CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
41
TINJAUAN PUSTAKA
3. Kegagalan fungsi gastrointestinal
Hiperinflasi pada PPOK dengan diafragma yang datar dan
volume ruang abdomen yang berkurang dapat membatasi
volume asupan makanan. Makan dengan jumlah besar dapat
menyebabkan rasa penuh abdominal. Keadaan tersebut me-
nerangkan pemberian makanan yang sedikit dan sering di-
anjurkan pada PPOK jenis emfisema. Beberapa studi menerang-
kan bahwa PPOK sering disertai gejala tukak lambung dan
gangguan gastrointestinal nonspesifik seperti kembung,
sendawa, nafsu makan menurun, yang disebabkan oleh udara
tertelan saat dispnea. Tahan napas selama menelan dapat
menyebabkan hipoksia dan dispnea selama makan.
4. Asupan makan menurun
Pemberian kalori lebih besar dari yang direkomendasikan meru-
pakan syarat utama nutrisi PPOK. Lewis dkk menyimpulkan
pemberian kalori makanan penderita PPOK dengan berat
badan menurun adalah 150% dari perhitungan energi basal
yang keluar (basal energy expenditure/BEE).
15,21
5. Curah jantung dan perubahan jala vaskularisasi
Emfisema menyebabkan hilangnya jala vaskuler yang mengaki-
batkan menurunnya kapasiti difusi. Satu teori menyatakan
bahwa hilangnya jala vaskuler tidak dapat meningkatkan curah
jantung pada latihan ringan. Jala vaskuler yang minimal dapat
menaikkan tekanan vaskuler paru sehingga kemampuan curah
jantung menurun. Keadaan ini menurunkan suplai oksigen dan
nutrisi lain pada otot dan organ vital selama latihan. Keadaan
tersebut menerangkan pada pink puffer kardiak indeksnya
rendah dan kemampuannya terbatas dalam memperbesar
curah jantung selama latihan.
21
6. Hipermetabolik
Kerja napas yang meningkat akan meningkatkan kebutuhan
oksigen dan kalori. Pada PPOK jenis emfisema efisiensi otot
respirasi dan fungsi optimal otot respirasi menurun sehingga
mudah lemah.
7. Faktor lain.
Depresi, perokok dan pengetahuan yang kurang tentang nutrisi
disertai cara hidup dan kebiasaan makan yang buruk dapat
menurunkan berat badan.
MEKANISME ADAPTASI PADA PPOK
Penurunan berat badan disertai dengan penurunan konsumsi
oksigen, memperberat turunnya massa tubuh; merupakan
mekanisme adaptasi pada PPOK.
Mekanisme adaptasi tersebut meliputi :
1. Adaptasi otot
Pada PPOK, koordinasi antara MHC (Myosin Heavy Chain) dan
MLC (Myosin Light Chain) isoformis berubah : koordinasi
ekspresi protein pada otot skeletal hilang. Keadaan ini menyebab-
kan penurunan ketersediaan oksigen. Kegagalan kapasitas
difusi umumnya terdapat pada jenis emfisema dan sering terjadi
desaturasi oksigen arteri. Adaptasi di otot lebih dipengaruhi
oleh proses glikolisis anaerob serat otot sehingga otot mudah
lelah dan asam laktat meningkat.
2. Adaptasi biokimia otot
Peningkatan laktat pada PPOK terutama jenis emfisema
disebabkan oleh penurunan kapasitas oksidasi, dan rendahnya
kegiatan enzim oksidasi otot. Kapasitas oksidasi dinilai dari
sintesis sitrat, langkah pertama proses katalisis siklus Kreb, 3
dihidroksilasi KoA dehidrogenase termasuk oksidasi asam
lemak. Metabolisme laktat pada PPOK karena produksi laktat
yang meningkat dapat mengubah ambilan laktat di hati dan
meningkatkan proses glukoneogenesis sehingga pada keadaan
hipoksi kadar laktat lebih meningkat lagi.
4,21
Gambar 3. Keadaan hipoksia terjadi peningkatan laktat dan
proses Glukoneogenesis
(21)
.
3. Metabolisme mitokondria
Pada penderita PPOK jumlah mitokondria meningkat dibanding-
kan orang normal. Jumlah ini berhubungan langsung dengan
tingkat hiperinflasi dan berhubungan terbalik dengan derajat
obstruksi saluran napas. Sauleda melaporkan kegagalan saluran
napas kronik meningkatkan aktivitas sitokrom oksidase (COX)
pada keadaan hipoksemi. Sitokrom oksidase adalah kunci enzim
oksidatif karena merupakan terminal komplek rangkaian transport
elektron di mitokondria. Aktivitas COX diatur pada tingkat
translasi oleh peningkatan sejumlah ribosom mitokondria.
Pengaturan COX ini perlu dipahami pada PPOK dan hipoksemi
kronik karena merupakan mata rantai ketersediaan oksigen
jaringan, pengaturan ambilan oksigen dan produksi energi.
LIPID SEBAGAI NUTRIEN PPOK
Beberapa studi mendapatkan bahwa: pada penderita PPOK diet
tinggi lemak lebih bermanfaat daripada diet tinggi karbohidrat.
Pemberian minuman kaya lemak menyebabkan peningkatan
bermakna nilai prediksi CO
2
(VCO
2
), konsumsi oksigen (VO
2
),
respiratory quotient (RQ) dan tekanan arteri CO
2
(pCO
2
) dan
penurunan kemampuan berjalan 6 menit dibandingkan dengan
pemberian minuman yang kaya karbohidrat.
17,23,24
IKLAN
IVELIF