background image
Etiologi
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Dr. Imran Lubis
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Depart emen Kesehatan RI., Jakarta
PENDAHULUAN
Menurut angka statistik tahun 1983, angka kematian bayi
(IMR) tahun 1983 masih sangat tinggi, yaitu 93,0/1000 ke-
lahiran. Salah satu penyebab utamanya ialah: Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA). Pada terutama kelompok Balita,
diketahui bahwa setiap anak akan mendapat serangari ISPA
6 ­ 8 kali setahun dan 20% di antaranya akan meninggal
karena gejala penyakitnya bertambah berat. Maka jelaslah
bahwa penanggulangan ISPA merupakan salah satu program
yang diutamakan.
Berdasarkan data epidemiologi dan studi sejenis,sekarang
ini sudah banyak yang diketahui tentang masalah ISPA.
Namun demikian masih ada beberapa hal yang cenderung
menjadi penting dan perlu diketahui lebih lanjut. Misalnya
saja ISPA pada negara berkembang masih lebih banyak di-
sebabkan oleh golongan bakteri daripada golongan virus;
perlu ditentukan jenis antibiotika yang paling tepat meng-
ingat pola resistensi bakteri terhadap antibiotika tertentu
cenderung berbeda menurut waktu maupun daerah; pe-
ngelolaan penderita ISPA secara lebih bermutu di tingkat
masyarakat, Puskesmas, dan Rumah Sakit.
Dari masalah pokok tentang kecenderungan tersebut,
jelaslah bahwa penentuan etiologi ISPA menjadi bagian yang
terpenting. Berdasarkan pengetahuan tentang etiologi ISPA
tersebut maka upaya pengobatan, rujukan, penyuluhan dan
yang lain dapat dilaksanakan dengan lebih mantap.
Makalah ini akan membahas mengenai kemungkinan
dari berbagai macam etiologi ISPA berdasarkan data sendiri
maupun data negara lain, beberapa sifat penting dan kebutuh-
an suatu studi lapangan. Keterangan tersebut masih belum
mampu untuk dipakai sebagai masukan kebijaksanaan pro-
gram tetapi cukup berarti untuk mengambil langkah peren-
canaan masa datang.
KEADAAN DAN MASALAH
Keadaan
Selama Pelita III dan Pelita IV Puslit Penyakit Menular
Dibacakan pada Seminar Penyakit Menular, Jakarta 21-24 Maret 1988
telah menunjang program penanggulangan ISPA secara tidak
langsung yaitu dengan menunjang program immunisasi Difteri,
Pertusis dan Campak. Sedangkan etiologi lain sebagai pe-
nyebab ISPA masih belum secara langsung ditunjang penuh.
Di samping itu, bagian klinik dan laboratorium universitas
maupun rumah sakit di beberapa kota dan Survai Kesehatan
Rumah Tangga telah menghasijkan data mengenai: penyakit
dan kesakitan ISPA, etiologi ISPA, pengelolaan penderita
dan kerentanan bakteri terhadap antibiotika. Kemampuan
yang sudah ada perlu digalang bersama secara lebih efektif,
dengan metoda standar, sehingga dapat diperbandingkan
untuk membuat kesimpulan yang lebih akurat.
Masalah
Berdasarkan Survai Kesehatan Rumah Tangga 1980 dan
1985/1986 angka kematian bayi dengan sebab utama penyakit
saluran pemapasan, tidak termasuk penyakit yang dapat di-
imunisasi, adalah 22,6/100 kematian (no. 2) pada tahun
1980 kemudian menurun menjadi sebagai sebab utama pada
14,4/100 kematian bayi (no. 4) dan sebagai sebab pendamping
pada 27,7/100 kematian bayi (no. 2) dari 12 penyebab ke-
matian bayi.
Dilihat dari angka kematian bayi menurut usia (1985/86)
dan tidak termasuk penyakit yang dapat diimunisasi adalah:
umur kurang dari 1 bulan 62,9/100.000 lahir hidup (no. 5),
umur 1 ­ 11 bulan 968,4/100.000 lahir hidup (no. 2) dan
umur 0 ­ 11 bulan 1081/100.000 lahir hidup (no. 4) dari 15
penyebab kematian bayi.
Angka kesakitan ISPA dapat dilihat dari data penyakit-
penyakit yang menyerupai influenza di Indonesia, Dit. Jen.
P2M & PLP tahun 1979 ­ 1981 (Grafik 1).
Tampak bahwa setiap tahun penderita penyakit seperti flu
mempunyai gambaran yang serupa, dengan jumlah kesakitan
terendah tahun 1979 dan tertinggi tahun 1980. Jumlah ke-
sakitan berkisar antara 140.000 ­ 600.000 per bulan dengan
angka terendah selama musim hujan (Oktober ­ Desember)
dan tertinggi selama permulaan musim panas (Januari ­ Maret).
background image
Grafik 1. Jumlah penderita penyakit seperti Flu yang dilaporkan dari
Puskemas,
Indonesia,
1979-1981.
ETIOLOGI
Laporan dari RSU Semarang yang berdasarkan suatu
studi selama 3 bulan atas spesimen Nasopharyngeal Aspirate
(NPA) yang diambil dari 79 anak dirawat dengan ISPA, mem-
beri gambaran seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah dan persentase isolasi bakteri dari 79 anak di bawah
umur 14 tahun dengan ISPA di RSU Semarang, 1983.
Isolasi bakteri
Jumlah
Kasus
Persen
Streptococcus beta
7 8.86
Streptococcus alpha
27 34.18
Streptococcus alpha and beta
6 7.59
Streptococcus aureus
4 5.06
Staphylococcus albus
4 5.06
Diplococcus pneumoniae
3 3.80
H. influenza
2 2.53
Streptococcus and Staphylococcus 8
10.13
Lain-lain 18
22.79
Total 79
100.0
Tampak bahwa Streptoccocus alpha paling dominan kemudian
infeksi campuran dari Streptoccocus dan Staphylococcus.
Data dari Manila, Filipina, menunjukkan jumlah kuman
patogen yang diisolasi dari penderita ISPA menurut umur dan
bulan sakitnya, Januari ­ Oktober 1984. tamnak nada Tabel 2.
H. influenzae, Streptococus pneumoniae dan Klebsiella me-
rupakan yang paling dominan sebagai penyebab ISPA setiap
bulan. Jumlah isolasi bakteri patogen penderita ISPA menurut
umur di Manila pada bulan Januari ­ Oktober 1983 tampak
pada Tabel 3.
Pada Tabel 3 tampak bahwa ada 4 penyebab utama ISPA
pada anak yaitu: H. Influenzae, Streptoccocus pneumoniae,
Klebsiella dan E. Coll. Terutama menyerang anak golongan
umur 0 ­ 11 bulan dan golongan 1 ­ 4 tahun. Makin ber-
tambah umur anak maka jumlah patogen bakteri yang diisolasi
makin menurun, mungkin karena pada umur lebih tua etiologi
ISPA bergeser ke penyebab virus.
Etiologi ISPA yang disebabkan karena golongan virus tampak
pada Tabel 4.
Tampak bahwa etiologi ISPA karena golongan virus pada anak
umur 0 ­ 4 tahun tidak tinggi yaitu 20 ­ 30% dari seluruh
jumlah spesimen.
Dari data lain diketahui bahwa infeksi S. pneumoniae
mempunyai angka kematian yang tertinggi, (CFR 32,4%)
dibandingkan dengan infeksi bakteri lainnya.
Bila dibandingkan dengan penyakit menular lainnya,
etiologi ISPA dapat terdiri dari bermacam-macam bakteri,
virus dan jamur. Dari sudut gejala klinik saja masih belum
dapat dibedakan etiologi ISPA menurut jenis kuman pe-
nyebabnya. Oleh karena itu, untuk memutuskan rantai
penularan penyakit ISPA, salah satu kebutuhan yang utama
adalah selalu mengikuti pola etiologi yang dominan pada
daerah dan waktu tertentu dan menghubungkannya dengan
gejala klinik maupun efek sampingannya.
Beberapa sifat yang diketahui dari bakteri penyebab ISPA
adalah:
1)
Streptococcus: dapat menyebabkan Demam Rematik.
S. influenzae, S. pneumoniae golongan H, B, A, E.
Terdapat 27 tipe menurut Danish, mengeluarkan alpha
haemolyticus, ada/tidak berkapsul.
Streptococcus dapat menimbulkan pernanahan; S. aga-
lactiae menyebabkan sepsis dan neonatal endokarditis. S. equi-
similis dan S. canis dapat menyebabkan faringitis epidemik.
B­haemolyticus streptococcus dibagi menjadi golongan
B, C, G, S; mengandung Streptolvsin 0 atau S.
O­haemolyticus streptococcus tidak mempunyai Strepto-
lysin S.
Streptococcus dapat juga dibagi menurut A, B, C, D, E,
F, G.
2)
Haemophilus: golongan A s/d F. Golongan B menyebabkan
pneumonia, bakteremia, dan meningitis; mengandung alpha
haemolyticus dan b­lactamase.
Jenisnya: H. influenzae, H. aegypti, H. parainfluenzae,
H. haemolyticus, H. para haemolyticus, H. ducrei, H. aphro-
philus.
3)
Bordetella pertussis dan B. parapertussis.
4)
Neisseria meningitis, mempunyai serotipe: A, B, C, D, X,
Y, Z, 29E dan W 135; mengeluarkan b­lactamase.
Jenisnya: N. meningitis, N. lactamica, N. gonorrhoe.
5)
Branhamella catarrhalis menyebabkan meningitis, pneu-
moni, septikemi, endokarditis, otitis media, sinusitis; me-
ngandung b­lactamase.
6)
Staphyloccocus aureus dan S. epidermidis.
7)
Enterobacteriacae termasuk: Klebsiella, Salmonella chole-
raesius, E. coli penyebab sepsis neonatal dan meningitis.
8)
Corynebacterium diphtheriae.
Sedangkan dari golongan virus penyebab ISPA adalah:
1)
Myxovirus: Influenza A, B dan C;Parainfluenza 1, 2, 3, dan
4; measles.
2)
Respiratory Syncytial Virus (RS9.
3)
Adenovirus.
4)
Picornavirus: Rhinovirus, Enterovirus seperti Polio, Cox-
background image
Tabel 2. Jumlah patogen yang diisolasi pada penderita ISPA menurut bulan, Januari - Oktober 1984, Manila.
Bulan
Padaogen
Jan Feb Mar
Apr
May June July
Aug
Sept
Oct
Total
(%)
H. influenzae
20 34 61 25
54
40 46 36 32 47
395(42.7)
Strep. pneumoniae
16 24 48
28
46
23
45
39
24
33
326(35.3)
Klebsiella
10 27 21
22
12
17
10
10 '
8
'5
142( 5.4)
Enterobacter 4
4,
9
6
5
4
3
5
8
-
48(5.2)
E: coli
3 17 8
3
9
3
13
4
3
1
64(6.9)
Pseudomonas aerug.
4 8 4
6
7
8
5
3
5
4
54(5.8)
Staph. aureus
3 2 5
4
9
7
6
2
2
4
44(4.8)
Beta-streptococci
2 4 2 2 5 2 4 2 2 6
31(3.4)
Jumlah
62 120 158 96 147 104 132 101 84 100
1,104
Positive Rate (%)
96.9 114.3 112.9 120.0 145.5 113.0 121.1 132.9 125.4 90.0
119.5)
Tabel 3. Jumlah patogen yang diisolasi pada penderita ISPA menurut umur, Januari - Oktober 1984, Manila.
Umur
0-11 bl
1-4 th
5-9th
10-14 th
15-19th
20 th
Total
Jumlah
specimen
Padaogen
324 472 57 28 7 36 924
H. influenzae
138(42.6) 205(43.4) 27(47.2) 9(32.1)
2(28.6) 14(38.8) 395
Strep. pneumoniae
114(35.2) 185(39.2)
15(26.3)
6(21.4)
3(42.8)
3(8.3) 326
Klebsiella
74(22.8) 57(12.0)
5(8.8)
5(17.9)
-
1(2.8) 142
E'nterobacter 29(8.9) 16(3.4)
1(1.6)
2(7.1)
-
-
48
E. coli
36(11.1) 25(5.2)
3(3.5)
-
-
1(2.8) 64
Pseudomonasaerug.
22(6.8) 28(5.9)
-
2(7.1)
1(14.2)
1(2.8) 54
S. aureus
13(4.0) 28(5.9)
1(1.6)
2(7.1)
-
-
44
Beta-streptococci
6(1.8)
,
18(3.8) 2(3.5) 3(10.7) 1(14.2) 1(2.8) 31
Jumlah
432 562 54 29 7 21
1,104
Positive Rate (%)
133.3% 119.1% 94.7% 103.6% 100.0% 58.3% 119.5%
Tabel 4. Jumlah isolasi virus menurut umur penderita ISPA. Manila 1984.
Influenza
Umur
tahun
Jumlah
A B
RS
Para
Entero
infl. Adeno Measles
Total
0 225
5
5
14
7 10 3 3 47
(20.9%)
1 169
12
5
4
7
10
5
3
46
(27.2%)
2 93
5
2
5
8
5
2
2
29
(31.2%)
3 54
3
4
1
1
3
1
-
13
(24.1%)
4 54
3
5
1
2 - 1 -
12
(22.2%)
Total 595 28
21
25 25 28 12 8 147
(24.7%)
sackie, ECHO.
5)
Herpes virus: Herpes simplex tipe 1, Herpesvirus varicella,
Cytomegalovirus, EBV.
6)
Lymphocytic Choriomeningitis Virus (LCV).
KESIMPULAN
Penyakit ISPA dengan pengelolaan penderita yang kurang
tepat dan pengaruh faktor lain seperti gizi, polusi dan lainnya
akan lebih memperberat gejala klinik sehingga dapat me-
ninggal.
Tergantung dari jenis etiologi, penyakit ISPA dapat me-
nimbulkan komplikasi penyakit lain seperti meningitis, sepsis,
endokarditis, demam rematik yang dapat memberi cacad
pada anak dan beban keluarga yeng lebih berat.
Etiologi penyakit ISPA yang telah diketahui melalui koor-
dinasi penelitian yang dilakukan secara standar di beberapa
daerah dapat digunakan untuk prediksi gejala-gejala berat
tersebut, pemilihan antibiotika yang paling tepat sehingga
pencegahan penyakit ISPA dapat dilakukan secara lebih
bermutu.
KEPUSTAKAAN
1.
Survai Kesehatan Rumah Tangga. Laporan intern dr. Ratna Pun-
darika, Puslit Ekologi, Badan Litbangkes, 1986.
2.
Chanock RM. Respiratory viruses, an overview. Laboratory of
Infectious Diseases, NIAID, NIH, Bethesda, Maryland.
3.
Sachro ADB. Infeksi saluran pernapasan akut pada anak di RS.
Kariadi. Lokakarya Penanggulangan Penyakit ISPA, Cipanas, 9-13
April 1984.
4.
Sosroamidjojo S. Masalah infeksi akut saluran pernapasan. Laporan.
5.
Kaneko Y. Epidemiological and microbiological figures of vaccine-
preventable-disease and others in Philippines and Japan, JICA
1987.