Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 29
Suatu Percobaan Pemilihan Kadar Etanol
untuk Cairan Pengekstraksi Jamu
Nurendah P. Subanu--Praswanto*, B. Dzulkarnain*
S. Nurhayati W.H.**, Alexander**
*Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta
**Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta
ABSTRAK
Surat Keputusan Direktur Jenderal POM Departemen Kesehatan no. 06605/D/
SK/X/84 menyebutkan bahwa jamu dalam bentuk kapsul atau tablet harus dibuat dari
ekstrak kering dengan cairan pengekstraksi campuran etanol-air. Sehubungan dengan
SK tersebut, maka dilakukan percobaan untuk memilih kadar campuran etanol-air
yang paling tepat untuk mengekstraksi jamu X, yang dinyatakan sebagai pelancar
air seni.
Percobaan dilakukan dengan membandingkan beberapa macam ekstrak jamu X
dengan berbagai kadar etanol terhadap seduhan, secara dinamolisa kapiler, kromato-
grafi lapis tipis, dan percobaan diuretik pada tikus putih.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak jamu X dengan campuran etanol-
air kadar 25% mempunyai khasiat yang hampir sama dengan seduhan.
PENDAHULUAN
Sejak jaman dahulu obat tradisional biasanya digunakan
dengan cara merebus, menyeduh, menumbuk atau menggerus
berbagai simplisia. Sampai sekarang cara yang masih lazim
digunakan terutama untuk jamu produksi pabrik adalah
dengan cara menyeduh. Kemajuan zaman menuntut cara pe-
nyajian yang lebih praktis, serbuk jamu diproduksi dalam
bentuk kapsul atau tablet sehingga dapat langsung diminum
tanpa harus diseduh terlebih dahulu.
Untuk mengarahkan perkembangan obat tradisional agar
tingkat kemanfaatannya lebih tinggi, maka pemerintah mem-
berikan beberapa pedoman, antara lain Surat Keputusan
Direktur Jenderal POM Depkes no. 06605/D/SK/X/84. Dalam
SK ini disebutkan bahwa obat tradisional dalam bentuk sedia-
an kapsul atau tablet dibuat dari ekstrak kering dengan cairan
pengekstraksi campuran etanol--air
l
. Karena setiap jamu
mempunyai komposisi yang berbeda, baik jenis komponen
maupun jumlahnya, tentunya cairan pengekstraksi yang di-
gunakan juga mempunyai kadar etanol yang berbeda untuk
setiap jamu, agar diperoleh khasiat yang optimal.
Disajikan pada Kongres Ilmiah VI Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia di
Yogyakarta, 12 - 15 Nopember 1986.
Sehubungan dengan hal tersebut maka dilakukan suatu
percobaan untuk memilih kadar etanol sebagai cairan peng-
ekstraksi jamu. Dalam percobaan ini digunakan jamu X yang
dinyatakan berkhasiat sebagai pelancar air seni. Dengan
menggunakan metoda pembandingan, ekstrak jamu dengan
kadar etanol 10% sampai dengan 90% dibandingkan dengan
ekstrak air yaitu seduhan secara dinamolisa kapiler, kroma-
tografi lapis tipis dan percobaan farmakologi pada hewan per-
cobaan.
Pembuatan ekstrak jamu secara maserasi
2
kemudian di-
keringkan pada suhu rendah agar diperoleh ekstrak kering
yang bisa diformulasi menjadi tablet atau kapsul. Ekstrak
kering ini dipergunakan dalam ketiga langkah percobaan.
Percobaan dinamolisa kapiler adalah suatu cara yang
sederhana dan mudah dilakukan
3
dan prinsipnya hampir
seperti kromatografi kertas sirkuler
4
. Hasilnya berupa gambar
dan dibandingkan persamaan dan perbedannya. Untuk lebih
memantapkan hasil dinamolisa kapiler, maka dilanjutkan
dengan percobaan kromatografi lapis tipis yang lebih bisa
diterima secara ilmiah. Percobaan ini terbatas pada mem-
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
30
bandingkan persamaan dan perbedaan noda yang terjadi.
Selanjutnya percobaan farmakologi pada hewan percobaan,
dalam hal ini khasiat diuretiknya, juga membandingkan
antara ekstrak dan seduhan
5
.
Hasil yang diperoleh dari ketiga percobaan ini dievaluasi
sehingga akan diperoleh kadar etanol yang paling banyak
persamaannya dengan seduhan. Diharapkan tahap-tahap per-
cobaan ini dapat digunakan untuk memilih kadar etanol
bagi jamu lain yang sejenis khususnya, dan untuk jamu pada
umumnya.
BAHAN DAN CARA
Bahan
1) Bahan berupa serbuk simplisia diperoleh dari pabrik jamu
Y di Jakarta, yaitu :
·
serbuk herba meniran dari tanaman Phyllanthus niruri L.
·
serbuk daun kumis kucing dari tanaman Orthosiphon aris-
tatus BL MIQ.
·
serbuk rimpang temulawak dari tanaman Curcuma xanthor
rhiza ROXB.
Ketiga bahan dicampur sesuai dengan formula jamu X yang
dinyatakan berkhasiat sebagai pelancar air seni.
2) Dinamolisa kapiler dengan kertas Whatman no. 1 dan 3
macam pereaksi yaitu :
·
larutan besi klorida 1%
·
larutan perak nitrat I%
·
larutan tembaga sulfat 2%
3) Kromatografi lapis tipis pada lempeng Kieselgel 60 F254
dengan cairan eluasi dan penampak noda sebagai berikut :
·
untuk metoda A :
cairan eluasi : dikloroetan, benzen
penampak noda: anisaldehida -- asam sulfat
·
untuk metoda B :
cairan eluasi : campuran etil asetat--metanol (95:5)
penampak noda : aluminium klorida 1% dalam etanol
96%
4) Percobaan diuretik pada tikus.
Hewan percobaan tikus putih, betina, berat 150-- 200 gm
sebanyak 35 ekor diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengem-
bangan Gizi di Jakarta.
Pembanding : hidroklorotiazida
Pelarut
: larutan natrium klorida 0,9%.
Cara
1) Ekstraksi
Pelarut yang dipergunakan adalah campuran etanol--air
kadar 10%, 20%, 25%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% dan 90%.
a)
Pembanding : Bahan diseduh dengan air mendidih sambil
diaduk. Setelah suhunya ± 40°C (hangat-hangat) disaring
dengan kain flanel. Filtratnya dikeringkan dengan alat pem-
bekukeringkan (freeze drier). Hasil akhir dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai untuk percobaan dinamolisa, KLT, dan
diuretik.
b)
Bahan diekstraksi dengan pelarut secara maserasi sesuai
FI ed. IIl
2
. Etanol diuapkan di udara, kemudian sisanya
dikeringkan dengan alat pembekukeringkan (freeze drier).
Hasil
,
akhir dilarutkan dalam pelarut yang sesuai untuk per-
cobaan dinamolisa, KLT dan diuretik.
2) Dinamolisa kapiler
3
Masing-masing bahan dari la dan lb dilarutkan dalam
etanol 70% dengan konsentrasi 10%. Siapkan kertas saring
Whatman no. 1 berdiameter 10 cm, buatlah lubang di tengah-
nya. Pada lubang tersebut masukkan gulungan kertas Whatman
no. 1 ukuran 2 x 1 cm yang dibentuk sebagai pipa. Larutan
bahan sebanyak 0,25 ml ditaruh di dalam kaca arloji, letakkan
kertas tersebut di atasnya, diamkan sampi semua cairan
terserap, lalu keringkan di udara. Masukkan 0,5 ml larutan
pereaksi, kertas diletakkan di atasnya setelah sumbu diganti
dengan yang baru. Setelah semua cairan terserap, keringkan
di udara.
Hasil yang diamati berupa gambaran pada kertas saring
Whatman.
3) Kromatografi lapis tipis
Masing-masing bahan dari la dan lb dilarutkan dalam
metanol, lalu ditotolkan pada lempeng Kieselgel 60 F254.
Percobaan KLT dilakukan dengan 2 metode :
·
Metode A
2
Lempeng dieluasi dengan dikloroetan. Keringkan di udara
lalu dieluasi lagi dengan benzen. Amati dengan sinar biasa
dan sinar UV 366 nm. Kemudian disemprot dengah anisal-
dehida--asam sulfat, panaskan 110°C selama 10 menit, lalu
amati lagi dengan sinar biasa dan sinar UV 366 nm.
·
Metoda B
6
Lempeng dieluasi dengan campuran etil asetat--methanol
(95:5). Hasil diamati dengan sinar biasa dan sinar UV 366 nm.
Kemudian disemprot dengan aluminium klorida 1% dalam
etanol 96%, hasilnya diamati dengan sinar biasa dan sinar UV
366 nm.
4) Percobaan diuretik pada tikus
s
Dilakukan pada tikus dalam 2 tahap pengerjaan yaitu:
·
tahap pencarian dosis
tahap pembandingan khasiat
a) Tahap pencarian dosis
Tikus diberi minum air 25 ml/kg bb. lalu dipuasakan se-
hari semalam sebelum percobaan. Tikus dibagi menjadi 5
kelompok @ 3 ekor, masing-masing ditempatkan dalam kan-
dang metabolik, lalu diberikan bahan sebagai berikut:
1)
Blanko : larutan natrium klorida 0,9% sebanyak 25 ml/kg
bb.
2)
Pembanding: larutan hidroklorotiazida 1,6 mg/kg bb.
dalam 25 ml/kg bb. larutan natrium klorida 0,9%.
3)
Dosis I: larutan seduhan jamu sebanyak 1 x dosis
4)
Dosis II: larutan seduhan jamu sebanyak 10 x dosis
5)
Dosis III: larutan seduhan jamu sebanyak 100 x dosis
Setelah 4 jam diamati volume air seni yang terkumpul.
Akan diperoleh dosis x yang menyebabkan pengeluaran air
seni terbanyak sehingga mudah diamati.
b) Tahap pembandingan khasiat
Seperti tahap a, dengan kelompok pemberian bahan se- bagai
berikut :
1)
Kelompok 1 : larutan seduhan jamu, dosis x
2)
Kelompok 2 : larutan ekstrak etanol 10%, dosis x
3)
Kelompok 3 : larutan ekstrak etanol 25%, dosis x
4)
Kelompok 4 : larutan ekstrak etanol 40%, dosis x
5)
Kelompok 5 : larutan ekstrak etanol 70%, dosis x
Setelah 4 jam diamati volume air seni yang terkumpul.
HASIL
Dinamolisa kapiler
Dengan pereaksi Fe dan Ag diperoleh hasil berupa gambar
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 31
dinamolisa yang dapat dilihat persamaan dan perbedaannya
di antara pelarut-pelarut yang digunakan. Hasil ini dievaluasi
dalam label 1. Gambar dinamolisa Fe dan Ag dapat dilihat
pada Gb. 1 dan Gb. 2.
Tabel 1. Evaluasi gambar dinamolisa dengan pereaksi Fe dan Ag.
Sedangkan dengan pereaksi Cu, gambar yang dihasilkan tidak
tampak nyata sehingga sukar dilihat persamaan dan perbedaan
di antara pelarut-pelarut tersetut.
Dari tabel 1 terlihat bahwa ekstrak etanol dari kadar 10%
sampai 40% mempunyai gambar yang hampir sama dengan
seduhan, balk bentuk tepinya yang bergerigi, tidak adanya
lingkaran di titik pusat, maupun warnanya. Sehingga dari per-
cobaan ini dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak etanol
kadar 10% sampai dengan 40% mirip atau hampir sama dengan
seduhan. Dengan demikian percobaan dilanjutkan dengan kro-
matografi lapis tipis untuk membandingkan antara seduh-
an dengan ekstraketanol kadar 10% sampai dengan 40%.
Kromatografi lapis tipis
Hasil berupa kromatogram dan harga Rf disajikan dalam
tabel 2. Dari gambar kromatogramdan harga Rf dapat dilihat
bahwa noda yang dihasilkan oleh B dan C adalah sama dengan
noda yang dihasilkan oleh A. Berarti ekstrak etanol kadar
10% dan 25% hasilnya sama dengan seduhan.
Percobaan diuretik pada tikus
Tahap pencarian dosis (tabel 3).
Dari tabel 3 terlihat bahwa basil pengamatan paling jelas
pada dosis 100 X dosis manusia di mana terlihat volume air
seni paling banyak dan mudah terlihat. Maka untuk per-
cobaan tahap selanjutnya dilakukan pada dosis x yaitu 100 x
dosis manusia untuk membandingkan efek beberapa macam
ekstrak.
Tahap pembandingan khasiat (tabel 4).
Hasil menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol 25%
dan 40% menyebabkan pengeluaran airseni yang sama volume-
nya dengan seduhan.
PEMBAHASAN
Dalam percobaan ini dilakukan tiga langkah peme-
riksaan. Dinamolisa kapiler sebagai cara pendahuluan
yang sederhana dimaksudkan untuk screening kadar
pelarut etanol. Pengerjaan yang mudah, peralatan
yang sederhana dan pereaksi yang murah membuat
cara ini dapat digunakan sebagai seleksi pendahuluan.
Untuk lebih memantapkan hasilnya secara kimiawi
maka dilanjutkan pada tahap berikutnya yaitu dengan
kromatografi lapis tipis.
Untuk cara ini dipilih beberapa metoda menurut
perkiraan zat kandungan kimia dalam komponen
utama jamu. Karena jamu terdiri dari banyak kom-
ponen dan setiap komponen mengandung beberapa
zat kandungan kimia, maka dipilih eluen dan pe-
reaksi untuk golongan besar zat kimia, misalnya al-
kaloida, flavonoida, dan sebagainya. Dalam percobaan
ini dipakai metoda A bagi minyak atsiri dan metoda B
bagi flavonoida dengan perkiraan bahwa Phyllanthus
niruri mengandung phyllanthin suatu zat pahit
7
,
Orthosiphon aristatus mengandung orthosiphonin
suatu glikosida
'
dan alkaloida, dan Curcuma xan-
thorrhizza mengandung minyak atsiri dan kurkumin
suatu zat warna. Meskipun setiap noda tidak diteliti
secara kwalitatif maupun kwantitatif, tetapi dengan
membandingkan harga Rf, besar dan warna dari setiap
noda dengan seduhan, maka akan dapat terlihat jelas
mana yang menghasilkan noda yang sama dengan seduhan.
Percobaan farmakologi merupakan langkah terakhir dan
terutama, sebab dari sinilah terlihat kesamaan khasiat antara
ekstrak dan seduhan. Dalam percobaan ini kami tidak ber-
maksud untuk membuktikan adanya khasiat sebagai pelancar
air seni, tetapi hanya ingin membandingkan besarnya khasiat
dari setiap ekstrak etanol dengan seduhan.. Secara kebetulan
terlihat dalam tabel 3 bahwa jamu ini memang dapat dikata-
kan bersifat diuretik meskipun lemah, yaitu dengan terlihat-
nya hubungan dosis dan efek. Pada 1 x dosis manusia efeknya
hampir sama dengan blanko, sedangkan pada 100 x dosis
rnanusia masih belum sama efeknya dengan hidroklorotiazida.
Percobaan pembandingan khasiat dilakukan pada 100 x dosis
manusia. Hasilnya mudah diamati karena air seni yang ter-
bentuk volumenya cukup besar. Tetapi harus diperhitung-
kan kemungkinan timbulnya efek samping karena dosis besar.
Dalam percobaan ini belum terlihat efek samping yang fatal,
hanya terlihat warna air seni tikus yang diberi ekstrak etanol
(10% sampai dengan 70%) agak berbeda yaitu merah coklat,
sedangkan pada tikus yang diberikan seduhan air seninya
berwarna kuning. Mungkin perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut mengenai perubahan warna air seni tersebut pada
penelitian selanjutnya.
Dalam percobaan pembandingan ini juga diberikan ekstrak
etanol 70%, dengan harapan akan terlihat perbedaan yang
nyata dengan seduhan. Ternyata hasilnya memang sangat
Pereaksi Fe
Pereaksi Ag
No. Janis
ekstrak Bentuk lingkar- Warna Bentuk Lingkar- Warna
tepi
an punt
tepi
an pine
1. Seduhan
+++
+++
+
2. Ekstrak etanol
10%
++ _ ± ++
+
3. Ekstrak etanol
20%
++ ± ++
+
4. Ekstrak etanol
25%
++ ± ++
+
5. Ekstrak etanol
40%
++ + +
+
+
+
6. Ekstrak etanol
50%
+ + +
+
+
±
7. Ekstrak etanol
60%
+ ++ + +
8. Ekstrak etanol
70%
++ +
++
9. Ekstrak etanol
80%
++
++
10. Ekstrak etanol
90%
+++
+++
Keterangan:
+ = bentuk tepi bergerigi, ada lingkaran di titik pusat, warna jelas.
= bentuk tepi tidak bergerigi/rata, tidak ada lingkaran di titik pusat,
warna tidak n y a t a .
± = ada warna t e t a p i tidak nyata.
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
32
Gb. 1. Gambar dinamolisa dengan-pereaksi Fe.
Gb. 2. Gambar dinamolisa dengan pereaksi Ag.
berbeda jauh antara seduhan dengan ekstrak etanol 70%. Hal
ini mungkin dapat dijelaskan bahwa makin kecil kadar air
(makin besar kadar etanol) maka khasiatnya semakin berbeda
jauh. Sehingga ekstraksi dengan etanol sebaiknya pada kadar
etanol rendah.
Dari seluruh percobaan dapat dinyatakan bahwa ekstrak etanol
dengan kadar 25% dari jamu X mempunyai gambar dinamolisa,
noda KLT dan khasiat yang sama dengan seduhan
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 33
Tabel 2. Harga Rf kromatogram dengan metoda A dan metoda B
Metoda A
Warna bercak dalam sinar UV 366 nm
Zat
No.
Bercak
Hrf Tanpa
Pereaksi Dengan
Pereaksi
1 7 - 1 0
Jingga
Jingga
coldat
A 2 1 1 - 1 5
Kuning
Jingga
coklat
3
72-76
Biru
muda C
1 7 - 1 1
Jingga
Jingga
coklat
B 2 12-16
Kuning
Jingga
coklat
3
72-75
Biru
muda C
1 8 - 1 1
Jingga
Jingga coklat
C 2 12-16
Kuning Ji
3
7 2 - 7 6
Biru
muda C
1 4 - 6 Kuning
Kuning coklat
2
7-9
Kuning Kuning coklat
3
1 0 - 1 3
Jingga
Ji
D 4 14-17
Kuning
Ji
5
23-28
-
K
6
57-60
-
Ji
7
7 1 - 7 5
Biru
muda C
Metoda B
N
Warna bercak dalan sinar UV 366 nm
Zat Bercak Hrf Tanpa
Pereaksi Dengan Pereaksi
A 1 28-32 Biru
muda
Bir
2 35-40
-
Kuning
kehijauan
B 1 29-34 Biru muda
Bir
2 37-41
-
Kuning
kehijauan
C 1 30-34 Biru muda
Bir
2 37-42
-
Kuning
kehijauan
1
3 0 - 3 4
Biru muda
Bir
2 37-41
Kuning Kuning kehijauan
D 3 43-46 Kuning
Kuning
kehijauan
4
4 7 - 5 4
Kuning
Kuning
kehijauan
Tabel 3. Pengamatan volume air seni pada pemberian jamu "X"
Blanko Pembanding
Dosis 1
x dosis
Dosis 10
x dosis
Dosis 100
x dosis
Perlakuan
Ulangan
manu-
sia
manusia manusia
0
2,2 0,3 0,7
1,0
U
0
1
0,6 0,5
1,7
P
e
0
2
0,3 0,8
1,4
0
1,0 0,4 0,4
0,9
U
0
1
0,3 0,9
1,3
K
e
0
1
0,3 0,6
0,7
Rata-rata
0,33
1,78
0,37
0,65
1,17
Keterangan:
Perhitungan dosis: Sesuai dengan etiket pada jamu X, pemakaian adalah
1 bungkus berat 4 gram diminum sekali.sehari. Jadi 1 x dosis manusia
adalah 4 g/ orang/ hari atau 8 mg/100 g bb.
Tabel 4. Pembandingan volume air seni pada pemberian beberapa
macam ekstrak.
Perlakuan
Seduhan
Ekstrak
Etanol
Ekstrak
Etanol
Ekstrak
Etanol
Ekstrak
Etanol
Ulangan
10%
25%
40%
70%
1,1 1,0 1,1 1,2
0
I
1,1
0,9
0,8 0,9
0,2
0,9
0,9
1,0
1,0
0,7
1,2 0,9 0,9 0,9 0,5
II
0,9
0,8
0,9 0,9
0,3
0,9
0,8
1,0
0,7
0,7
1,3 0,9 1,2 0,9 0,8
III
1,1
0,7
1,0 1,5
0,4
0,9
0,9
1,0
1,3
0,5
1,3 1,3 0,8 1,3 0,9
IV
1,1
0,9
1,2 0,8
0,7
1,3
0,9
1,6
1,4
0,2
Rata-rata/
ekor
1,09 0,91 1,04 1,07 0,49
Keterangan:
Dosis yang digunakan adalah 100 x dosis manusia.
jamu X.
KESIMPULAN DAN SARAN
Percobaan pemilihan kadar etanol sebagai cairan peng-
ekstraksi jamu X secara dinamolisa kapiler dan kromatografi
lapisan tipis, dilanjutkan dengan pemeriksaan khasiat diuretik,
menyajikan kesimpulan sebagai berikut:
Ekstrak etanol kadar 25% dari jamu X mempunyai gambar
dinamolisa dan noda KLT yang sama dengan seduhan jamu
X, serta khasiat diuretik yang tidak berbeda dengan seduhan
jamu X.
Diharapkan langkah-langkah penelitian seperti dalam
percobaan yang cukup sederhana ini dapat dipergunakan untuk
memilih cairan pengekstraksi bagi jamu pada
umumnya.
KEPUSTAKAAN
1.
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan,
Departemen Kesehatan, nomor 06605/D/SK/X/84 tahun 1984.
2.
Departemen Kesehatan RI Farmakope Indonesia, Edisi III 1979.
3.
Sorgdrager P. Capillaire dynamolyse. Een hulpmiddel voor de
identificatie en vergelijking van galenica en andere vloeistoffen,
Pharm. Weekblad 1951; 86 : 170-5.
4.
Osol A. et al. Remington's Pharmaceutical Science, 6th ed., Easton
Pennsylvania, Mack Publishing Co. 1980; hal. 563-8.
5.
Turner RA. Screening methods in pharmacology, 2nd ed., New
York, London, Academic Press Inc., 1965; hal. 252.
6.
Stahl E. Thin layer chromatography: a laboratory handbook, 2nd
ed., New York, Springerverlag, 1969; hal. 697,856.
7.
Chopra RN. et al. Glossary of Indian medicinal plants, Council of
Scientific & Industrial Research, New Delhi, 1956; hal. 182, 191.