P
edoman IDSA ditujukan bagi penyedia layanan kesehatan
yang menangani pasien HIV atau orang yang mungkin berisiko
tertular HIV. Bersamaan dengan pilihan dan pemantauan ART,
mereka juga memasukkan informasi tentang komplikasi
metabolisme, keadaan yang dikaitkan dengan penuaan, dan
penekanan pada "pentingnya kepatuhan pada perawatan
daripada hanya berpusat pada kepatuhan pada pengobatan."
Berikut ini adalah ringkasan perubahan utama pada pedoman
IDSA 2009:
· Lebih banyak tes diagnosis HIV yang dibahas.
· Semua pasien HIV harus menerima tes genotipe terhadap
resistensi pada awal, tidak tergantung apakah mereka akan
mulai
ART.
· Pasien dengan hasil tes negatif terhadap virus varicela zoster
(VZV) atau tanpa riwayat campak atau cacar harus menerima
profilaksis pascapajanan (PPP) dengan VZV immune globulin
(VariZIG) sesegera mungkin (dalam 96 jam) setelah terpajan
dengan orang yang campak atau cacar.
· Vaksinasi primer untuk varicela dapat dipertimbangkan bagi
orang terinfeksi HIV yang VZV-seronegatif yang berusia di
atas delapan tahun dengan jumlah CD4 > 200 dan pada
anak terinfeksi HIV yang berusia 1-8 tahun dengan
persentase CD4 >15%.
· Di antara pasien dengan sifilis, tes serebrospinal (CSF) harus
dilakukan pada orang dengan tanda atau gejala neurologi
atau okular (penglihatan), sifilis tersier aktif, dan kegagalan
pengobatan sifilis. Pemeriksaan CSF juga disarankan bagi
pasien HIV dengan sifilis laten-lanjut, termasuk orang dengan
sifilis yang tidak diketahui jangka waktunya.
· Tes HLA-B*5701 harus dilakukan sebelum mulai abacavir
untuk mengurangi risiko reaksi hiperpeka. Pasien dengan hasil
tes positif tidak boleh diobati dengan abacavir.
· Analisis urin pada awal dan penghitungan pengeluaran kreatinin
harus dipertimbangkan, khususnya pada pasien berkulit hitam,
karena meningkatkan risiko nefropati (penyakit ginjal)
terkait
HIV.
· Analisis urin dan penghitungan pengeluaran kreatinin juga
harus dilakukan sebelum mulai pengobatan dengan obat
misalnya tenofovir atau indinavir, yang berpotensi sebagai
nefrotoksisitas
(toksisitas
ginjal).
· Tes tropisme harus dilakukan sebelum mulai pengobatan
dengan ARV CCR5-antagonist misalnya maraviroc.
· Bagi perempuan berusia 40-49 tahun, penyedia layanan harus
melakukan penilaian rutin secara individu terhadap risiko
kanker payudara dan memberitahukan tentang manfaat
dan risiko skrining mamografi.
· Terapi pengganti hormon hanya dipertimbangkan untuk
perempuan yang mengalami gejala menopause yang berat,
dan hanya boleh dipakai sebentar dengan takaran efektif
yang
terendah.
(NFA)
Sumber :
1. DSA Publishes Updated Primary Care Guidelines for People with HIV - http://www.
hivandhepatitis.com/recent/2009/080709_a.html
2. Aberg JA, Kaplan JE, Libman H, dkk. Primary Care Guidelines for the Management
of Persons Infected with Human Immunodeficiency Virus: 2009 Update by the HIV
Medicine Association of the Infectious Diseases Society of America. Clinical Infectious
Diseases 49:651-681. September 1, 2009-http://www.journals.uchicago.edu/doi/full/10.
1086/605292?cookieSet=1
Pedoman yang telah diperbarui disusun oleh panel ahli HIV Medicine Association dari Infectious Diseases
Society of America (IDSA) untuk menggantikan pedoman yang diterbitkan pada 2004. Menurut tim
panel, mereka tidak bermaksud menggantikan pedoman yang begitu luas disetujui oleh Public Health
Service, Department of Health and Human Services (DHHS), Centers for Disease Control and Prevention
(CDC), AS atau badan lain, tetapi lebih berfungsi sebagai "pemandu pada pedoman".
Pedoman Layanan Primer
Pedoman Layanan Primer
untuk Pasien AIDS telah Diperbarui
untuk Pasien AIDS telah Diperbarui
Pedoman Layanan Primer
untuk Pasien AIDS telah Diperbarui
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
53
BERITA TERKINI