background image
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
409
TINJAUAN PUSTAKA
Faktor pencetus ini akan mengaktifkan limfosit di peredaran darah
yang masuk ke otak dan membuat mekanisme pertahanan otak
menjadi lemah. Suatu ketika di dalam otak sel ini mengaktifkan
unsur-unsur lain pada sistem imun sebagai jalan bagi mereka
untuk menyerang dan menghancurkan mielin. Beberapa peneliti
men- duga virus campak (rubeola) sebagai virus penyebab
penyakit ini. Serum dan cairan serebrospinal penderita sklerosis
multipel ternyata mengandung berbagai antibodi campak dan
ada bukti bahwa zat anti tersebut dihasilkan dalam otak. Peneli-
tian lain menyebutkan kemungkinan adanya faktor genetik
sehingga ada orang-orang yang lebih rentan terhadap serangan
berbagai virus pada sistem saraf pusat. Virus ini mempunyai masa
inkubasi yang lama dan mungkin hanya berkembang dalam
kaitannya dengan status imun yang abnormal atau terganggu.
Antigen histokompatibilitas tertentu (HLA-A3 dan HLA-A7)
ternyata juga banyak ditemukan pada penderita sklerosis
multipel. Adanya antigen ini berkaitan dengan defisiensi
imunologis terhadap infeksi virus.
Beberapa keadaan lain yang dianggap sebagai faktor pencetus
di antaranya adalah kehamilan, infeksi (terutama yang disertai
demam), stres emosional dan cedera. Serangan pertama biasanya
dapat sembuh sempurna. Remisi biasanya terjadi dalam waktu 1
sampai 3 bulan dan disusul dengan serangan- serangan berikut-
nya. Akhirnya penyembuhan tidak lagi sempurna dan pasien
akan menderita kerusakan permanen tambahan pada setiap kali
serangan. Lesi sklerosis multipel terjadi hanya di substansia alba
susunan saraf pusat. Hasil pemeriksaan otopsi memperlihatkan
lesi yang paling nyata ditemukan pada traktus piramidalis; juga
di kolumna posterior medula spinalis, sekitar ventrikel-ventrikel
otak, traktus optikus, batang otak, pedunkulus serebeli dan di
sekitar vena-vena besar. Pada fase akut, tempat-tempat yang
terkena mengalami edema, radang dan berwarna merah muda,
diameternya berkisar antara beberapa milimeter sampai beberapa
sentimeter. Makrofag membersihkan daerah-daerah yang
mengalami degenerasi mielin dan saat fase aktif mereda terjadi
gliosis reaktif. Akhirnya terdapat daerah-daerah demielinisasi
yang mengkerut yang disebut plak. Silinder akson dan badan
selnya tidak mengalami kerusakan meskipun jaringan parut dapat
merusak serabut akson di bawahnya sehingga menganggu fungsi
penghantaran serabut saraf. Gejala-gejala sklerosis multipel
akibat demielinisasi menjadi ireversibel dengan berlanjutnya
penyakit. Manifestasi patologi yang menonjol adalah proses
inflamasi dan demielinisasi multifokal dan multifasik.
MANIFESTASI KLINIS
(4,7)
Sklerosis multipel merupakan suatu kondisi yang bervariasi dan
gejala yang timbul tergantung pada area sistem saraf pusat yang
terkena. Tidak ada pola tertentu; setiap penderita sklerosis
multipel mempunyai gejala yang berbeda, bervariasi dari waktu
ke waktu dan dapat berubah tingkat keparahannya walaupun
pada orang yang sama. Tidak ada sklerosis multipel yang tipikal;
semua orang yang menderita sklerosis multipel akan mengalami
lebih dari satu gejala; walaupun ada gejala yang umum namun
tidak semua orang akan mengalaminya.
Gejala-gejala umum yang sering timbul adalah:
1. Gejala visual. Sejumlah besar pasien menderita gangguan
penglihatan sebagai gejala awal. Dapat terjadi kekaburan
penglihatan, lapang pandang abnormal dengan bintik buta
(skotoma) baik pada satu maupun pada kedua mata. Salah
satu mata mungkin mengalami kebutaan total selama
beberapa jam sampai beberapa hari. Gangguan-gangguan
visual ini akibat neuritis saraf optikus. Selain itu juga ditemu-
kan diplopia akibat lesi batang otak yang menyerang
nukleus atau serabut-serabut traktus otot-otot ekstraokuler.
2. Tanda-tanda serebelum. Gejala yang sering ditemukan
adalah nistagmus (gerakan osilasi cepat bola mata dalam
arah horisontal atau vertikal). Ini menunjukkan bahwa
traktus serebelaris dan traktus kortikospinalis juga ikut
terserang. Gejala lain adalah ataksia serebelar, intention
tremor, gangguan keseimbangan dan disartria.
3. Gangguan sensorik ; dapat terjadi paraestesi yang berbeda-
beda tingkatannya dari hari ke hari, tingling, rasa terbakar,
nyeri seperti nyeri wajah dan nyeri otot. Jika lesi terjadi di
kolumna posterior medula spinalis servikalis, fleksi leher
menyebabkan sensasi seperti syok yang menjalar ke bawah
(tanda Lhermitte). Gangguan proprioseptif sering menimbul-
kan ataksia sensorik dan inkoordinasi lengan. Sensasi getar
seringkali menghilang. Karena gangguan sensorik tidak
dapat diperagakan secara obyektif maka gejala-gejala
tersebut dapat disalahduga sebagai histeria.
4. Kelemahan spastik anggota gerak. Keluhan yang sering
didapat adalah kelemahan satu anggota gerak pada satu sisi
tubuh atau terbagi secara asimetris pada keempat anggota
gerak. Pasien mungkin merasa lelah dan berat pada satu
tungkai dan saat berjalan terlihat jelas tugkai terseret dan
kurang terkontrol. Keadaan spastis yang lebih berat disertai
spasme otot yang nyeri. Refleks tendon hiperaktif dan
refleks-refleks abdominal tidak ada. Tanda Babinski positif.
Tanda-tanda ini merupakan indikasi terserangnya lintasan
kortikospinal.
5. Bicara abnormal yaitu bicara pelan, kata-kata tidak jelas,
perubahan ritme bicara dan disfagi (sulit menelan).
6. Fatigue/Kelelahan : adalah salah satu gejala yang sering
terjadi pada MS berupa macam-macam kelelahan pada
general fatigue yang tidak dapat diprediksi atau tidak sesuai
dengan
beratnya
aktivitas.