TINJAUAN PUSTAKA
93
CDK 183/Vol.38 no.2/Maret - April 2011
Perjalanan Klinis Demam Dengue dan DBD
Pada fase febris penderita biasanya meng-
alami demam tinggi yang mendadak dan
menetap (gambar 1), dengan manifestasi
klinis lain seperti nyeri otot, nyeri perut, mual,
dan muntah.
10
Selama periode ini dapat terjadi
berbagai derajat perdarahan, dengan dehidrasi
berat. Periode febris bisa bertahan antara 2
hingga 7 hari. Di sekitar periode afebris trombosit
menurun dan mencapai titik terendah; pada
DBD dapat terjadi kenaikan permeabilitas
vaskuler dan kebocoran plasma yang berlang-
sung hingga 48 jam diikuti resolusi cepat dan
spontan, kemudian masuk periode konvalesen.
Gagal fungsi hati dan ensefalopati dapat me-
nyebabkan syok sekunder yang berkepanjangan.
Mortalitas biasanya berkenanan dengan lambatnya
pengenalan dan terapi kebocoran plasma.
3
Terapi Dengue
Observasi ketat tanda perdarahan, kerentan-
an sirkulasi, dan terapi pendukung yang tepat
adalah upaya utama mencegah syok hipovo-
lemik pada kasus Dengue.
6
Penurunan jumlah
volume kerap terjadi karena demam, kurangnya
asupan oral, kebocoran plasma, dan perdarahan.
Kasus dehidrasi atau penurunan volume intra-
vaskuler karena kebocoran plasma memerlu-
kan cairan kristaloid intravena untuk memper-
tahankan sirkulasi yang efektif selama periode
kebocoran plasma, disertai pengamatan teliti
dan cermat secara periodik.
12
Koloid dipakai
bila kurang responsif terhadap kristaloid, namun
koloid tidak selalu unggul dibanding kristaloid
untuk tujuan tersebut.
13
Transfusi darah di-
butuhkan bila terdapat perdarahan yang signi-
fikan. Intervensi cairan yang berlebih dapat
memicu komplikasi serius seperti edema paru
dan gagal napas.
3
Faktor Risiko DBD
Penelitian kohort prospektif di antara anak
sekolah menunjukkan tingginya risiko DBD
pada anak dengan infeksi sekunder yang
mencapai 10 kali atau lebih dibanding yang
mengalami infeksi primer.
14
Virus Dengue
yang diinkubasi dalam cairan plasma monyet
rhesus yang imun meningkatkan replikasi virus
dalam monosit dan sel lain yang rentan, sehingga
didalilkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh
paparan pertama salah satu serotipe virus
Dengue bukannya memberi perlindungan ter-
hadap infeksi kedua dan yang berbeda sero-
tipenya, sebaliknya bahkan lebih meningkat-
kan respons virus dan replikasinya.
15
Pada wabah yang meluas biasanya terdapat
suatu jenis atau serotipe virus Dengue baru,
hal ini terkait kerentanan imunologis suatu
populasi terhadap virus tersebut dan virulensi-
nya yang berperan pada beratnya penyakit.
3
Selain status imun pejamu, beberapa lokus
gen juga berkaitan dengan beratnya penya-
kit, seperti imunitas sel T lokus kelas I dan II
HLA berhubungan dengan DBD sementara
yang lain dengan demam Dengue.
16
Juga
dengan polimorfisme genetik seperti TNF-
,
reseptor Fc, TAPs, dan DC-SIGN (Dendritic Cell-
Specific ICAM-3 Grabbing Non-integrin) yang
mengikat glikan protein E virus Dengue.
17,18
Patologi dan Patogenesis
Pemeriksaan mikroskopik patologi 100 kasus
Dengue yang fatal menemukan 2 hal utama,
yakni perdarahan mukosa yang tersebar dan
edema membran serosa, selain perdarahan di
berbagai organ, edema perivaskuler dan
jaringan interstisiel, infiltrasi sel mononuklir
pada perivaskuler, dan piknosis sel endotel.
3
Antigen Dengue ditemukan di berbagai sel,
termasuk monosit, Kupffer, makrofag alveoli,
limfosit darah tepi dan limpa, juga sel endotel
di hepar dan paru-paru.
19
Monosit/makrofag
dan limfosit merupakan sel-sel utama yang di-
infeksi oleh virus Dengue.
20
Infeksi Dengue
terhadap sel-sel monosit, makrofag, dan dendrit
menyebabkan produksi mediator-mediator yang
mempengaruhi fungsi sel endotel. Monosit
yang terinfeksi menginduksi perubahan permea-
bilitas sel-sel endotel umbilikus manusia karena
terkait dengan pengaruh TNF-
.
21
Infeksi Dengue dapat menginduksi maturasi
sel dendrit.
22
Melalui sel dendrit virus Dengue
dapat memicu ekspresi enzim-enzim matrix
metalloprotease, MMP-2 dan MMP-9, mening-
katkan permeabilitas yang berakibat kebocoran
plasma dan perdarahan. Perlakuan sel-sel endotel
umbilikus manusia dengan pembiakan sel-sel
dendrit yang terinfeksi juga menunjukkan ke-
naikan permeabilitas, berkaitan dengan turunnya
respon Platelet Endothelial Cell Adhesion
Molecule-1, ekspresi VE-cadherin, dan reorgani-
sasi dari F-actin.
23
Isolasi jaringan kulit me-
nunjukkan bahwa sel dendrit dapat pula ter-
infeksi lokal oleh inokulasi virus Dengue.
24
Aktivitas sel T lebih tinggi pada DBD dibanding
pada demam Dengue.
25
; menunjukkan bahwa
pada infeksi sekunder sel T CD8+ spesifik ber-
jumlah lebih banyak dari infeksi sebelumnya.
Sitokin dan kemokin yang diinduksi oleh sel-
sel T berdampak pada permeabilitas vaskuler
sebagai penyebab kebocoran plasma DBD.
3
Tingginya risiko DBD pada infeksi sekunder
memberi gambaran bahwa antibodi dari reaksi
silang yang tidak menetralisir antigen virus
sebelumnya, dapat meningkatkan penyerapan
virus oleh sel pejamu dan akan memicu replikasi-
nya. Kemudian sistem imun bawaan dan adap-
tif akan teraktivasi secara intensif. Transfer pasif
antibodi bergantung pada nitrit oksida dan
caspase (cysteine-aspartic protease) yang ber-
peran dalam berbagai peubahan seperti per-
darahan, koagulopati, kenaikan enzim hepar,
dan kematian sel endotel.
26
Gambar 2. Imunopatogenesis DBD.