Uji Analgetik Daun Kemuning
(Murraya panicu/a ta JACK)
pada Mencit Putih
Pudjiastuti, B; Dzulkarnain, Lucie Widowati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang daya analgetik dari daun kemuning (Murraya
paniculata JACK), yang diberikan berupa infus secara oral.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan daya analgetik antara bahan uji dan
asetosal (52 mg/kg bb.) sebagai pembanding dan NaCl fisiologis (0,1 ml/10 g bb.) se-
bagai kontrol. Metode yang digunakan adalah metode kimia dengan menggunakan
asam asetat sebagai pembangkit rasa nyeri yang diberikan secara intraperitoneal.
Dari penelitian didapatkan bahwa infus daun Murraya paniculata JACK pada
dosis 30 mg/10 g bb. mencit mempunyai potensi mendekati asetosal.
PENDAHULUAN
Murraya paniculata JACK atau kemuning banyak dikenal
masyarakat awam. Tanaman ini tumbuh liar di hutan dan
banyak ditanam orang di pekarangan dan dipergunakan sebagai
pagar. Ia merupakan
,
tumbuhan perdu. Secara empirik dikenal
masyarakat untuk pengobatan, antaranya untuk datang haid
tidak teratur, gigi rusak, kencing nanah, lemak berlebih, sakit
perut, menghilangkan rasa sakit, disentri kronik, peluruh
demam, emmenagogum, cacing pita, dan penyakit ke-
lamin
1,2,3
. Tumbuhan ini mengandung glukosida murrayin,
minyak terbang dan zat samak
2
.
Untuk mengetahui kebenaran khasiat maka diadakan
pengujian pada hewan percobaan. Di sin akan diteliti salah
satu khasiatnya yaitu menghilangkan rasa sakit atau sifat
analgetik. Pada percobaan ini ditentukan sifat antagonis non
narkotik, dengan melihat daya menghilangkan rasa sakit atau
analgetik akibat pemberian asam asetat secara i.p. pada mencit
percobaan. Gejala sakit pada mencit sebagai akibat pemberian
asam asetat adalah: adanya kontraksi dari dinding perut,
kepala dan kaki ditarik ke belakang sehingga abdomen me-
nyentuh dasar dari ruang yang ditempatinya, gejala ini di-
namakan geliat (writhing)
4,5
. Tanda sakit ini dapat dihilang-
kan dengan suatu analgetik misalnya dengan asetosal. Dengan
menghitung jumlah geliat persatuan waktu tertentu, dapat
ditentukan daya analgetik dari suatu zat dibanding dengan
asetosal
4
.
Disajikan pada Kongres Nasional ISFI XII di Yogyakarta, 10 15
Nopember 1986.
BAHAN DAN CARA
Bahan
Bahan yang akan diuji adalah daun kemuning yang didapat-
kan dari sekitar Jakarta. Daun diambil dan dikeringkan pada
suhu tidak lebih dari 50°C, diserbuk dan diayak dengan
ayakan Mesh no. 48 serta dibuat infus sesuai dengan Farma-
kope Indonesia
s
. Pemberian bahan dilakukan secara oral pada
mencit 30 menit sebelum pemberian asam asetat
5
. Sebagai
pembanding digunakan asetosal dengan dosis 52 mg/kg bb. se-
cara oral dan sebagai kontrol diberikan NaCl fisiologis 0,1
ml/10 g. bb. diberikan secara oral. Sebagai pembangkit rasa
nyeri diberikan asam asetat dengan dosis 30 mg/10 g bb. secara
i.p .
4
Hewan Percobaan
Untuk LD 50 digunakan mencit betina, dan untuk uji
analgetik digunakan mencit betina dan jantan dengan berat
antara 16 20 gr berasal dad Pusat Penelitian Penyakit
Menular Badan Litbangkes DepKes. Sebelum percobaan
mencit diadaptasikan terlebih dahulu pada lingkungan per-
cobaan selama lebih kurang seminggu.
Cara Percobaan
a) Pengujian LD 50 dan pengaruh terhadap gelagat.
Untuk pengujian toksisitas akut dan pengaruh terhadap
gelagat bahan diberikan secara i.p. Toksisitas akut (LD 50)
dihitung dengan mempergunakan cara Wei1
9
dan kematian
dihitung setelah 24 jam, sedang untuk mengetahui pengaruh
terhadap gelagat mempergunakan cara Campbell & Richter
10
.
b) Pengujian analgetik.
Untuk pengujian analgetik digunakan penentuan efek
analgetik menurut metode Siegmund yang dimodifikasi
5
.
Dosis yang diberikan di bawah dosis LD 50; digunakan 30 ekor
mencit yang dibagi dalam 5 kelompok @ 6 ekor dan pemberian
bahan dilakukan secara oral.
Kelompok I diberi NaCl fisiologis dengan dosis 0,1 ml/10 g.
b.b.
II.
diberi Asetosal dengan dosis 52 mg/10 g bb.
III.
diberi infus Murra
y
a paniculata JACK dengan
dosis 60 mg/10 g bb.
IV.
diberi infus Murraya paniculata JACK dengan
dosis 30 mg/10 g bb.
V.
diberi infus Murraya paniculata JACK dengan
dosis 10 mg/10 g bb.
Bahan yang diuji diberikan 30 menit sebelum pemberian
asam asetat secara i.p. dan jumlah geliat langsung dihitung
selama 30 menit dengan selang waktu 5 menit.
HASIL PERCOBAAN
A. Toksisitas akut dan percobaan pengaruh terhadap gelagat.
Toksisitas akut (LD 50) dihitung dengan cara Well adalah
115 mg/ 10 g bb. Sedangkan percobaan pengaruh terhadap
gelagat dapat dilihat pada tabel I. Aktivitas motor dan suhu
turun serta ada ptosis. Selain itu ada reaksi Straub. Dari gejala
kelompok saraf otonom terlihat adanya midriasis.
Tabel lA. Pengaruh terhadap susunan saraf pusat (SSP).
Pengaruh terhadap SSP
Jantan
Betina
Aktivitas motor
Ptosis
+ +
Abduksi 0
0
Straub
+ +
Ataksia 0
0
Reaksi rangsang sakit
0
0
Sahli 1
1
Piloereksi 0
0
Tabel 1B. Pengaruh terhadap susunan saraf otonom (SSO).
Pengaruh terhadap SSO
Jantan
Betina
Salivasi
Lakrimasi
Midriasis
0
0
+
0
0
+
Keterangan: Gejala yang dipe
r
hatikan menurun.
+ Gefala yang diperhatikan terlihat.
0 Gejala yang diperhatikan tidak terlihat.
Reaksi rangsang terhadap rasa sakit dan piloereksi terlihat
setelah
satu
jam.
A.
Percobaan pengujian efek analgetik.
Hasil percobaan dapat dilihat pada tabel II. Terlihat pada
dosis 10 mg/10 g bb. Murraya paniculata JACK sudah dapat
menurunkan jumlah geliat dibanding NaCl. Hubungan dosis
dan efek terlihat pada menit ke 10. Pada dosis besar terlihat
potensinya lebih besar dari pada asetosal.
Tabel Il. Rata-rata jumlah geliat sesudah pemberian asam asetat di-
hitung selama 30 menit dengan selang waktu 5 menit.
Rata-rata jumlah geliat dalam menit ke
Bahan
5 10 15 20 25 30
NaCl fisiologis
12,7 25,33
21,83
19,5
15,6
14,3
10 ml/kg bb.
Asetosa152 mg/kg bb.
2,33
12,5
12,5
7,6
7,6
6,16
Infus Murraya paniculata 1,33 8,16 10,66 7,6 6,16 6
JACK 60 mg/10 g bb.
Infus Murraya paniculata
6,32
14,83
14,33
12,33
6,5
7,5
JACK 30 mg/10 g bb.
Infus Murraya paniculata
5,83
18
17
4,83
12,16
16,9
JACK10mg/10gbb.
PEMBAHASAN
LD 50 atau toksisitas akut dari Murraya paniculata JACK
adalah 115 mg/10 g bb. i.p. pada mencit. Jika diekstrapolasi-
kan untuk tikus adalah 5.000 mg/g dan ini berada di bawah
15.000 mg/kg oral menurut patokan Gleason. Infus Murraya
paniculata .JACK ini digolongkan dalam bahan-bahan Prac-
tically Non Toxic.
Pada percobaan pengaruh terhadap gelagat (Tabel I) terlihat
adanya aktivitas motor yang menurun, adanya ptosis, suhu
menurun dan hilangnya rasa sakit setelah satu jam menunjuk-
kan adanya penurunan aktivitas susunan saraf pusat, meski-
pun terlihat adanya reaksi Straub dan midriasis. Asetosal
yang digunakan sebagai pembanding mengandung salisilat
yang dapat menekan rasa sakit secara sentral maupun perifer.
Dari tabel II terlihat bahwa yang memberi efek analgetik
paling efektif adalah pada menit ke 15 dari seluruh perlakuan.
Pada dosis 10 mg/10 g bb. ataupun 60 mg/100 g bb. geliat
yang ditimbulkan lebih .besar dari NaCl fisiologis, ini dapat
diartikan bahwa pada dosis tersebut Murraya paniculata
JACK sudah dapat memberikan efek analgetik. Jumlah geliat
infus Murraya paniculata JACK pada dosis 10 mg/10 g bb.
adalah lebih kecil bila dibandingkan dengan infus Murraya
paniculata JACK pada dosis 60 mg/10 g bb; ini berarti makin
besar dosis, makin besar efek yang ditimbulkan, dengan kata
lain terlihat adanya hubungan dosis dan efek.
Apabila diperhatikan,Murraya paniculata JACK pada dosis
10 mg/10 g bb. potensinya lebih kecil daripada asetosal,
akan tetapi pada dosis 60 mg/10 g bb. mempunyai potensi
lebih besar daripada asetosal. Hal ini menandakan bahwa efek
yang timbul adalah sebagai akibat pemberian bahan dan bukan
karena toksiknya bahan tersebut.
Percobaan di atas mempunyai kelemahan karena memper-
gunakan hewan percobaan; hingga hasilnya tak dapat langsung
diterapkan pada manusia, akan tetapi sudah dapat menunjuk-
kan indikasi adanya efek analgetik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Murraya paniculata JACK termasuk dalam bahan Practi-
cally Non Toxic.
Adanya efek analgetik yang paling efektif pada menit ke
15 dari seluruh perlakuan. Efek analgetik Murraya paniculata
Grafik jumlah geliat selang waktu 5 menit
JACK timbul sebagai akibat pemberian bahan dan bukan ka-
rena toksiknya bahan.
Untuk penelitian selanjutnya bahan tersebut perlu diisolasi
untuk mendapatkan zat aktif yang berkhasiat.
KEPUSTAKAAN
1.
Mardisiswoyo S, Radjak Mangunsudarso. Cabe puyang warisan
nenek moyang. Cetakan ke II PT. Karya Werda 1975.
2.
Perry LM. Medicinal Plants of East and Southeast Asia. Cambridge
Massaschusetts London MIT. Press 1980.
3.
Chopra RN. Glossary of Indian Medicinal Plants. 1956.
4.
Turner RA. Screening Methods in Pharmacology. Academic Press New
York, 1953.
5.
Siegmund EA, Cadnus RLUG. A method for evaluating both
non narcotic and narcotic analgesic. Proc Soc Expt Biol Med.
1975.
6.
Departemen Kesehataan RI. Farmakope Indonesia Edisi ke III.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Dep.Kes. R.I.
7.
Dzulkarnain B, Zainal Arifin, Santosoadmodjo. Beberapa data
farmakologi dan toksikologi beberapa tanaman obat tradisional.
Obat Pembangunan Masyarakat Sehat Kuat Cerdas. 1974.
8.
Bagian Farmakologi FKUI: Farmakologi dan Terapi. Edisi II,
1974.
9.
Well CS. Tables for convenient calculation of median effective
dose (ED 50 or LD 50) and instruction in their use. 1952.
10.
Campbell DE, Richter W. An observational method in estimating
toxicity and drug actions mice applied to 68 reference drug.
Acta Pharmaceut Copenhagen. Dalam: Domer FR. Animal ex-
periments in Pharmacological Analysis. Charles & Thomson.
Springfield Illionis. USA. 1971 : 5960.