background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
12
PENDAHULUAN
Setiap tahun diperkirakan ada 200.000 bayi yang lahir cacat di
seluruh dunia.
1
Secara umum diperkirakan bahwa penggunaan
obat pada waktu hamil mengakibatkan cacat pada 1-3% dari
seluruh angka bayi yang lahir cacat, namun tidak ada penelitian
yang mendasari pendapat ini. Di Amerika, setiap tahun ratusan
ribu wanita hamil menggunakan obat saat mereka belum sempat
tahu bahwa mereka hamil.
2
Secara kasar diperkirakan lebih dari
90% wanita menggunakan 3-4 obat selama masa hamilnya.
3
Di samping analgetik, penenang, dan anti-emetik, pada masa
hamil antibiotika juga merupakan kelompok obat yang sering
digunakan. Selain infeksi yang lazim dijumpai sehari-hari, ada
juga infeksi-infeksi yang lebih sering terjadi pada kehamilan
sehingga pasien memerlukan terapi antibiotika, misalnya bakte-
riuria asimtomatik, kandidiasis, dermatofitosis, dll.
Tidak semua antibiotika aman diberikan pada wanita hamil.
Tulisan ini membahas beberapa aspek yang berkaitan dengan
keamanan penggunaan antibiotika pada wanita hamil.
TRANSFER OBAT LINTAS PLASENTA
Kebanyakan obat dalam sirkulasi darah ibu dapat berdifusi
melalui plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi darah fetus. Obat
dengan molekul besar (misalnya insulin dan heparin) sulit sekali
menembus plasenta. Obat yang lipofilik dan tidak terionisasi,
misalnya propranolol, lebih mudah menembus plasenta daripada
obat yang polar. Sebaliknya obat yang hidrofilik dan sukar larut
dalam lemak, misalnya atenolol, lebih sulit menembus plasenta.
Efek teratogenik pada manusia terjadi setelah pemberian obat
berulang kali selama berhari-hari; tidak terjadi hanya setelah pem-
berian obat satu kali saja. Obat bersifat basa lemah akan `terjebak'
dalam sirkulasi fetus karena pH setempat yang sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan pH plasma ibu. Adanya enzim atau trans-
porter tertentu dapat memfasilitasi atau menghambat transfer
obat melintasi plasenta.
Dalam praktek sehari-hari pengetahuan mengenai transfer obat
lintas plasenta ini tidak banyak digunakan. Yang lebih penting
ialah seorang dokter yang memberi obat pada wanita hamil harus
menganggap bahwa semua obat mampu menembus plasenta,
dan setiap pemberian obat pada wanita hamil harus berlandas-
kan pengetahuan mengenai farmakologi dan toksikologi obat
tersebut, serta pengalaman penggunaannya pada kehamilan.
SAAT DAN MEKANISME TERJADINYA EFEK TERATOGENIK
Secara umum disepakati bahwa periode waktu dalam kehamilan
yang rawan terhadap terjadinya efek teratogenik akibat penggu-
naan obat ialah antara 17-70 hari terhitung dari saat terjadinya
konsepsi. Berbagai organ pada fetus mempunyai `masa
sensitif'nya sendiri-sendiri. Dua minggu pertama kehamilan
dihitung dari saat terjadinya konsepsi adalah periode waktu
tidak terjadi efek teratogenik akibat penggunaan obat.
Jantung mempunyai masa sensitif pada minggu ke tiga dan ke
empat masa kehamilan, genitalia eksterna pada minggu ke
delapan dan ke sembilan, sedangkan otak dan tulang mulai
minggu ke tiga sampai akhir kehamilan dan berlangsung sampai
periode neonatus.
Penggunaan warfarin pada wanita hamil dapat menimbulkan
kelainan yang menyerupai sindrom Happle yaitu suatu kelainan
genetik yang ditandai dengan kurangnya mineralisasi tulang dan
hipoplasia hidung.
4
Sindrom Happle timbul akibat mutasi pada
emopamil-binding protein, yaitu suatu isomerase sterol yang
berperan dalam biosintesis kolesterol.
5
Contoh mekanisme kerja lain ialah obat antikanker siklofosfamid
yang menimbulkan apoptosis berlebihan yang dimediasi oleh
tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha), transforming growth
factor-beta (TGF-beta), dan berbagai sitokin lainnya. Granulocyte
macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) dilaporkan
dapat mencegah terjadinya teratogenesis pada hewan coba.
6
PENILAIAN TERATOGENISITAS OBAT
Dewasa ini dikenal beberapa cara untuk menilai efek teratogenik
obat (termasuk antibiotika) pada wanita hamil.
Dalam tulisan ini akan dikemukakan 2 metode yang sering
digunakan yaitu:
a. Metode US-FDA:
US-FDA menggunakan 5 kategori untuk menilai keamanan
pemberian suatu obat pada wanita hamil. Kebanyakan obat
yang bersifat teratogenik ada dalam kategori D atau X, namun
beberapa di antaranya ada dalam kategori C.
Kelima kategori itu adalah sbb:
· Kategori A: Yang termasuk dalam kategori ini ialah obat yang
sudah mempunyai data penelitian yang memadai dan ter-
Keamanan Penggunaan Antimikroba
pada Kehamilan
Rianto Setiabudy
Bagian Farmakologi, Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
IKLAN
CEFIXIME