Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
34
Pengalaman Penelitian
Tumbuhan Obat
H. Sardjono O. Santoso
Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Meskipun jamu telah digunakan sejak dahulu kala oleh
masyarakat Indonesia, penelitian tentang jamu atau tumbuhan
obat secara ilmiah baru dikerjakan pada tahun tiga puluhan
yaitu pada waktu Prof. dr. Grevenstuk seorang profesor
bangsa Belanda yang berminat dalam jamu meneliti beberapa
komponen jamu seperti misalnya daun kumis kucing (Ortho
siphon stamineus), daun meniran (Phyllanthus niruri), daun
kejibeling (Strobilanthes crispus) dan daun tempuyung (Son-
chus arvensis). Sebelumnya memang ada tulisan atau catatan-
catatan mengenai khasiat tumbuhan obat yang ditulis oleh
antara lain Kloppenburg Versteegh namun catatan ini rupa-
rupanya hanya merupakan pengalaman empirik dari nenek
moyang yang diturunkan kepada anak cucu mereka yang di-
kumpulkan dan ditulis secara sistematik. Meskipun di sana-
sini terdapat hal-hal yang bersifat plasebo atau sugesti namun
beberapa di antara isinya merupakan petunjuk bagi penelitian-
penelitian di tahun-tahun berikutnya bahkan di kemudian hari.
Beberapa isi karya penulisan empirik sudah tersingkap
namun masih banyak lagi yang masih merupakan teka-teki
yang harus diteliti kebenarannya.
SUASANA PENELITIAN
Penelitian tumbuhan obat mengalami pasang surut. Barang-
kali suasana sebelum perang yang dialami oleh Grevenstuk
dan kawan-kawan memungkinkan untuk melakukan peneliti-
an tumbuhan obat. Danapun rupa-rupanya tidak merupakan
masalah. Sifat penelitian masih sederhana dan menggunakan
peralatan yang sederhana pula sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan pada saat itu. Penelitian yang dilakukan oleh
Grevenstuk dan kawan-kawan dilakukan pada hewan atau
pada organ-organ hewan.
Di jaman pendudukan Jepang sebegitu jauh penulis tidak
menjumpai laporan adanya penelitian tumbuhan obat yang
dilakukan di Bagian Farmakologi FKUI.
Demikian pula semasa perang kemerdekaan tidak ada
penelitian. Hal ini dapat dimengerti oleh karena fakultas
kedokteran sendiri pada waktu itu hijrah ke Klaten. Namun
pada masa itu banyak pengalaman para pejuang (terutama
dokternya) yang menggunakan tumbuhan obat untuk me-
ringankan penderitaan pasiennya, baik prajurit maupun
masyarakat umum. Hasil-hasil pengalaman ini sebagian di-
tuangkan oleh beberapa penulis seperti Sudarman Mardi-
siswojo dan Harsono Radjakmangunsudarso dalam buku
Tjabe pujang warisan Nenek mojang yang pertama kali di-
terbitkan pada tahun 1966.
Di tahun lima puluhan sekelompok ilmuwan di Fakultas
Kedokteran Hewan Bogor, yang diketuai oleh Prof. A.J.
Darman mengadakan penelitian farmakologik terhadap be-
berapa tumbuhan obat. Prof. A.J. Darman dalam pengukuhan-
nya sebagai guru besar farmakologi mengungkapkan hasil-
hasil penelitiannya dan merangsang ilmuwan-ilmuwan muda
pada saat itu untuk meneliti lebih lanjut tumbuhan obat yang
potensial mempunyai efek terapeutik.
Suasana politik yang menginginkan berdikari dan dorong-
an para pakar senior pada waktu itu menyebabkan penelitian
di beberapa institusi terfokus pada penelitian tumbuhan
obat. Hal ini terbukti pada waktu diadakan Kongres Ilmu
Pengetahuan Nasiohal I maupun ke II (yang diadakan di
Yogyakarta pada tahun 1962), banyak makalah yang me-
rupakan hasil penelitian tumbuhan obat. Baik Bung Karno
(selaku Presiden) maupun Dr. Satrio (selaku Menteri Ke-
sehatan) dan Dr. Suharso (selaku tokoh kesehatan nasional)
pada waktu itu menganjurkan untuk menggali, mengkaji,
meneliti dan menggunakan obat ash (obat tradisional). Semua
ini mengarahkan diadakannya suatu Seminar Penggalian
Sumber-sumber Alam di Bidang Farmasi yang diadakan di
Yogyakarta pada tahun 1964. Dari seminar tersebut diterbit-
kan buku proseding yang disusul pula penerbitan Tjabe Pujang
pada tahun 1966. Suasana penelitian pada periode ini boleh
dikatakan memadai dan memungkinkan. Karena pada waktu
itu obat-obat modern sukar diperoleh dan para ilmuwan
dan pembuat kebijakan di kalangan pemerintah sangat men-
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 35
dorong untuk melakukan penelitian tumbuhan obat.
Pada awal pemerintahan orde baru, dengan adanya ke-
mudahan memperoleh obat modern, baik yang pada waktu
itu masih di impor maupun belakangan sudah diproduksi
sendiri, maka rupa-rupanya minat meneliti tumbuhan obat
menurun. Hal ini terjadi kurang lebih selama satu dasa warsa.
Berbagai faktor yang saling kait mengait mempengaruhi
suasana penelitian sehingga sedikit banyak mempengaruhi
minat penelitian dalam bidang tersebut.
Walaupun suasana penelitian tumbuhan obat pada periode
waktu itu suram, masih terdapat beberapa peneliti yang
berminat dan menekuni bidang ini dan pada tahun 1978
menghimpun diri menjadi Perhimpunan Peneliti Bahan Obat
Alam (Perhipba). Perhimpunan ini tersebar di kota-kota
besar Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang,
Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang,Ujung Pandang, Medan,
Padang dan Palembang. Di komisariat masing-masing mereka
tetap mengupayakan berlangsungnya penelitian tumbuhan
obat ini dan tiap dua tahun para anggotanya mengadakan
kongres dan simposium melaporkan basil penelitian yang
telah dicapai.
Beberapa tahun terakhir ini suasana penelitian membaik
kembali setelah imbauan sering ditulis/disampaikan di dalam
media rnassa. Lebih-lebih setelah masalah obat dan peng-
obatan tradisional dicantumkan dalam GBHN 1988, maka
suasana penelitian tumbuhan obat adalah optimal bagi para
peneliti.
MASALAH YANG DIHADAPI
Dalam melakukan penelitian, apapun jenisnya, kita selalu
dihadapkan kepada berbagai masalah dari yang kecil sampai
yang besar. Masalah yang dijumpai dalam penelitian tumbuhan
obat antara lain adalah :
Dana
Dana diperlukan pada setiap penelitian. Selain dari pe-
merintah, dana dapat diperoleh dari badan-badan internasional
dan perusahaan-perusahaan swasta yang berminat. Mengingat
dana penelitian pemerintah terbatas, yang juga diperlukan
untuk penelitian lain maka dapat dimengerti bila penelitian
tumbuhan obat mendapat prioritas rendah, apalagi kalau pem-
buat kebijakan tidak berminat dalam bidang ini. Demikian
pula badan-badan internasional, seperti WHO misalnya, baru
tahun-tahun belakangan setelah adanya motto Health for all
by year 2000 membuka peluang untuk memberikan dana pe-
nelitian. Tentu saja harus diperebutkan di antara peminat-
peminat dari negara anggota-anggota WHO tersebut. Peluang
lan adalah dari perusahaan obat swasta yang berminat. Tetapi
sayangnya mereka lebih berminat pada penelitian obat
modern. Beberapa perusahaan jamu yang berminat hanya
menyediakan dana penelitian yang terbatas, sehingga sifat
penelitiannya disesuaikan dengan dana yang tersedia.
Minat Peneliti.
Dalam suatu penelitian, peneliti merupakan faktor utama
dan menentukan. Minat dan semangat peneliti yang tangguh
dapat mengatasi kekurangan dan kendala yang lain yang di-
hadapi. Apalagi bila penelitian dikerjakan oleh beberapa orang
dan bersifat lintas sektoral, minat dan semangat penelitian
harus dijaga dan dipupuk sejak awal sampai akhir penelitian.
Terutama penelitian yang dikerjakan di perguruan tinggi yang
menuntut pelaku penelitian harus berkarya pula di bidang
pendidikan dan pengabdian masyarakat. Sifat dan semangat
gotong royong dalam melaksanakan penelitian harus dijelma-
kan sehingga penunaian tugas tri dharma perguruan tinggi
dapat terselenggara dengan serasi dan seimbang.
Memang kita sadari bahwa seyogyanya suatu penelitian
harus dilaksanakan secara full time untuk mendapatkan hasil
yang sempurna. Tetapi untuk sementara di perguruan tinggi
hal ini kiranya sulit diterapkan.
SARANA DAN PRASARANA.
Tersedianya sarana dan prasarana yang baik dan lengkap
akan menunjang keberhasilan penelitian. Tidak usah mewah,
yang penting hasil-hasil yang diperoleh dapat dipertanggung-
jawabkan secara ilmiah. Tergantung dari sifat penelitian
yang akan dikerjakan maka prasarana dan sarana dapat di-
rancang dan disediakan sesuai dengan dana.yang tersedia.
Dari pengalaman selama ini perlu diperhatikan penyediaan
tumbuhan obat yang homogen atau uniform. Asal, sifat dan
kualitas tumbuhan obat harus ditetapkan lebih dulu. Identifi-
kasi jenis tumbuhan obat harus ditetapkan oleh ahli botani
agar tidak terjadi kekeliruan di kemudian hari. Pembudidayaan
tumbuhan obat perlu dilaksanakan untuk memperoleh kualitas
tanaman yang baik dan uniform.
Sarana informasi diperlukan untuk mencegah terjadinya
duplikasi penelitian yang tidak perlu. Hal ini harus didukung
oleh sistem dokumentasi yang baik. Ini berarti suatu peng-
hematan (efisiensi) tenaga, dana dan waktu.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Departemen
Kesehatan RI telah menerbitkan suatu buku yang memuat
judul penelitian dan lembaga yang melakukan serta tahun
penelitian tumbuhan obat yang dikerjakan oleh para peneliti
di seluruh Indonesia. Dalam hal determinasi/identifikasi
tumbuhan obat dapat pula dimanfaatkan kumpulan data
informasi yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Obat Tradisional di Universitas Airlangga
Surabaya.
Bagi peneliti yang berminat melakukan penelitian uji
klinik tumbuhan obat atau penelitian lintas sektoral yang
lain, perlu dirancang protokol dan kerja sama yang baik
supaya tidak terjadi hambatan dalam pelaksanaan, seperti
dalam memperoleh mated pasien, observasi dan tindakan-
tindakan pengobatan selama penelitian berlangsung, dan
hal-hal lain yang menyangkut pengelolaan penderita atau
penataan masyarakat oleh instansi yang terkait.
PRIORITAS PENELITIAN.
Berbagai jenis penelitian tumbuhan obat telah dilakukan di
Indonesia. Bila kita menelaah hasil-hasil penelitian yang telah
dicapai selama ini maka kebanyakan penelitian ini dilakukan
untuk melihat efek farmakodinamik, menganalisis kandungan
senyawa kimia dalam tumbuhan, cara-cara pembudidayaan
tanaman/tumbuhan obat. Semua jenis penelitian ini baik,
karena diperlukan untuk mendukung penelitian selanjutnya.
Sebaliknya data penelitian klinik tumbuhan obat dirasa-
kan masih sedikit (langka). Padahal pertanyaan yang selalu
timbul dari masyarakat (terutama dokter), adalah mengenai
manfaat tumbuhan obat atau jamu ini. Di lain pihak, ber-
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
36
dasarkan survai rumah tangga yang dilakukan oleh Departemen
Kesehatan, ternyata masyarakat Indonesia menggunakan obat
ini untuk maksud antara lain menjaga kesehatan, mengurangi
keluhan-keluhan sakit (simtomatik); roboransia, dan keluarga
berencana. Maka tanpa mengecilkan arti jenis-jenis penelitian
yang lain, kiranya penelitian uji klinik atau pemantapan
khasiat jamu atau tumbuhan obat perlu mendapat prioritas.
Bila para peneliti telah membuktikan efektivitas tumbuhan
obat ini dalam klinik maka pemerintah akan secara resmi
memasukkannya dalam sarana upaya kesehatan dan keraguan
masyarakat terhadap tumbuhan obat (jamu) ini akan sirna.
Selain itu penelitian uji klinik inipun dapat memberi informasi
yang memadai bagi para penggemar jamu. Kita harus bertekad
untuk membuktikan bahwa jamu (tumbuhan obat) sebagai
warisan budaya bangsa mempunyai arti dalam pembangunan
kesehatan bangsa Indonesia.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pemanfaatan Tanaman
Obat. Edisi ke III 1983.
2.
Muchtar A. Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik. Seri Farmakologi
Klinik No. 2, 1985.
3.
Putu Oka Sukanta, Rachmad Soegih HR. Pengobatan Tradisional
dan Perkembangannya. Kumpulan Hasil Seminar Peran Pengobat-
an Tradisional Dalam Membentuk Manusia Indonesia Yang Sehat
Untuk Menunjang Pembangunan Nasional. HDAA -- Goethe Institut
-- Yaptri, 1988.
4.
Santoso SO. Pandangan Farmakologi Modern terhadapBahan/Obat-
obatan Tradisional. Dalam : Pengobatan Tradisional dan Perkem-
bangannya, lihat no. 3.
5.
Santoso SO. Research of Phytotherapy in Indonesia, Proceeding of
the First Princess Congress of Natural Product, Bangkok, 10 -- 13
Dec, 1987.
6.
WHO. The Promotion and Development of Traditional Medicine,
Techn Rep Ser No
. 622.