Penelitian Efek Androgenik dan Anabolik
Buah Cabe Jawa
(Piper retrofractum Vahl)
pada Tikus Putih
Sa'roni, Pudjiastuti, Adjirni
Pusat Penelitian dan Pengembangan F'armasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Buah Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl) secara empirik dapat digunakan se-
bagai obat lemah syahwat dan campuran berbagai jamu khusus untuk pria, di antara-
nya jamu kuat lelaki, jamu sehat lelaki, jamu untuk pria, jamu sehat pria. Oleh karena
itu efek androgenik dan anabolik dari buah cabe jawa diteliti menurut cara Dorfman
(1962) dan Hershberger et al (1953). Sebagai pembanding digunakan metiltestosteron
12,5 ug/10 g. bobot badan, dan blangko akuades 0,5 ml/10 g. bobot badan. Hewan
coba tikus putih jantan berumur 33 hari.
Hasil penelitian infus buah cabe jawa dosis 0,21 mg/10 g bobot badan belum
menunjukkan adanya efek androgenik dan anabolik. Infus buah cabe jawa dosis
2,1 mg/ 10 g. bobot badan menunjukkan efek androgenik dan anabolik yang maksimal,
sedang pada dosis 21 mg/10 g. bobot badan efeknya menurun.
PENDAHULUAN
Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl) termasuk famili
Piperaceae. Tumbuhan memanjat dengan akar lebat, buahnya
bulat panjang dengan warna kuning tanduk atau merah, rasa-
nya manis-manis pedas tajam. Secara empirik buahnya diguna-
kan sebagai obat lemah syahwat, lambung lemah dan peluruh
keringat
1,2
. Beberapa perusahaan jamu menggunakan buah
cabe jawa sebagai campuran jamu khusus untuk pria, di antara-
nya jamu untuk pria, jamu sehat pria, jamu kuat lelaki. (data
dari label-label bungkus jamu berbagai perusahaan). Banyak-
nya buah cabe jawa sebagai campuran jamu sekitar 10 15%.
Berdasarkan penggunaan seperti tersebut di alas buah cabe
jawa diduga mempunyai efek androgenik dan anabolik. Oleh
karena itu dilakukan penelitian efek androgenik dan anabolik
buah cabe jawa dengan hewan percobaan tikus putih. Efek
androgenik dapat diketahui berdasarkan pengaruhnya ter-
hadap bobot prostat ventral atau bobot vesikulus seminalis
sesuai dengan cara Dorfman (1962)
3
, sedang efek anabolik
dapat diketahui berdasarkan pengaruhnya terhadap bobot
levator ani sesuai dengan cara Hershberger (1953)
3
. Pem-
banding efek menggunakan metiltestosteron
3-5
dan blangko
akuades.
BAHAN
Buah cabe jawa diteliti dalam bentuk infus dan pemberian-
nya secara oral. Buah yang telah masak dikeringkan di dalam
lemari pengering pada suhu sekitar 50°C sampai mendapat-
kan bobot yang konstan. Kemudian dibuat serbuk. Infus
dibuat 10% sesuai Farmakope Indonesia Edisi 111
6
. Besar-
nya dosis ditetapkan berdasarkan banyaknya pemakaian
cabe jawa sebagai campuran jamu yaitu 15%. Apabila bobot
orang dewasa 50 kg dan sekali minum jamu yang bobotnya
7 gram, maka berdasarkan bobot badan dosis itu setara dengan
0,21 mg/10 gram bobot badan. Dosis tersebut ditetapkan
sebagai 1 X dosis manusia. Infus bahan diteliti dalam, tiga
macam dosis yaitu 0,21 mg bobot badan sebagai 1 X dosis
manusia; 2,1 mg/10 gram bobot badan sebagai 10 X dosis
lazim manusia dan 21 mg/10 gram bobot badan sebagai
100 X dosis lazim manusia.
Hewan coba tikus putih jantan, berumur 23 hari. Induk
tikus berasal dari Puslitbang Gizi Unit Diponegoro. Bahan
kimia yang diperlukan ialah metiltestosteron, akuades, NaCl
dan eter.
CARA KERJA
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap
1
dengan
metode menurut Dorfman (1962)
3
dan Hershberger et al
(1953)
3
. Pembanding menggunakan metiltestosteron dan
blangko akuades. Tikus putih dikelompokkan menjadi 5
kelompok. Satu kelompok diberi akuades 0,5 ml/10 gram
bobot badan, satu kelompok diberi metiltestosteron 12,5
ug/10 gram bobot badan dan tiga kelompok yang lain masing-
masing diberi infus bahan 0,21 mg, 2,1 mg dan 21 mg setiap
10 gram bobot badan. Semua perlakuan diberikan secara
oral dengan menggunakan alat sonde 13mbung, selama 7 hari.
Bobot badan ditimbang tiap hari selama perlakuan diberikan.
Pada hari ke 8 tikus dibius dengan eter, diambil prostat ventral
dan muskulus levator aninya. Organ ditimbang kemudian
dikeringkan di dalam lemari pengering pada suhu 100°C se-
lama 24 jam. Setelah itu organ ditimbang kembali. Percobaan
diulang 5 kali dengan cara yang sama.
HASIL
Bobot prostat ventral dan bobot muskulus levator ani serta
penambahan bobot badan dicatat dalam bentuk tabel dan
gambar.
Dalam tabel dan gambar 1, kelihatan bobot prostat ventral
pada tikus yang diberi infus bahan lebih berat daripada tikus
yang diberi akuades, tetapi masih lebih ringan dibandingkan
dengan tikus yang diberi metiltestosteron. Dalam tabel dan
gambar 2, kelihatan bobot muskulus levator ani pada tikus
yang diberi infus bahan lebih berat daripada pada tikus yang
diberi akuades, tetapi masih lebih ringan daripada pada tikus
yang diberi metiltestosteron. Di dalam tabel juga kelihatan
perbedaan penambahan bobot badan antara kelompok tikus
yang diberi infus bahan, akuades dan metiltestosteron.
Tabel 1. Bobot Prostat Ventral, Musculus Levator Ani dan Penambah-
an Bobot Badan Tikus setelah perlakuan (dihitung setiap 40
gram
bobot
badan).
Perlakuan
Prostat Ventral
(mg)
Musculus Levator
Ani (mg ).
Penambahan
Bobot Badan
(g)
Akuades 0,5
ml/10 gram
Bobot Badan
11,08 ± 2,54
13,28 ±0,84
9,59±1,58
Infus Bahan
0,21 mg/10 gr
Bobot Badan
11,30 ± 1,63
13,16 ± 2,71
10,824,55
Infus Bahan
2,1 mg/10 gr
20,10 ±0,34
17,88 ±0,05
12,21±1,66
Bobot Badan
Infus Bahan
21 mg/10 gram
15,71 ± 2,19
14,76 ± 1,17
12,05 ,50
Bobot Badan
Metiltestoste-
ron 12,5 ug/10
25,01 ±0,66
21,17 ± 3,78
13,16 ,75
gr Bobot Badan
Keterangan:
mg =
miligram
g = gram
± =
deviasi
standar
ug = mikrogram
PEMBAHASAN
Secara empirik buah cabe jawa dapat digunakan untuk obat
lemah syahwat
2
dan campuran berbagai jamu khusus untuk
pria, misalnya jamu sehat pria, jamu sehat lelaki, jamu kuat
lelaki (data diperoleh dari label-label berbagai bungkus jamu).
Cara pemakaiannya sederhana yaitu dengan minum air rebusan
buah cabe jawa atau dengan minum seduhan jamu.
Gambar 1. Bobot Prostat Ventral dalam mg, setelah perlakuan.
Keterangan:
A.
: Kelompok tikus yang diberi akuades 0,5 ml/10 g. bobot badan.
B.
: Kelompok tikus yang diberi infus 0,21 mg/10 g. bobot badan.
C.
: Kelompok tikus yang diberi infus 2,1 mg/10 g. bobot badan.
D.
: Kelompok tikus yang diberi infus 21 mg/10 g. bobot badan.
E.
: Kelompok tikus yang diberi metiltestosteron 12,5ug/10g. b.b.
Gambar 2. Bobot Musculus Levator Ani dalam mg, setelah perlakuan.
Keterangan:
A.
: Kelompok tikus yang diberi akuades 0,5 ml/10 g. bobot badan.
B.
: Kelompok taus yang diberi infus 0,21 mg/10 g. bobot badan.
C.
: Kelompok tikus yang diberi infus 2,1 mg/10 g. bobot badan.
D.
: Kelompoktikus yang diberi infus 21 mg/10 g. bobot badan.
E.
: Kelompok tikus yang diberi metiltestosteron 12,5 ug/10 g. b. b.
Pemakaian secara empirik atau sebagai campuran jamu
seperti tersebut di alas memberikan dugaan bahwa buah cabe
jawa mempunyai efek androgenik dan anabolik. Untuk me-
ngetahui adanya efek androgenik dapat dilihat dari pengaruh
bahan terhadap bobot prostat ventral atau bobot vesikulus
seminalis dari hewan mengerat
3
. Efek anabolik dapat di-
ketahui melalui pengaruhnya terhadap bobot musculus levator
ani atau metabolisme nitrogen dari tikus putih
3
.
Penelitian efek androgenik dilakukan menurut cara Dorf-
man (1962)
3
, yaitu dengan melihat pengaruh bahan terhadap
bobot prostat ventral atau vesikulus seminalis. Efek anabolik
ditentukan tnelalui pengaruh bahan terhadap bobot muskulus
levator ani sesuai dengan cara Hershberger et al (1953)
3
.
Bahan diberikan dalam bentuk infus secara oral, karena cara
demikian mendekati cara pemakaian empiriknya. Blangko
akuades digunakan karena infus dibuat dengan pelarut akuades.
Ternyata sulit untuk memisahkan vesikulus seminalis dari
prostat ventral. Mungkin ini disebabkan tikus jantan yang di-
gunakan masih terlalu muda yaitu dengan bobot akhir pe-
nelitian sekitar 40 gram, sehingga vesikulus seminalis belum
berkembang. Oleh karena itu untuk mengetahui efek andro-
genik hanya diteliti pengaruh bahan terhadap bobot prostat
ventral.
Analisa data dengan ttest (p < 0,01) terhadap bobot
prostat ventral dan muskulus levator ani menunjukkan bahwa
infus dosis 0,21 mg/10 gram bobot badan tikus tidak me-
nunjukkan perbedaan dengan akuades, tetapi berbeda nyata
dengan metiltestosteron. Berarti infus dosis tersebut belum
menunjukkan adanya efek androgenik dan anabolik. Infus
bahan dosis 2,1 mg/10 gram bobot badan menunjukkan per-
bedaan yang nyata dengan akuades dan tidak berbeda nyata
dengan metiltestosteron. Berarti infus bahan dosis 2,1 mg/
10 gram bobot badan menunjukkan adanya efek androgenik
dan anabolik. Dosis 21 mg/ 10 gram bobot badan juga me-
nunjukkan efek androgenik dan anabolik, tetapi efeknya
menurun dibandingkan infus dosis 2,1 mg/10 gram bobot
badan.
Buah cabe jawa dapat menyebabkan keguguran
9,10
. Efek
keguguran pada tikus putih sudah mulai tampak pada infus
dosis 14 mg/10 gram bobot badan. LD
50
infus buah cabe
jawa 101,6 (86,45 119,3) mg/10 gram bobot badan
8
.
Infus dosis 21 mg/10 gram bobot badan sudah menimbul-
kan efek keguguran dan mungkin efek toksisnya sudah mun-
cul. Mungkin karena itu pula efek androgenik dan anabolik
infus bahan dosis 21 mg/10 gram bobot badan menurun.
Dari hasil penelitian juga terlihat adanya pengaruh infus
bahan 2,1 mg/10 gram bobot badan terhadap penambahan
bobot badan, yang berarti dapat memperkuat adanya efek
anabolik
3
.
Zat kimia yang dikandung buah cabe jawa ialah piperin,
piperidin, damar, minyak terbang, harsa, gom dan pati
1,2
.
KESIMPULAN
Infus buah cabe jawa (Piper retrofractum Vahi) menunjuk-
kan adanya efek androgenik dan anabolik, walaupun lebih
lemah dibandingkan metiltestosteron. Dari tiga macam dosis
yang dicoba, ternyata dosis 2,1 mg/10 gram bobot badan
menunjukkan efek yang paling baik pada tikus putih.
SARAN
Supaya dilakukan penelitian efek androgenik dan anabolik
infus buah cabe jawa dengan beberapa macam dosis sekitar
2,1 mg/10 gram bobot badan, sehingga didapat hubungan
antara dosis dengan efek yang nyata sebagai salah satu syarat
agar dapat dipakai sebagai obat. Hendaknya penelitian di-
lakukan pada tikus putih jantan yang sudah mendekati dewasa
sehingga pengamatan vesikulus seminalis dapat dilakukan,
di samping pengamatan terhadap prostat ventral.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan RI. Tanaman ()bat Indonesia. Jilid I,
Jakarta, 1985.
2.
Mardisiswojo, Radjakmangunsudarso H. Cabe puyang warisan
nenek moyang I & H. PT. Karya Wreda, Jakarta 1975.
3.
Turner RA. Screening methods in pharmacology. Vol II. New
York: Academic Press 1971.
4.
Gan Sulistia, dkk. : Farmakologi dan Terapi Edisi II. Bagian
Farmakologi FKUI, Jakarta 1980.
5.
Moh Amin. Penelitian efek androgenik Talinum racemasum
Rohrb (Krokot Belanda) pada anak ayam, FMIPA UI, Jakarta, 1988.
6.
Departemen Kesehatan RI. : Farmakope Indonesia. Ed. III.
Jakarta, 1979.
7.
Nainggolan M. Experimental Design I. FP. USU, Medan 1965.
8.
Dzulkarnain B et al.: LDso beberapa tanaman obat. Bull. ISFI
Jatim 1975. VIII (3) : 59-64.
9.
Farnworth NR et al. J Pharmaceutical Science 1975; 64 (4) :
571.
10.
Nurendah P. Laporan penelitian sifat ekbolik komponen jamu
yang digunakan terhadap uterus. Pusat Penelitian Farmasi Lit-
bang Kes. Departemen Kesehatan, Jakarta 1983.