CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
489
TINJAUAN PUSTAKA
menjadi 17,2 ± 2,6 mg/dl setelah 6 bulan dan menjadi 15,9 ± 2,2
setelah 1 tahun. Ekskresi protein urin 24 jam menurun dari 3121
± 913 mg/24 jam menjadi 2178 ± 670 mg/24 jam setelah 6
bulan dan menjadi 1016 ± 364 mg/24 jam setelah 1 tahun.
(9)
Saberi dan Jones (1998) memberikan siklofosfamid puls pada
lupus eritematosus sistemik infantil dan terdapat remisi total
selama 2 tahun setelah dosis terakhir siklofosfamid puls. Pembe-
rian obat ini dapat ditoleransi oleh pasien dan tidak terdapat efek
samping selama pengobatan.
(6)
Dalam tatalaksana GSFS, pemberian metilprednisolon puls dan
siklofosfamid puls memberikan hasil yang baik. Adhikari dkk.
(1997) mengobati 7 pasien GSFS dengan metil-prednisolon puls
dan diamati selama 21-42 bulan Dilaporkan bahwa edema
menghilang dalam 2-4 minggu pengobatan, hematuri berkurang
atau hilang dalam 6-12 minggu pengobatan, dan LFG membaik
pada semua pasien kecuali pada 1 pasien yang mengalami GGT.
Satu pasien mengalami remisi total.
Pada 5 pasien GSFS lainnya diberikan siklofosfamid puls dengan
hasil 2 pasien remisi total, 1 pasien remisi parsial, 1 pasien tidak
terjadi remisi, dan 1 pasien meninggal karena infeksi berat.
Edema dan proteinuri hilang dalam 4 minggu. Terdapat perbai-
kan poteinuri, rasio protein/ kreatinin, dan hematuri, serta LFG
membaik dalam 1-3 bulan.
(4)
Peneliti lain melaporkan bahwa pada akhir pengamatan (0,75-
12,5 tahun) pemberian metilprednisolon puls pada 32 pasien
GSFS resisten steroid, didapatkan 21/32 (66%) pasien mengalami
remisi total, 3/32 (9%) dengan proteinuri ringan, 2/32 (6%)
pasien dengan proteinuri sedang, dan 6/32 (19%) dengan protei-
nuri nefrotik. Di antara 11 pasien yang tidak remisi, 3/11 menga-
lami GGT, 5/11 dengan penurunan LFG, dan 3/11 pasien tetap
dengan proteinuri persisten dan LFG yang normal.
(11,16)
Pada laporan Ichikawa dan Fogo (1996), dengan pemberian
metilprednisolon puls dan obat alkilating oral terhadap 25 pasien
FSGS resisten steroid dengan umur rata-rata 7,4 tahun, didapat-
kan remisi total pada 60% pasien ; pada 20% tidak ada efek
pengobatan setelah diamati selama ± 55 bulan.
(21)
Rennet dkk. (1999) melaporkan remisi total selama pengamatan
pada 7 dari 10 pasien GSFS resisten steroid yang mendapat
siklofosfamid puls. Satu pasien mengalami perbaikan klinis dan
albumin darah normal, tetapi masih terdapat proteniuri dan
didiagnosis sebagai remisi parsial, dan pada 2 pasien tidak terjadi
remisi.
(12)
Dalam tatalaksana glomerulonefritis membranoproliferatif tipe I,
metilprednisolon puls memberikan hasil baik. Bergstein dan
Andreoli (1995) mengobati 16 pasien glomerulonefritis membra-
noproliferatif tipe I dengan metilprednisolon puls. Dengan terapi
ini terdapat perbaikan bermakna albumin serum, klirens kreati-
nin, dan ekskresi protein urin setelah 3 bulan pengobatan dan
perbaikan ini menetap selama pengamatan 20,8 bulan (1 sampai
74 bulan). Pada awalnya, hematuri didapatkan pada 13/16
pasien, dan setelah 3 bulan terapi didapatkan pada 8/16 pasien
dan pada 2/16 pasien pada akhir pengamatan. Albumin serum
meningkat dari 2,66 ± 0,69 g/dl sebelum terapi menjadi 3,76 ±
0,39 g/dl pada 3 bulan setelah terapi dan 3,89 ± 0,66 g/dl pada
akhir pengamatan. Klirens kreatinin meningkat dari 97 ± 37 ml/
menit/1,73 m
2
sebelum terapi menjadi 129 ± 26 ml/menit/1,73
m
2
pada 3 bulan setelah terapi dan 127 ± 38 ml/menit/1,73 m
2
pada akhir pengamatan. Pada akhir pengamatan, klirens kreati-
nin normal pada semua pasien dan tetap tidak ada proteinuri ; 10
pasien remisi komplit dengan urinalisis, klirens kreatinin, dan
ekskresi protein yang normal.
(13)
Dalam tatalaksana nefritis purpura Henoch-Schonlein, pemberian
metilprednisolon puls memberikan hasil yang baik. Niaudet dan
Habib (1998) memberikan metilprednisolon puls pada 38 pasien
nefritis purpura Henoch-Schonlein dengan lama pengamatan 5
tahun 7 bulan (1-16 tahun). Pada akhir peng-amatan (1-16
tahun), 27/38 pasien mengalami perbaikan klinis, 3 pasien
dengan kelainan urin minimal, 4 pasien tetap mengalami nefro-
pati persisten, dan 4 lagi menjadi GGT. Ekskresi protein urin turun
dari 162 ± 68 mg/kgbb/hari menjadi 38 ± 15 mg/kgbb/hari,
bahkan pada 12 pasien tidak terdapat proteinuri. Satu tahun
setelah pengobatan, rerata ekskresi protein urin menjadi 17 ± 6
mg/kgbb/hari. Klirens kreatinin menjadi normal kembali pada 3
pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal pada awal pe-
ngobatan. Di antara 38 pasien nefritis purpura Henoch-Schonlein
ini, 2 pasien dengan glomerulonefritis proliferatif endokapiler
mengalami remisi total; pada 4 pasien glomerulonefritis fokal dan
segmental dengan kresen < 50%, 3 mengalami remisi total dan
1 dengan kelainan urin minimal. Di antara 11 pasien glomeru-
lonefritis endodan ekstrakapiler dengan kresen < 50%, 8 menga-
lami penyembuhan secara klinis, 1 dengan kelainan urin minimal,
dan 2 dengan nefropati persisten. Di antara 21 pasien glomeru-
lonefritis endodan ekstrakapiler dengan kresen 50%, 14 pasien
remisi total, 1 pasien dengan kelainan urin minimal, 2 pasien
dengan nefropati persisten, dan 4 pasien mengalami GGT.
(5)
Oner dkk. (1995) mengobati nefritis purpura Henoch-Schonlein
dengan gabungan metilprednisolon puls, siklofos-famid, dan
dipiridamol. Pada akhir pengamatan (9-39 bulan), 7 di antara 12
pasien mengalami remisi total, 3 dengan kelainan urin minimal,
www.kalbe.co.id