background image
PENGALAMAN PRAKTEK
Nostalgia Perjalanan
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menjadi dosen pembimbing dalam
Kerja Sosial Kesehatan (Kersoskes) di daerah Pemukiman Transmigran Lahumbuti
Hilir, Kecamatan Wowotobi, Kabupaten Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara. Kersos-
kes yang melibatkan para mahasiswa kedokteran beserta beberapa dosen pembimbing
seperti ini merupakan acara rutin bagi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
yang dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat
dengan sasaran utama daerah-daerah terpencil, termasuk daerah transmigran yang
masih rawan dalam masal, h kesehatan. Berikut ini adalah kenangan ketika saya ber-
tugas memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan di Unit Pemukiman Trans-
migran (UPT) Lahumbuti Hilir.
Rombongan yang terdiri atas sejumlah mahasiswa FK Unud dan beberapa maha-
siswa dari fakultas lainnya beserta lima orang dosen pembimbing termasuk saya
sendiri berangkat dengan menggunakan pesawat Hercules. Tak terasa perjalanan
udara berakhir tatkala pesawat mendarat mulus di Lanud Wolter Monginsidi. Se-
lanjutnya rombongan diterima oleh Kakanwil Departemen Transmigrasi dan Gubernur
Sulawesi Tenggara.
Setelah mendapat petunjuk-petunjuk dan pengarahan dari Bapak Kakanwil dan
Bapak Gubernur, rombongan berangkat menuju daerah lokasi kerja yang terdiri atas
4 pos, yaitu: pos I di Wowotobi ((W I), pos II di Wowotobi II (W2), pos III di Lahum-
buti Hilir 1 (LH1), dan pos IV di Lahumbuti Hilir II (LH2). Dengan demikian, rom-
bongan harus dibagi menjadi 4 Pokja (Kelompok Kerja) yang masing-masing dipimpin
oleh seorang dosen pembimbing. Di pos I dan II (di W1 dan W2) medannya cukup
baik, begitu pula transportasinya cukup lancar. Namun tidak demikian halnya di pos
III dan IV (di LH1 dan LH2), di sini medannya lebih sulit dan keras, jalan belum
diaspal dan penuh lubang serta amat becek. Saya mendapat tugas memimpin Pokja
di pos IV Lahumbuti Hilir II.
Pasukan yang terdiri dad 4 Pokja berangkat secara serentak dari Kota Kendari
menuju daerah lokasi kerja masing-masing yang jaraknya ± 65 km. Setelah menempuh
jalan mulus beraspal sejauh ± 47 km, Pokja yang akan ke Lahumbuti Hilir mau tidak
mau harus menempuh jalan neraka, yang membuat truk oleng ke kanan oleng ke
kiri -- berkali-kali rodanya hampir selip, namun masih dapat bertahan sampai akhir-
nya kira-kira 6 km menjelang sampai di tujuan, roda belakang truk selip masuk ke
dalam lumpur sehingga macet total. Saya selaku pemimpin rombongan tidak bisa
berbuat lain kecuali mengajak para anggota agar berjalan kaki saja sambil mencoba
minta bantuan kendaraan lain dari pos pusat di Kendari. Sebagian anggota rombongan
mengikuti saya berjalan kaki, sebagian lainnya yang merasa tidak mampu terpaksa
menunggu datangnya bantuan kendaraan dari pos pusat.
Matahari hampir terbenam ketika pasukan berjalan kaki tiba di daerah lokasi
kerja kemudian disusul oleh kelompok yang naik kendaraan. Kira-kira pukul 18.00
seluruh anggota rombongan sudah tiba di tempat tujuan dan disambut oleh Bapak.
Kepala Desa. Sambil menikmati kopi hangat dan singkong rebus saya memperkenal-
kan anggota rombongan yang seluruhnya berjumlah 25 orang dan akan melaksanakan
Kersoskes selama sepuluh hari.
Di tempat penginapan, kami tidak sempat beristirahat karena pada pukul 19.00
ada acara pertemuan tatap muka dengan para pemuka masyarakat dan masyarakat
transmigran di Balai Pertemuan Satuan Pemukiman Transmigran (BPSPT). Pak Kades
memperkenalkan rombongan kami kepada masyarakat transmigran secara kekeluarga-
an. Ada kesan bahwa masyarakat transmigran sangat antusias menerima kedatangan
kami, dalam sekejap kami telah berbaur akrab.
background image
Sesungguhnya ada tiga tugas pokok yang harus dijalankan, yaitu pelayanan
kesehatan, penyuluhan, dan penelitian (riset institusional). Dengan demikian, Pokja
dibagi menjadi tiga subkelompok. Subkelompok 1 menangani bidang pelayanan ke-
sehatan, subkelompok II bidang penyuluhan, dan subkelompok III bidang penelitian.
Acara ceramah dan penyuluhan dilaksanakan bersamaan dengan pelayanan kesehatan.
Cara ini biasanya lebih berhasil daripada ceramah melulu, karena warga masyarakat
tentu betah tinggal di tempat karena akan mendapat pengobatan gratis.
Lahumbuti Hilir merupakan daerah hutan pedalaman yang baru dibuka dan
masih menjadi tanggungan Kanwil Deptrans. Unit Pemukiman Transmigran (UPI) di
sini dibagi menjadi 6 Satuan Pemukiman Transmigran (SPT), yaitu SPT A, B, C, D,
E dan F. Jarak antara SPT yang satu dengan SPT lainnya rata-rata cukup jauh. Kami
mendapat tugas di SPT E dan F yang berjarak ± 6 km, dengan SPT E sebagai pos
utama. Jumlah penduduk di kedua SPT itu adalah 3532 jiwa meliputi 880 KK. Mereka
berasal dari Jawa, Bali, dan NTB. Kami mulai bekerja sejak matahari menyembul
di ufuk timur hingga menjelang larut malam. Tepat pukul 07.00 semua anggota Pokja
menuju pos masing-masing untuk melaksanakan tugas. Berbagai tugas rutin dikerjakan
selama sepuluh hari, yaitu pelayanan kesehatan, penyuluhan dan penelitian. Pelayanan
kesehatan berupa pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi masyarakat.
Penyuluhan di sin bukan saja meliputi bidang kesehatan, melainkan juga bidang lain-
nya, seperti pertanian, peternakan, hukm, PKK dan kesenian. Sedangkan penelitian
yang dikerjakan adalah survai data dasar penduduk, penelitian cacing filaria, dan
status gizi anak balita. Berkat kerja sama yang baik antara para anggota Pokja, dosen
pembimbing dengan warga masyarakat, semuanya dapat berjalan lancar.
Ada beberapa pengalaman yang cukup berkesan sewaktu melaksanakan pelayanan
kesehatan. Setiap hari rata-rata 100 pasien dapat dilayani. Mereka yang datang berobat
itu sebagian besar sebetulnya tidak sakit, maklum gratis. Anehnya lagi, semua pasien
minta disuntik. Kalau tidak, mereka tidak puas. Di pihak lain, para mahasiswa juga
memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar menyuntik. Bahkan ada yang belum
pernah melihat alat suntik juga ikut-ikutan terjun langsung. Karena ramainya pasien
yang datang, maka menjadi ramai pula acara suntik-menyuntik.
Suatu saat saya melihat seorang pasien ke luar dengan berlepotan cairan coklat
kemerahan. Pasien tersebut baru saja selesai disuntik. Belum sempat saya bertanya,
si pasien sudah mendahului. "Waktu disuntik tadi obatnya mancur ke luar karena
kelebihan obat. Tidak apa-apa ya, Dok ?" tanya si pasien. "Ya, tidak apa-apa !" saya
jawab sekenanya. Selain pengalaman yang menggelikan itu, ada juga pengalaman
yang menegangkan. Suatu ketika datang seorang pasien dengan luka parah terkena
clurit di tangannya, salah satu jarinya hampir putus. Kasus yang seharusnya dirujuk
ke Puskesmas atau RSU ditangani di tempat dengan peralatan apa adanya. Syukurlah,
dengan bermodal ketrampilan dan keyakinan, masalah ini dapat dituntaskan.
Jam berganti jam, hari berganti hari, tak terasa sepuluh hari sudah kami berada
di lokasi pemukiman transmigran. Sepuluh hari pula kami telah bergumul dengan
pekerjaan-pekerjaan di lapangan, berbaur akrab dengan para warga transmigran dalam
suka dan duka. Saat perpisahanpun akhirnya tiba. Seperti biasa, perpisahan dimeriah-
kan dengan berbagai acara, seperti malam kesenian, ramah tamah, dan tukar-menukar
tanda mata. Hampir semua anggota Pokja pulang membawa cendera mata berupa
tanduk menjangan, taring babi hutan dan benda-benda antik lainnya, sedangkan saya
sendiri tidak memboyong benda apa pun, kecuali sepotong kenangan yang tak pernah
terlupakan.
Dr. Ketut Ngurah
Laboratorium Parasitologi, FK Unud, Denpasar
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :
Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O. Box 3105, Jakarta 10002