background image
Penelitian Efek Anti inflamasi
Beberapa Tanaman Obat
pada Tikus Putih
(Rat)
Sa'roni., Nurendah. P., Adjirni
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Telah diteliti efek antiinflamasi dari infus umbi Bawang Sebrang (Eleutherine
americana Meer), rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb), dan akar Pepaya
(Carica papaya L). Penelitian berdasarkan simptom inflamasi dengan menghambat
pembengkakan induksi udem pada telapak kaki tikus dengan 0,2 ml/ekor suspensi 1%
karagen dalam NaCl fisiologis. Pembanding efek antiinflamasi fenilbutazon 10 mg/ 100
gram bb. Sebagai blangko diberikan akuades 1 ml/100 gram bb. Pemberian secara oral.
Infus umbi Bawang Sebrang dapat menghambat volume radang pada dosis 480
mg/100 gram bb. Rimpang Temulawak dapat menghambat volume radang pada dosis
480 mg/100 gram bb. Akar Pepaya dapat menghambat volume radang pada dosis
640 mg/100 gram bb.
PENDAHULUAN
Inflamasi merupakan keadaan sehari-hari akibat respons
jaringan terhadap rangsang fisik atau kimiawi yang merusak.
Rangsangan tadi menyebabkan timbulnya reaksi radang seperti
bengkak, rasa nyeri, warna merah dan gangguan fungsi
1
.
Inflamasi mencakup penggabungan antigen­antibodi­komple-
men yang menjadi penarik leukosit. Leukosit kemudian mem-
fagositosis antigen­antibodi­komplemen dan melepaskan
enzim lisosom yang menyebabkan kerusakan jaringan sehingga
timbul inflamasi
1
.
Beberapa tanaman atau bagian tanaman secara empiris di-
gunakan oleh masyarakat sebagai obat radang
2,3
. Tanaman
atau bagian tanaman itu antara lain umbi Bawang Sebrang
(Eleutherine americana Meer), rimpang Temulawak (Curcuma
xanthorriza Roxb), dan akar Pepaya (Carica papaya L). Oleh
karena itu diadakan penelitian efek antiinflamasi dengan
hewan coba tikus putih. Jika bagian tanaman tersebut dapat
menghambat volume radang pada tikus putih berarti ada
petunjuk bahwa bahan tersebut mempunyai efek antiinflamasi.
BAHAN DAN CARA
Persiapan Bahan
Umbi Bawang Sebrang, rimpang Temulawak dan akar
Pepaya dibersihkan, kemudian dipotong kecil-kecil dan se-
lanjutnya dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu se-
Dibacakan pada Kongres Biologi Nasional VIII, 8 ­ 10 Oktober 1987
di Purwokerto.
kitar 50°C sampai dapat dibuat serbuk. Infus dibuat 10%
sesuai dengan Farmakope Indonesia
5
. Untuk pemberian
dosis yang tinggi infus dipekatkan sehingga volume dosis yang
diberikan tetap setiap 100 gram bb. Masing-masing bahan di-
teliti 3 macam dosis infus yaitu 1 X, 10 X dan 100 X dosis
lazim manusia.
Infus umbi Bawang Sebrang 1 X, 10 X dan 100 X dosis
lazim manusia setara dengan 4,8 mg, 48 mg dan 480 mg serbuk
tiap 100 gram bb. Infus rimpang Temulawak 1 X, 10 X dan
100 X dosis lazim manusia setara dengan 4,8 mg, 48 mg dan
480 mg serbuk tiap 100 gram bb. Infus akar Pepaya 1 X,
10 X dan 100 X dosis lazim manusia setara dengan 6,4 mg, 64
mg, dan 640 mg serbuk tiap 100 gram bb.
Blangko. Sebagai blangko diberikan akuades dengan volume
dosis 1 ml/100 gram bb. yang diberikan secara oral.
Pembanding efek antiinflamasi. Fenilbutazon disuspensikan
dalam 0,5% tilose. Dosis diberikan 10 mg/100 gram bb. secara
oral.
Hewan Coba. Tikus putih, jenis kelamin jantan, bobot
150 ­ 200 gram, galur Unit Gizi Diponegoro. Tikus putih
diadaptasikan dengan lingkungan laboratorium selama I
minggu, diberi makanan standar. Sebelum dipakai, dipuasa-
kan selama 18 ­ 24 jam, air minum tetap diberikan
4
. Ke-
mudian dikelompokkan secara acak.
Bahan Induksi Udem. Karagen disuspensikan dalam NaCl
background image
fisiologis dengan konsentrasi 1%. Udem telapak kaki tikus
dibuat dengan menyuntikkan suspensi karagen 0,2 mi/ekor
secara subkutan­subplantar
4
.
Cara Kerja
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan
5X ulangan
7
. Tiap-tiap ulangan diperlukan 5 kelompok
tikus, masing-masing kelompok 3 ekor.
Prosedur penelitian tiap ulangan .
·
Masing-masing kelompok tikus diberi perlakuan akuades,
suspensi fenilbutazon, infus dosis 1 X, infus dosis 10 X dan
infus dosis 100 X. Semua diberikan secara oral. Volume
normal salah satu kaki belakang tikus diukur.
·
Satu jam setelah perlakuan, kaki belakang tikus yang di-
ukur volumenya tadi, disuntik dengan 0,2 ml/ekor suspensi
karagen subkutan­subplantar. Volume telapak kakinya di-
ukur kembali.
·
Selanjutnya setiap jam diukur kembali volume telapak
kakinya selama 4 jam.
Untuk mengukur volume telapak kaki tikus dipakai alat
plethismometer air raksa.
HASIL
Hasil penelitian dalam bentuk tabel 1-3, yang merupakan
tabel penambahan volume radang maksimal rata-rata dari
masing-masing perlakuan yang dinyatakan dalam ml. Penam-
bahan volume radang dapat diketahui dengan mengurangi
volume telapak kaki pada jam jam tertentu dengan volume
telapak kaki normal.
Tabel 1: Umbi Bawang Sebrang (Fleutherine americana Meer):
Ada pengaruh penambahan volume radang dibandingkan
dengan akuades. Dosis 100 X dosis lazim manusia (480 mg/
100 gram bb.) efeknya lebih lemah dibandingkan dengan
fenilbutazon. Peningkatan dosis dari 4,8 mg/100 gram bb.
menjadi 48 mg/100 gram bb. tidak menunjukkan peningkat-
an efek.
Tabel 2 : Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb):
Ada pengaruh penambahan volume radang dibandingkan
akuades. Dosis 100 X dosis lazim manusia (480 mg/100 gram
bb.) efeknya lebih lemah dibandingkan dengan fenilbutazon.
Peningkatan dosis dari 4,8 mg/100 gram bb. menjadi 48 mg/
100 gram bb. tidak menunjukkan peningkatan efek.
Tabel 3 : Akar Pepaya (Carica papaya L):
Ada pengaruh penambahan volume radang dibandingkan
akuades. Dosis 100 X dosis lazim manusia (640 mg/100 gram
bb.) efeknya lebih lemah dibandingkan fenilbutazon. Pening-
katan dosis bahan menunjukkan peningkatan efek.
PEMBAHASAN
Kompleksnya proses inflamasi dan beragamnya obat yang
dapat memodifikasi proses radang menyebabkan dikembang-
kannya berbagai metode untuk menentukan obat yang ber-
khasiat antiinflamasi
4,6
. Salah satu metoda yang dipakai. yaitu
dengan menghambat pembengkakan induksi udem pada
telapak kaki tikus dengan karagen
4,6
Prosedur pembuatan radang dengan menyuntikkan 0,2 ml
suspensi karagen dalam NaCl fisiologis ke dalam jaringan
plantar kaki belakang tikus. Pengukuran respons ditentukan
pada saat terjadi pembengkakan maksimal
4
.
Tabel 1. Hasil Penelitian Umbi Bawang Sebrang (Eleutherine ameri-
cana Meer).
Perlakuan
Bahan
Dosis/100 g.
b.b.
Penambahan Volume Radang
Maksimal Rata-rata, dalam ml
Akuades
Fenilbutazon
E. americana Meer
E. americaha Meer
E. americana Meer
1 ml
10 mg /
4,8 mg
48,0 mg
480,0 mg
0,63 ±0,078
0,36 ±0,134
0,47 ±0,114
0,47 ±0,096
0,43 ± 0,100
Keterangan: ±: Standard deviasi.
Jumlah tikus 15 ekor tiap-tiap perlakuan.
Tabel 2. Hasil Penelitian Rimpang Temulawak (Chrcuma xanthoniza
Roxb.)
Perlakuan
Penambahan Volume Radang
Maksimal Rata-rata, dalam ml
Bahan
Dosis/100 g.
b.b.
Akuades
Fenilbutazon
C. xanthorriza Roxb
C. xanthorriza Roxb
C. xanthorriza Roxb
1 ml
10 mg
4,8 mg
,
48,0 mg
480,0 mg
0,82 ±0,099
0,63 ±0,070
0,75 ±0,078
0,76 ±0,027
0,67 ±0,054
Keterangan: ±: Standard deviasi.
Jumlah tikus 15 ekor tiap perlakuan.
Tabel 3. Hasil Penelitian Akar Pepaya (Carica papaya L).
Perlakuan
Bahan
Dosis/100 g.
b.b.
Penambahan Volume Radang
Maksimal Rata-rata, dalam ml
Akuades
Fenilbutazon
C. papaya L
C. papaya L
C. papaya L
1 ml
10 mg
6,4 mg
64,0 mg
640,0 mg
0,75 ±0,000
0,53 ±0,095
0,67 ±0,027
0,63 ±0,050
0,60 ±0,068
Keterangan: ±: Standard deviasi.
Jumlah tikus 15 ekor tiap-tiap perlakuan.
Fenilbutazon merupakan salah satu obat nonsteroid yang
menjaga keutuhan jaringan dari kerusakan oleh enzim lisosom
1
.
Fenilbutazon dilarutkan dalam larutan 0,5% tilose untuk
mendapatkan larutan yang homogen.
Penghambatan volume radang oleh infus bahan merupakan
petunjuk adanya efek antiinflamasi. Analisa data berdasarkan
t test (p < 5% dan p < 1%) pada saat tercapai volume radang
maksimal menunjukkan bahwa.
Umbi Bawling Sebrang (Eleutherine americana Meer).
Tiga macam dosis yang diberikan menunjukkan perbedaan
background image
yang nyata dengan akuades, ini berarti infus bahan menunjuk-
kan adanya efek antiinflamasi. Jika dibandingkan dengan fenil-
butazon hanya dosis 480 mg/ 100 gram bb. yang tidak ber-
beda nyata, ini berarti hanya dosis 480 mg/100 gram bb.
yang menunjukkan efek antiinflamasi mendekati fenilbutazon.
Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb).
Tiga macam dosis yang diberikan menunjukkan perbedaan
yang nyata dengan akuades, ini berarti infus bahan menunjuk-
kan adanya efek antiinflamasi. Jika dibandingkan dengan
fenilbutazon hanya dosis 480 mg/100 gram bb. yang tidak
berbeda nyata, ini berarti hanya dosis 480 mg/100 gram bb.
yang mempunyai efek antiinflamasi mendekati fenilbutazon.
Akar Pepaya (Carica papaya L).
Tiga macam dosis yang diberikan menunjukkan perbedaan
yang nyata dengan akuades, ini berarti infus bahan menunjuk-
kan adanya efek antiinflamasi. Jika dibandingkan dengan fenil-
butazon hanya dosis 640 mg/ 100 gram bb. yang tidak ber-
beda nyata, ini berarti hanya dosis 640 mg/ 100 gram bb. yang
mempunyai efek antiinflamasi mendekati fenilbutazon.
Walaupun tabel 3 menunjukkan adanya kenaikan efek anti-
inflamasi jika dosis dinaikkan, tetapi kenaikan efeknya tidak
bermakna, berarti tidak menunjukkan hubungan antara dosis
dengan efek.
Umbi Bawang Sebrang mengandung protein, lemak, kal-
sium, fosfor, besi, vitamin B dan C
3
. Rimpang Temulawak
mengandung minyak terbang, kurkumin, pati
3
. Akar Pepaya
mengandung damar, papain, glikosida, tanin, enzim proteo-
litik, vitamin A, vitamin C dan lain-lain
3
. Mungkin efek anti-
inflamasi disebabkan oleh adanya minyak terbang
8
. Mungkin
pula disebabkan oleh damar, karena damar juga mengandung
minyak terbang
6
. Namun tidak tertutup kemungkinan efek
antiinflamasi disebabkan oleh zat lain, karena penelitian baru
dilakukan dalam bentuk infus total.
Efek antiinflamasi yang ditunjukkan oleh bahan baru ter-
lihat nyata pada 100 X dosis lazim manusia, hal ini perlu
diperhatikan karena jika dikembalikan ke manusia berdasar-
kan bobot badan diperlukan bahan yang tidak sedikit. Mung-
kin perlu dilakukan isolasi sehingga pemakaian bahan lebih
ringkas.
KESIMPULAN DAN SARAN.
Umbi Bawang Sebrang (Eleutherine americana Meer),
Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Akar
Pepaya (Carica papaya L) menunjukkan efek antiinflamasi
masing-masing pada dosis 480 mg/100 gram bb., 480 mg/
100 gram bb. dan 640/100 gram bb.
Karena efek antiinflamasi baru terlihat pada 100 X dosis
lazim manusia, perlu diteliti terhadap spesies hewan lain,
dalam bentuk ekstrak dan isolasi zat aktif.
KEPUSTAKAAN
1.
Sulistia Gan dkk. Farmakologi dan Terapi, edisi 2, Bagian Farma-
kologi FKUI, Jakarta (1980).
2.
Direktorat JOnderal POM Depkes RI. Obat Tradisional, Gerakan
Penghijauarl dan Toga (Taman Obat Keluarga).
3.
Mardisiswijo, Radjakmangunsudarso H. Cabe puyang warisan
nenek moyang I & II. PT Karya Wreda, Jakarta 1975.
4.
Program Pelayanan Profesi Farmasi, Tehnik Farmakodinami dan
Keamanan Obat. Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat ITB,
Bandung 1985.
5.
Departemen Kesehatan RI. Farmakologi Indonesia edisi III, Jakarta
1979.
6.
Turner A. Screening Methods In Pharmacology. Academic Press,
New York, 1965.
7.
Nainggolan M. Experimental Design I, FP USU, Medan, 1965.
8.
Oei Ban Liang dkk. Bcberapa aspek isolasi, identifikasi dan peng-
gunaan komponen-komponen Curcuma xanthorriza Roxb dan
Curcuma domestica Val. Simposium Nasional Temulawak, Lembaga
Penelitian UNPAD, Bandung 1985.