
Kabbinavar dkk.
- Fluorouracil dan
leukovorin
- Flourouracil,
leukovorin dan
bevacizumab
Hurwitz dkk.
- IFL
- IFL dan
bevacizumab
Jenis
penelitian
Fase 2
Fase 2
Randomized,
fase 2
Randomized,
fase 2
Fase 3
Fase 3
Jumlah
pasien
121
57
111
218
36
68
105
104
412
403
Rerata
respon
19
11
11
23
17
32
15
26
(p=0,06)
35
45
(p=0,004)
Median
waktu
progresi
TD *
1,4
1,5
4,1
5,2
7,4
5,5
9,2
(p<0,001)
6,2
10,6
(p<0,001)
Median
survival
TD
6,4
6,9
8,6
13,8
16,1 dan 21,5
12,9
16,6 (p=0,16)
15,6
20,3 (p<0,001)
Hasil analisis menunjukkan rerata respon 22,9% (cetuximab+
irinotecan) dan 10,8% (cetuximab sebagai monoterapi). Median
survival rate lebih lama pada pasien yang mendapat terapi kombi-
nasi (8,6 bulan) daripada cetuximab saja (6,9 bulan), tetapi perbe-
daan ini secara statistik tidak bermakna. Kemaknaan ini dapat
dipengaruhi protokol penelitian. Penelitian ini juga menunjukkan
bahwa Oxaliplatin gagal pada 63% pasien.
19,21
Di Amerika Serikat telah dilakukan percobaan fase II (the EPIC
study) menggunakan cetuximab+irinotecan vs irinotecan, sebagai
pengobatan lini kedua pada pasien kanker kolorektal metastasis
dengan EGFR positif. Juga telah dilakukan penelitian fase III (the
EXPLORE study) yang melibatkan pasien kanker kolorektal meta-
stasis dengan ekspresi EGFR positif. Pada penelitian ini dilakukan
evaluasi cetuximab sebagai kombinasi dengan 5FU/leukovorin (LV)
dan oxaliplatin(FOLVOX) yang dibandingkan dengan pemberian
oxaliplatin (FOLVOX).
19,21
Saltz dkk. memberikan kombinasi cetuximab dan irinotecan pada
pasien kanker kolorektal lanjut yang tidak respon terhadap irino-
tecan. Hasilnya 19% pasien mengalami perbaikan ukuran tumor
secara radiologis. Untuk menentukan apakah efek anti tumor ini
akibat efek sinergis kedua obat atau aktivitas independen cetuximab,
60 pasien yang sama hanya diterapi dengan cetuximab; dari evaluasi
radiografi 10% terdapat regresi tumor yang bermakna.
17
Pengalaman tersebut dikaji ulang oleh Cunningham dkk. yang
secara acak melakukan percobaan pada 329 pasien dengan kanker
kolorektal lanjut yang refrakter terhadap irinotecan. (Tabel 5).
Hasil penelitian ini hampir identik, regresi terjadi pada 23% pasien
yang mendapat terapi kombinasi dan 11% pada yang mendapat
cetuximab tunggal.
17
Cetuximab telah diakui dalam pengobatan kanker kolorektal yang
refrakter terhadap irinotecan. Efek samping pemberian cetuximab
biasanya ringan seperti rash seperti jerawat, kulit kering dan fisura.
Jarang terjadi reaksi infus (3% pasien); 90% berhubungan dengan
infus pertama. Keadaan ini jarang fatal (kematian kurang dari 1
dalam 1000). Penggunaan gefitinib bersamaan dengan terapi
kanker konvensional, berisiko menyebabkan penyakit paru interstitial.
Kejadian ini dilaporkan 3 dari 633 pasien (<3%) dengan kanker
kolorektal lanjut yang diberikan cetuximab. Efek samping lain
yang serius adalah demam (5%), sepsis (3%), gagal ginjal (2%),
emboli paru (1%), dehidrasi (5% pada cetuximab+irinotecan;
2% pada cetuximab), dan diare (6% pada cetuximab + irinotecan,
0% pada cetuximab saja).
17,19,21
Data tersebut mendukung bahwa cetuximab efektif pada subgrup
pasien kanker kolorektal lanjut. Percobaan ini hanya melibatkan
pasien dengan bukti ekspresi EGFR melalui pemeriksaan histokimia.
Tetapi tampaknya tingkat ekspresi tidak berhubungan dengan
regresi penyakit. Ini menimbulkan pertanyaan apakah dalam me-
lakukan terapi harus ditentukan ada tidaknya ekspresi EGFR dan
apakah obat bertinteraksi dengan target molekular lain.
13,17,21