Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
56
PENGALAMAN PRAKTEK
Bertaruh dengan Xylo-Dela
Saya bertugas di daerah amat terpencil, yang berjarak kurang-lebih 950 km dari
Palu, yaitu di kecamatan Menui Kepulauan, kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Pus-
kesmas Inpres di sin sudah berdiri sejak tahun 1976 dan baru bulan Agustus 1987
ada dokter yang bersedia menempatinya. Penduduk kecamatan ini sebagian besar
merupakan nelayan tradisional, yang jarang sekali berhubungan dengan tenaga medis
apalagi sengaja berurusan, paling-paling menerima "pasien sisa
"
alias yang gawat
setelah tidak mampu disembuhkan dukun. Diduga penyebab keadaan ini adalah
masih kuatnya kebiasaan tradisional, faktor sarana perhubungan yang sulit (pulau-
pulau kecil yang berjauhan dan terpencar) serta tingkat ekonomi penduduk yang
sangat kurang.
Untuk mengenal dan menghayati wilayah kerja, saya mengadakan Puskesmas
Keliling ke setiap desa dengan jalan kaki atau dengan perahu melayari laut selama
1˝ bulan untuk 15 desa.
Suatu saat ketika sampai di desa Masadian (November 1987) kira-kira pkl. 11.00
Wita, saya dan staf langsung menuju rumah Kepala Desa. Tak lama kemudian muncul
anggota masyarakat yang memerlukan bantuan, karena ada keluarganya yang sakit
panas sehabis pulang berlayar. Saya ditemani serang paramedis senior segera me-
ngunjungi penderita di rumahnya, yang ternyata seorang Haji berumur kira-kira 40-an
tahun, terpandang di desa karena pedagang antar pulau dan sedikit berpendidikan.
Karena demam yang naik turun hampir seminggu serta tak mau makan, saya
bermaksud menyuntiknya dengan penurun panas disertai obat oral (antibiotika, anti-
piretika dan antasida cair). Ternyata, penderita serta seluruh kerabatnya menolak,
menurut mereka sakit panas tidak boleh disuntik karena menyebabkan kematian.
Menurut versi mereka, sakitnya disebabkan gangguan setan laut dan kena peapua
(cacar ??), sehingga tidak perlu suntik. Saya kemudian memberi penjelasan seawam
mungkin mengenai sakitnya dan latar belakang tindakan tersebut, mereka tetap
bertahan dan hanya mau minum obat saja. Untuk menghindari hal-hal yang tak di-
inginkan, saya menuruti maksud mereka.
Sore hari, kira-kira pkl. 16.00 keluarga penderita datang lagi, membawa kabar
bahwa keadaan penderita belum ada perubahan. Saya dan seorang staf segara kembali
ke sana, keadaan rumah .tambah ramai, penderita dibaringkan di lantai beralaskan
kasur, dikitari seluruh kerabatnya dan dukun kampung (yang kami ketahui setelah
akhir peristiwa), di kepala dan kaki penderita ditaruhkan kendi berisi air putih campur
bunga dan asap kemenyan dan lain-lain sebagai sarana pengusir setan. Kami periksa
kembali, kesimpulannya tetap harus disuntik tapi keluarga menolak, lalu saya saran-
kan dikirim saja ke RSU di Kendari (Sul-Tra), yang waktu tempuhnya ± 12 -- 14 jam
dengan motor laut berkekuatan 15 PK, kembali keluarga keberatan karena jauh dan
takut terlambat. Akhirnya saya memutuskan (agar cepat selesai karena waktu saya
tinggal sehari lagi di desa tersebut) tetap menyuntik penderita dengan bersedia me-
nanggung risiko yaitu mengganti nyawa penderita dengan nyawa sendiri apabila pen-
derita rnenemui kematian sehabis disuntik. Seluruh keluarga berunding hampir ˝jam
lamanya, lalu setuju. Karena saya lihat staf berkeringat banyak di dahinya, saya
ambil alih pekerjaan; penderita segera disuntik dengan campuran xylo--dela per-
bandingan 2 : 1 serta doa kepadaNya. Setelah selesai, kami menyandera diri di rumah
penderita. Hampir satu jam berlalu, keluarga penderita melaporkan bahwa penderita
berkeringat banyak dan minta minum, kemudian saya periksa ternyata panasnya
sudah turun dan penderita mengaku merasa sudah lebih enak dan tidak mati setelah
disuntik. Setelah semuanya beres, kami mengadakan penyuluhan ekstra karena pen-
duduk sudah berkumpul di halaman rumah. Kemudian kami dijamu sampai kenyang
dengan makanan dan pujian.
Dr. Aryawan Wichaksana
Puskesmas UlunamboK ab. Poso --SulTeng