background image
Perbandingan Mula Kerja dan Masa Kerja
Dua Anestetik Lokal Lidokain pada
Kasus Pencabutan G ig i
Molar Satu atau Dua Rahang Bawah
Dewi Fatma S*, Sunaryo**, Udin Syamsudin** Hendarmin Surja Susanto***
* Studio Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
** Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
*** Laboratorium Ilmu Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRACT
Lidocain is currently a local anaesthetic agent most widely used in dentistry,
because of its rapid onset, long duration of action and safety. As a local anesthetic
lidocain is commonly used as a 2 percent solution containing 1 : 80.000 adrenalin.
Lidocain (LC) is a trade name for lidocain that is routinely used in Puskesmas (Inpres
drug). Complaints about the insufficiency of LC are frequently reported by dentists
who work at these local health centres. On the other hand, a large body of informations
revealed that dentists_prefer to use another trade name of lidocain, namely "pehacain"
(PC).
The purpose of the present study is to compare the efficacy of LC vs.PC in
clinical use, i.e : in the extraction of the first or second molar of mandible. A total
of 60 patients is divided into two groups, consisting of 30 patients each. The first
group was treated with LC, whereas the second group was treated with PC, which were
locally injected as infiltration and block anesthesia. The onset of action of the drugs
was determined by prickling of the lip, tongue and buccal mucosa with a probe and
by doing a slight .luxation of the affected tooth, in every 1 minute interval.
The duration of action of the drugs was determined 1 hour after the onset of anes-
thesia, by pricking the anesthetized socket every 15 minutes.
The onset of action of LC was 560,7 ± 82,2 (mean ± SD) seconds, and that of PC
was 254,8 ± 32,0 seconds. The duration of action of LC was 124,5 ± 13,92 minutes,
while that of PC was 170 ± 9,1 minutes. The onset and duration of action of these
two drugs differed significantly (p < 0,01). The cause of the differences might lie on
the differences in the constituents of the drugs, such as the reducing agents, type of
preservation, the amount of vasoconstrictor added, etc.
PENDAHULUAN
Lidokain ialah anestetik lokal yang dapat diberikan secara
topikal maupun suntikan
1,2,
3. Sampai saat ini lidokain masih
merupakan obat terpilih untuk berbagai tindakan dalam
bidang kedokteran gigi, karena lidokain mempunyai potensi
anestesi yang cukup kuat, mula kerja cepat, masa kerja cukup
panjang dan batas keamanan yang lebar
1,4,5
. Obat ini ter-
masuk golongan amino asilamid yang jarang menimbulkan
alergi
3,6
. Rumus kimianya terdiri dari tiga komponen dasar
yaitu: gugus amin hidrofil, gugus residu aromatik dan gugus
intermedier
1,2
. (Gambar 1).
Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia,
8 April 1988, di Jakarta.
Gambar 1 : Rumus bangun lidokain
Lidokain pertama kali ditemukan oleh ahli kimia Swedia
yaitu Nils Lofgren pada tahun 1943. Lidokain dengan nama
dagang Xylocain merupakan anestetik lokal golongan -amino
asid amid yang pertama kali ditemukan
1,4,7,9
background image
Sifat kimia dan fisika : Lidokain mempunyai rumus dasar
yang terdiri dari gugus amin hidrofil, gugus residu aromatik
dan gugus intermedier yang menghubungkan kedua gugus ter-
sebut. Gugus amin merupakan amin tarsier atau sekunder,
antara gugus residu aromatik dan gugus intermedier dihubung-
kan dengan ikatan amid. Bersifat basa lemah dengan pKa
antara 7,5 ­ 9,0 dan sulit larut dalam air, kemampuan ber-
difusi ke jaringan rendah dan tidak stabil dalam larutan. Oleh
karena itu preparat anestetik lokal untuk injeksi terdapat
dalam bentuk garam asam dengan penambahan asam klorida.
Dalam sediaan demikian, anestetik lokal mempunyai ke-
larutan dalam air tinggi, kemampuan berdifusi ke jaringan
besar dan stabil dalam larutan
4,5
.
Mekanisme kerja. Setelah disuntikkan, obat dengan cepat
akan dihidrolisis dalam jaringan tubuh pada pH 7,4
4 5
, meng-
hasilkan basa bebas (B) dan kation bermuatan positif (BH).
Proporsi basa bebas dan kation bermuatan positif tergantung
pada pKa larutan anestetik lokal dan pH jaringan. Hubungan
kedua faktor tersebut dinyatakan dengan rumus: pH = pKa ­
log ( BH/B ) yang dikenal sebagai persamaan Henderson
Hasselbach.
1,10,11
Anestetik lokal dengan pKa tinggi cenderung mempunyai
mula kerja yang lambat. Jaringan dalam suasana asam (jaringan
inflamasi) akan menghambat kerja anestetik lokal sehingga
mula kerja obat menjadi lebih lama. Hal tersebut karena
suasana asam akan menghambat terbentuknya asam bebas
yang diperlukan untuk menimbulkan efek anestesi
1,5,8,9
Dari kedua bentuk di atas yaitu B dan BH, bentuk yang ber-
peran dalam menimbulkan efek blok anestesi masih banyak
dipertanyakan. Dikatakan baik basa bebas (B) maupun kation-
nya (BH
`
) ikut berperan dalam proses blok anesteri. Bentuk
basa bebas (B) penting untuk penetrasi optimal melalui se-
lubung saraf, dan kation (BH) akan berikatan dengan reseptor
pada sel membran
10,11
. Cara kerja anestetik lokal secara
molekular (teori ikatan reseptor spesifik) adalah sebagai
berikut : molekul anestetik lokal mencegah konduksi saraf
dengan cara berikatan dengan reseptor spesifik pada celah
natrium. Seperti diketahui bahwa untuk konduksi impuls
saraf diperlukan ion natrium untuk menghasilkan potensial
aksi saraf
1,2,12
.
Efek samping. Penggunaan lidokain jarang menimbulkan
efek samping. Efek samping sering terjadi karena adrenalin
yang ditambahkan sebagai vasokonstriktor, ialah berupa
palpitasi, sakit kepala, ansietas dan takikardi
3,4,8
Lidokain yang biasa digunakan dalam bidang kedokteran
gigi adalah lidokain 2% dengan adrenalin 1 : 80.000
7
. Dosis
anestesi infiltrasi lidokain adalah 0,5 ­ 1 ml, dan akan me-
nimbulkan pati rasa kira-kira setelah 1­2 menit dan ber-
langsung selama lebih kurang satu jam. Sedangkan untuk
anestesi blok diperlukan dosis 1­2 ml dan akan menimbul-
kan pati rasa setelah 1­4 menit dan berlangsung selama lebih
kurang 2­4 jam. Dosis maksimal lidokain dengan epinefrin
adalah 500 mg, sedangkan lidokain tanpa epinefrin
300 mg
1,3,5,6
.
Mula kerja dan masa kerja obat anestetik lokal merupakan
salah satu faktor penting dalam melakukan berbagai tindakan
dalam bidang kedokteran gigi. Mula kerja dan masa kerja
obit ini dipengaruhi antara lain oleh mutu obat anestetik
lokal, anatomi individu, teknik melakukan anestesi dan res-
pons individu terhadap obat
4,5,7,8
.
Faktor mutu obat aneste-
tik lokal dipengaruhi antara lain oleh bentuk formulasi obat,
adanya bahan penambah seperti vasokonstriktor, bahan pe-
ngawet dan antioksidan
4,5
.
Adanya keluhan dokter-dokter gigi di Puskesmas tentang
mutu obat Inpres lidokain 2% (LC) yang kurang memadai
menjadi latar belakang masalah penelitian ini. LC dikatakan
mempunyai mula kerja lama dan masa kerja singkat serta
sering menimbulkan efek samping. Atas dasar hal tersebut,
dokter gigi di Puskesmas jarang menggunakan LC, tetapi
menggunakan lidokain lain (PC) yahg mempunyai komposisi
sama dengan LC. PC banyak digunakan pada Rumah Sakit
Pendidikan dan praktek swasta dokter gigi di Indonsia.
TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan mula
kerja dan masa kerja dua anestetik lokal lidokain 2% (dengan
penambahan adrenalin 1 80.000), yaitu LC dan PC pada
kasus pencabutan gigi molar satu atau dua rahang bawah.
BAHAN DAN CARA
Percobaan ini terdiri dari dua tahap yaitu :
1)
Penelitian pendahuluan tentang mula kerja LC dan PC pada
20 orang pasien untuk menentukan besar sampel.
2)
Penelitian perbandingan mula kerja dan masa kerja antara
anestetik lokal LC dan PC.
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian pertama
dan kedua sama;
Alat dan bahan. Alat suntik sekali-pakai 2,5 ml, pinset,
sonde lurus, kaca mulut, bein, tang cabut, pencatat waktu, alat
pengukur kadar gula darah (Refloflux
®
), tensi meter dan
stetoskop.
Obat : anestetik lokal LC dan PC masing-masing mengan-
dung 20 mg lidokain dan 0,0125 mg adrenalin tiap mililiternya
(2% lidokain). Juga disediakan parasetamol, antalgin,
ampisilin dan adrenalin.
Cara : Penelitian pendahuluan dilakukan secara tersamar
dengan perlakuan acak pada 20 orang pasien, masing-masing
10 orang untuk LC dan 10 orang untuk PC. Pasien adalah
orang yang diindikasikan untuk pencabutan gigi molar satu
atau molar dua rahang bawah, kiri atau kanan.
Tiap pasien mendapat satu macam anestetik lokal PC atau
LC, dengan dosis total 2 ml. Mula kerja PC dan LC pada setiap
pasien diukur. Cara pemberian anestetik lokal (LC dan PC)
sama seperti yang akan dilakukan pada penelitian sesungguh-
nya (tahapan kerja ke dua).
Hasil penelitian pendahuluan tentang mula kerja LC dan PC
dipergunakan untuk menentukan besar sampel untuk peneliti-
an sesungguhnya (tabel 1).
Dengan adanya perbedaan mula kerja yang bermakna antara
LC dan PC maka jumlah sampel dapat ditentukan dengan
menggunakan tabel. Besar sampel dengan beta () 0,20 dan
alfa () 0,05 adalah kurang dari 30 untuk setiap grup. Se-
lanjutnya jumlah sampel ditentukan 60 orang untuk kedua
grup
13
.
PENELITIAN
Disain
Penelitian dilakukan secara tersamar ganda dengan perlaku-
an acak pada 60 orang pasien, terdiri dari 30 orang untuk tiap
kelompok obat. Selanjutnya kelompok obat tersebut disebut
background image
Tabel I. Mula keija LC dan PC pada 20 orang pasien (penelitian pen-
dahuluan).
Mula kerja
(detik)
No
PC LC
1. 260
580
2. 225
505
3. 300
443
4. 240
370
5. 240
525
6. 240
585
7. 128
320
8. 165
435
9. 153
600
10. 180
615
X
l
=
2.131 X2
=
4.978
X
l
=
213,1 X2
=
497,8
SD
=
54,08 SD
=
102,32
Nilai t hitung = 7,78, nilai t tabel (df = 15) = 2,974 sehingga terdapat perbedaan
mula kerja antara LC dan PC (p <0,01).
kelompok LC dan kelompok PC. Setiap pasien mendapat satu
macam obat LC atau PC dengan cara anestetik blok untuk
nervus alveolaris inferior dan nervus lingualis dan secara
infiltrasi untuk nervus buccalis. Dosis total yang digunakan
adalah 2 ml.
Pemilihan pasien
·
Pasien adalah orang yang diindikasikan untuk pencabutan
gigi molar satu atau dua rahang bawah, kiri atau kanan, pria
atau wanita tidak hamil, berusia 20 ­ 40 tahun, sudah pernah
mengalami pencabutan gigi dengan anestetik lokal, pendidikan
minimal tamat sekolah dasar.
·
Sehat berdasarkan anamnestis dan keadaan umum.
·
Tidak menderita penyakit diabetes melitus (berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan laboratorium), hipertensi, serta
penyakit sistemik lainnya.
·
Secara klinis tidak ditemukan adanya kontraindikasi untuk
pencabutan gigi,. misalnya infeksi setempat dan peradangan.
·
Pasien tidak minum obat analgetik minimal 24 jam sebelum
pencabutan gigi.
·
Pasien bersedia mengikuti prosedur percobaan ini dan ber-
sedia menunggu selama 3 jam setelah pencabutan dengan me-
nandatangani suatu informed consent.
Aestetik lokal yang digunakan
Tiap mililiter kedua obat anestetik lokal (LC dan PC)
mengandung komposisi yang sama yaitu : 20 mg lidokain HC1
dan 0,0125 mg epinefrin.
Cara
Anestesi dilakukan di dua tempat yaitu daerah sulkus
mandibularis sebanyak 1 ml LC atau PC untuk nervus alveo-
laris inferior, 0,5 ml LC atau PC untuk nervus lingualis dan
pada daerah sulkus bukalis gigi molar rahang bawah sebanyak
0,5 ml LC dan PC untuk nervus buccalis. Teknik anestesi
dilakukan dengan anestesi blok secara langsung (single path
technique) dan infiltrasi.
Setelah itu dilakukan observasi timbulnya pati rasa pada
tiga tempat yaitu daerah mukosa bukan gigi yang akan dicabut
(untuk anestesi infiltrasi), daerah 2/3 anterior lidah ipsilateral,
daerah separuh bibir bawah pada sisi yang akan dicabut
(untuk anestesi blok). Observasi dilakukan dengan menusuk-
kan sonde lurus pada daerah yang diobservasi dengan interval
1 menit atau setelah subyek merasakan pati rasa pada bibir
dan lidah lalu dilakukan luksasi ringan. Mula kerja dihitung
dari saat penyuntikan selesai sampai saat luksasi ringan yang
tidak menimbuikan rasa sakit dan siap untuk dilakukan pen-
cabutan.
Bila pati rasa sudah terjadi, dilakukan pencabutan gigi.
Setelah pencabutan pasien diminta menunggu selama tiga
jam, untuk observasi masa kerja anestetik lokal. Observasi
dilakukan setelah 1 jam kemudian setiap 15 menit berikutnya
sampai 3 jam atau sampai subyek sudah merasa hilangnya pati
rasa pada salah satu atau ke tiga daerah observasi. Lama
kerja obat anestesi dihitung dari mulai timbulnya pati rasa
sampai timbulnya rasa sakit pada daerah soket bekas pencabut-
an gigi pada waktu dilakukan penusukan sonde lurus.
Penyuntikan obat anestesi lokal dilakukan oleh satu orang.
Efek samping
Kemungkinan adanya efek samping diamati setelah pem-
berian obat anestesi atau meminta pada pasien untuk me-
laporkan pada peneliti jika ada keluhan yang dirasakan.
Analisis statistik
Besar sampel 60 orang pada dua kelompok, dibagi atas
30 orang mendapat PC dan 30 orang mendapat LC. Perbanding-
an mula kerja dan masa kerja dihitung dengan student t-test
14
.
Rumus yang digunakan :
X = nilai rata-rata kelompok
N = besar sampel tiap kelompok
S = standar deviasi
t = nilai t hitung
df = derajat kebebasan
HASIL
Pada penelitian pendahuluan, mula kerja LC dan PC pada
pencabutan gigi molar satu atau dua rahang bawah dapat dilihat
pada tabel I.
Pada penelitian terhadap 60 pasien yang dilkukan pen-
cabutan gigi molar satu atau dua rahang bawah, telah dilaku-
kan penentuan mula kerja dan masa kerja dua anestetik lokal
LC dan PC. Nilai mula kerja dan mass kerja dari 60 pasien
dapat dilihat pada tabel II sampai V.
Dengan menggunakan student t-test, ternyata perbedaan
nilai waktu mula kerja (detik) dan masa kerja (menit) antara
LC dan PC berbeda bermakna (p < 0,01). (tabel III dan V).
Mengingat mula kerja obat pada penelitian ini ditemukan ber-
dasarkan tidak adanya rasa sakit atau timbul pati rasa waktu
background image
Tabel II. Mula kerja PC dan LC pada 60 pasien.
Mula kerja
(timbulnya pati rasa setelah luksasi)
(detik)
No.
PC LC
1. 270
495
2. 260
552
3. 210
605
4. 212
485
5. 189
605
6. 251
390
7. 250
510
8. 245
510
9. 255
485
10. 210
433
11. 251
606
12. 255
545
13. 245
570
14. 250
510
15. 274
606
16. 260
550
17. 260
634
18. 310
510
19. 252
607
20. 270
555
21. 195
611
22. 210
790
23. 270
690
24. 311
550
25. 260
494
26. 278
605
27. 265
486
28. 308
725
29. 260
547
30. 308
560
X
1
=7.644 X
2
=16.821
Tabel III. Pengolahan data mula kerja LC dan PC pada 60 pasien.
Terdapat perbedaan bermakna antara mula kerja PC dan LC (p.<0,01).
dilakukan luksasi atau rotasi ringan, maka data pada Tabel II
adalah waktu (detik) di mana pada saat luksasi ringan pasien
tidak merasa sakit lagi, sehingga sudah siap dilakukan
pencabutan. Sedangkan Tabel IV menunjukkan masa kerja
anestetik lokal brdasarkan timbulnya rasa sakit jika dilaku-
kan sondase dengan sonde lurus pada soket bekas pencabutan
gigi.
Dari 60 kasus pencabutan gigi yang menggunakan LC dan
Tabel IV. Mass kerja PC dan LC pada 60 pasien.
Masa kerja
(menit)
No.
PC LC
1. 165
105
2.
180
120
3.
180
165
4.
165
120
5.
165
135
6.
150
120
7.
165
135
8.
180
135
9.
165
120
10.
165
105
11.
180
120
12.
165
120
13.
165
'120
14.
180
135
15.
165
105
16.
165
120
17.
165
120
18.
150
135
19.
180
135
20.
180
105
21.
180
150
22.
180
120
23.
180
150
24.
180
135
25.
165
120
26.
180
120
27.
165
120
28.
165
135
29.
165
120
30. 165
120
Y
1
= 5.000 Y
2
=
3.655
Tabel V. Pengolahan data masa kerja LC dan PC pada 60 pasien.
Masa kerja
(menit)
PC LC
Jumlah sampel (orang)
30
30
Nilai rata-rata masa kerja
(menit)
170 124.5
Simpang baku (SD)
9.1
13,92
Kesalahan baku nilai
rata-rata
1.7 5.8
df 5
2
t hitung
14,68
t tabel
2,73
Terdapat perbedaan bermakna antara mula kerja PC dan LC dengan
p <0,01.
PC tidak ditemukan efek samping.
background image
DISKUSI
Dari penelusuran pustaka telah diketahui bahwa lidokain
mempunyai mula kerja cepat dan masa kerja cukup panjang
serta aman. Walaupun demikian dua preparat lidokain dari
dua pabrik yang berlainan mungkin mempunyai mula kerja
dan masa kerja yang berbeda. Mula kerja yang lama akan
menyebabkan dokter gigi ragu akan keberhasilan anestesi
blok yang dilakukan, pada saat akan mencabut gigi molar
satu atau dua rahang bawah. Perbedaan mula kerja dan masa
kerja dua anestetik lokal yang mempunyai komposisi yang
sama dapat terjadi, antara lain karena perbedaan kemurnian
bahan baku, formulasi obat yang pada akhirnya akan me-
nentukan mutu obat tersebut. Standar anestetik lokal lidokain
pada Farmakope Indonesia 1972 menyatakan bahwa : injeksi
lidokain adalah larutan' steril lidokain hidroklorid dalam air
untuk injeksi, boleh mengandung tidak lebih dari 0,001%
epinefrin. Kadar lidokain hitlroklorid tidak kurang dari 95%
.dan tidak lebih dari 105% dari jumlah yang tertera pada
etiket, sedangkan epinefrin tidak kurang dari 90% dan tidak
lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket
13,15,16,17
.
Perbedaan formulasi dapat terjadi karena perbedaan bahan
baku, zat penambah (epinefrin, antioksidan, fungisid), cara
pembuatan, pH dan lain-lain.
Pada penelitian terhadap 60 orang pasien, ternyata mula
kerja dan masa kerja LC dan PC secara statistik berbeda ber-
makna (p < 0,01). Mula kerja rata-rata PC (254,8 detik),
lebih cepat dari mula kerja rata-rata LC (560,7 defile) dan
rata-rata masa kerja PC (170 menit) lebih lama dari masa
kerja rata-rata LC (124,5 menit). Dari hasil tersebut di atas
secara klinis mula kerja PC dan LC berbeda bermakna, sedang-
kan masa kerja PC dan LC secara klinis tidak berbeda ber-
makna.
LC dan PC mempunyai komposisi yang sama yaitu terdiri
dari lidokain, HC1 20 mg dan adrenalin 1 : 80.000, tetapi zat
penambah LC dan PC berbeda (tabel VI dan VII).
Tabel VI. Komposisi satu ampul PC yang berisi 2 ml larutan.
pH
=
3,5
­
4,23
pKa
7,9
Tabel VII. Komposisi satu ampul LC yang berisi 2 ml larutan.
pH
:
3
pKa
:
7,9
Untuk mengetahui kemungkinan adanya kadar lidokain
dan adrenalin LC dan PC yang tidak memenuhi syarat Farma-
kope Indonesia, dilakukan pengujian ulang pada masing-
masing pabrik pembuat. Kadar lidokain LC ditentukan dengan
cara spektrofotometri (Shimadzu UV 240, UV visible recor-
ding dan Option Program/Interface OPI ­ 1), sedangkan
kadar lidokain PC ditentukan dengan cara titrasi dengan
larutan Perchlaric acid 0,1 N. Kadar adrenalin LC ditentu-
kan dengan cara spektrofluorometri (Shimadzu spectrofluoro-
meter Rf 520), sedangkan kadar adrenalin PC ditentukan
dengan cara HPLC (High Performance Liquid Chromato-
graphy) (Waters 510 Solvent Delivery System, Waters U6K
Universal Injector dan Waters M 490 Programmable Multi-
wavelength Detector). Kadar adrenalin PC adalah 97,49%
sedangkan LC 95,60%. Kadar lidokain PC 99,52% sedang-
kan kadar lidokain LC 101,26%. Dari hasil uji ulang ini maka
kadar lidokain dan adrenalin LC dan PC masih memenuhi
syarat Farmakope Indonesia.
Faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi per-
bedaan mula kerja dan masa kerja LC dan PC adalah per-
bedaan fonnulasinya.
Bahan baku : Bahan baku yang dipergunakan setiap pabrik
berbeda, tergantung standar yang digunakan pabrik. Ada
beberapa standar bahan baku antara lain standar USP­NF
(United States Pharmacopeia­National Formulary) BP (British
Pharmacopoeia) dan Farmakope Indonesia. Dalam standar ini
ditetapkan batasan % lidokain dan epinefrin yang terdapat
pada tiap ampul obat anestesi lokal. Setiap pabrik mem-
punyai batasan % kemurnian bahan baku lidokain dan epine-
firin.
Bahan. penambah : Dilihat dari formulasinya LC dan PC
mempunyai bahan penambah yang berbeda, perbedaan ini
mungkin mempengaruhi mutu obat anestesi lokal tersebut.
Bahan penambah tersebut antara lain;
Titriplex III; sebagai anti logam atau chelating agent dengan
maksud mengikat trace element yang mungkin terdapat pada
larutan obat anestesi.
Na/K metabisulfit; suatu antioksidan; seperti diketahui
vasokonstriktor tidak stabil dalam larutan dan dapat meng-
alami oksidasi, khususnya jika terkena sinar matahari dalam
waktu lama, sehingga larutan anestetik berubah menjadi coklat.
Dengan menambah sedikit larutan Na metabisulfit maka
adrenalin dapat lebih stabil.
Metilparaben adalah larutan konservan.Anestetik lokal biasa-
nya sangat stabil dan mempunyai batas waktu pemakaian yang
panjang yaitu sampai 2 tahun atau lebih. Stabilitas didapat
dengan memasukkan sejumlah kecil zat penambah seperti
metilparaben. Metilparaben ini pada beberapa orang yang sen-
sitif dapat menimbulkan reaksi alergi.
Asam tartrat; Diperlukan untuk membuat larutan adre-
nalin bitartras dalam kolf.
Vasokonstriktor: Penambahan vasokonstriktor untuk me-
ngurangi kecepatan absorpsi, sehingga mengurangi toksisitas
sistemik dan memperpanjang masa kerja obat di tempat
suntik. Faktor ini penting dalam menentukan mula kerja dan
masa kerja anestetik lokal. Vasokonstriktor yang ditambah-
kan secara teoritis akan menjadikan pH larutan menjadi lebih
rendah sehingga mula kerja menjadi lebih lama, tetapi masa
kerja menjadi lebih panjang. Pada formula LC epinefrin yang
ditambahkan (40 mcg) lebih banyak dari pada epinefrin PC
(25 mcg). Maka mula kerja LC lebih lama, tetapi seharusnya
masa kerjanya lebih panjang dari· PC. Pada kenyataannya
masa kerja LC adalah lebih singkat daripada masa kerja PC,
background image
mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi kerja epinefrin
tersebut. Adrenalin sebagai vasokonstriktor yang ditambah-
kan mempunyai 2 bentuk isomer yaitu 1 dan d, bentuk aktif
adalah 1. Jila LC dan PC mempunyai jumlah % bentuk 1 dan d
yang berbeda maka akan mempengaruhi kerja vasokonstriktor
tersebut.
Faktor pH; pH anestetik lokal mempengaruhi kerja obat
tersebut, karena pH yang rendah dapat mempengaruhi farma-
kodinamik obat yaitu menimbulkan rasa sakit. Pada
kedua
larutan obat dilakukan uji ulang pH dengan menggunakan
alat Micro 52 Pocket pH meter (Uniloc). Ternyata pH LC
2,3 dan pH PC 3,2. pH LC terlalu rendah jika dibandingkan
dengan pH standar obat anestesi lokal lidokain dengan adre-
nalin yaitu 3,3 ­ 5,5. Tetapi walaupun demikian pengaruh
dari perbedaan pH ini kecil sekali.
RINGKASAN
Telah dilakukan penelitian perbandingan mula kerja dan
masa kerja LC (anestetik lokal dari pabrik A) dan PC (anes-
tetik lokal dari pabrik B), pada kasus pencabutan gigi molar
satu atau dua rahang bawah. Penelitian ini dilakukan karena
ada keluhan dari dokter gigi yang menyatakan bahwa, LC
mula kerjanya lama dan masa kerjanya singkat serta sering
menimbulkan efek samping.
Penelitian ini dibagi atas dua tahap, yaitu pertama: pene-
litian pendahuluan, yaitu untuk membandingkan mula kerja
LC dan PC pada 20 kasus pencabutan gigi molar satu atau
dua rahang bawah. Dari hasil penelitian ini dapat ditetapkan
jumlah sampel pada tahap ke dua (penelitian utama). Kedua:
penelitian utama, yaitu penelitian untuk membandingkan
mula kerja dan masa kerja LC dan PC pada 60 kasus yang
diindikasikan untuk pencabutan gigi molar satu atau dua
rahang bawah.
Dari penelitian pendahuluan ditemukan adanya perbedaan
yang bermakna (p < 0,01) antara mula kerja LC dan PC.
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan ditetapkan jumlah
sampel untuk penelitian utama yaitu 60 pasien, terdiri dari
30 pasien mendapat LC dan 30 pasien mendapat PC.
Penelitian utama dilakukan secara tersamar ganda dengan
perlakuan acak pada 60 orang pasien. Hasil penelitian me-
nunjukkan bahwa rata-rata mula kerja LC adalah (560,7 ±
82,8) detik, dengan kisaran (390­790) detik; sedangkan
mula kerja rata-rata PC adalah (254,8 ± 32) detik, dengan
kisaran (189­310) detik. Masa kerja LC rata-rata adalah
(124,5 ± 13,5) menit dengan kisaran (105­150) menit;
sedangkan masa kerja rata-rata PC (170 ± 9,1) menit dengan
kisaran (150­180) menit. Mula kerja dan masa kerja LC
dan PC berbeda bermakna dengan p < 0,01. Perbedaan ini
mungkin disebabkan perbedaan formulasi obat, yaitu per-
bedaan bahan baku, vasokonstriktor, zat penambah lain dan
pH, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Selama menggunakan LC dan PC dalam penelitian ini tidak
ditemukan efek samping.
KESIMPULAN
1)
Mula kerja LC lebih lama dari pada mula kerja PC.
2)
Masa kerja LC lebih singkat dari pada masa kerja PC.
3)
Secara klinis perbedaan mula kerja LC dan PC bermakna.
4)
Secara klinis perbedaan masa kerja LC dan PC tidak ber-
makna.
KEPUSTAKAAN
1.
Ritchie JM, Greene NM. Local anesthetics. Dalam: Goodman LS,
Gilman 'AG, Rail TW, Murad F, eds. Goodman and Gilman's The
Pharmacological Basis of Therapeutics. 7th ed. New York,
Toronto, London : Macmillan Publ Co 1985 : 302­21.
2.
Hondeghem LM, Miller RD. Local anesthetics. Dalam: Bertram G
Katzung, eds. Basic and Clinical Pharmacology. 2nd ed. USA :
Lange Medical Publication, 1985 : 293­8.
3.
Meyer FH, Jawetz E, Goldfien A. Local anesthetics. Review of
Medical Pharmacology. Maruzen Asia : Lange Medical Publication.
1974 : 209­17.
4.
Milam SB, Giovannitti JA. Local anesthetics in dental practice.
Dalam: Tommy G, eds. Dental Clinics of North America. Phila-
delphia : WB Saunders Company, 1984; 28 : 493­508.
5.
Howe GL, Whitehead FHI. Local anesthetics solution. Dental
Practitioner Hand Book. 2 d ed. Bristol : John Wright & Sons,
1981 ;16­21.
6.
Martindale. Lignocain and other local anesthetics. Dalam: James
EF Reynolds, Anne B Prasad, eds. The Extra Pharmacopoeia.
27th ed. London: The Pharma Central Press, 1982 : 857­9.
7.
Cawson RA. Spector RG. Local analgesia. Clinical Pharmacology
in Dentistry. 4th ed. New York, Churchill, Living Stone : 216-228.
8.
AMA Drug Evaluation. Local anesthetics. 5th ed. Philadelphia:
WB Saunders Company, 1977 373­93.
9.
Requa BS, Holroyd SV. Local anesthetics. Applied Pharmacology
for the Dental Hygienist. St Louis : The CV Mosby Company,
1982 : 154­165.
10.
Strichartz GR. Current concepts of action of local anesthetics.
J. Dent Rest 1981; 60 : 1460­7.
11.
Strichartz GR. Molecular mechanisms of nerve block by local
anesthetics. Anesthesiology 1976; 45 : 421­41.
12.
Jastak JT, Yagiela JA. Regional Anesthesia of the Oral Cavity.
St. Louis, Toronto, London : The CV Mosby, 1981 : 1­200.
13.
Muchtar A, Darmansjah I, Setiawati A, Sumarsono, Soedibyo S.
Pedoman pelaksanaan uji klinik. Seri Farmakologi Kilnik 1985;
2:81­3.
14.
Dixon WJ, Massey FJ. Inference : Two population. Introduction
to Statistical Analysis. 3rd ed. New York : MCGraw­Hill Book
Company, 1969 : 119­464.
15.
Farmakope Indonesia. Injeksi lidokaina. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 1971; II : 329­30.
16.
British Pharmacopoeia. Lignocaine and adrenalin injection. Lon-
don : University Printing House Cambridge, 1973 : 265­6.
17.
The United States Pharmacopeia­The National Formulary.
Lidocaine hydrochloride and epinephrin injection. 20th ed­15 th
ed. Washington DC: United States Pharmacopeiae Convention
INC, 1980 : 449.