Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
24
Zat-zat Toksik yang Secara Alamiah
Ada pada Bahan Makanan Nabati
Dra. Oey Kam Nio
Mantan Peneliti Ahli Unit Diponegoro -- Pusat Penelitian Penyakit Menular
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
Makanan merupakan supplier zat-zat gizi untuk manusia,
seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan trace
elements, tetapi juga mempunyai zat-zat yang masih termasuk
golongan zat gizi, di samping zat-zat lain yang fungsinya tidak
selalu jelas, bahkan kadang-kadang merupakan suatu zat toksik.
Umumnya zat-zat ini dibagi dalam beberapa golongan seperti:
·
Zat yang sengaja ditambahkan selama pengolahan bahan
makanan (food additives),
·
Contaminants asal mikroba,
·
Contaminants bukan asal mikroba,
·
Zat-zat yang terbentuk selama pengolahan (processing)
bahan makanan,
·
Zat-zat yang memang secara alamiah ada di bahan makanan
(diproduksi sendiri oleh tanaman).
Zat-zat toksin yang secara alamiah ada pada bahan makanan
nabati, digolongkan menurut sifatnya sebagai zat gizi dan
menurut peranannya dalam tubuh manusia, seperti berikut:
A. Menurut sifat gizinya:
1.
Karbohidrat 4.
Vitamin
2.
Lemak 5.
Mineral
3.
Protein
B. Menurut peranan dalam tubuh manusia:
1.
Anti-vitamin
2.
Anti enzim
KARBOHIDRAT
Glikosida
Glikosida adalah suatu senyawa antara karbohidrat dan zat
lain yang dinamakan radikal aglikon. Radikal aglikon ini dapat
melalui proses bersifat toksik dan dapat dibebaskan dari
persenyawaan melalui proses hidrolisa yang dapat dikatalisa
oleh enzim yang ada pada tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Di
laboratorium hidrolisa dapat dilaksanakan dengan penambahan
asam encer. Cara lain untuk membebaskan aglikon ini adalah
dengan penggilingan atau pemanasan.
Ceramah di Puslit Penyakit Tidak Menular, Jakarta 25 Februari 1988.
Glikosid yang mengandung sianida (cyanogenetic glucosides)
Sianida selalu ada dalam konsentrasi kecil (trace) pada
banyak macam tumbuh-tumbuhan, terutama dalam bentuk
cyanogenetic glucosides. Pada rumput, kacang-kacangan,
umbi-umbian dan biji tertentu, diketemukan dalam kadar
yang relatif tinggi. Tiga macam glukosida yang dapat meng-
hasilkan sianida dan diketahui ada pada tumbuh-tumbuhan
yang lazim dimakan (edible), ialah:
·
Amygdalin pada bitter almonds, dan biji (kernel) buah-
buah lain.
·
Dhurrin pada sorghum, dan rumput-tumput lainnya.
·
Linamarin atau Phaseolunatin pada kacang-kacangan,
seperti koro dan linseed, dan akar berpati seperti singkong.
Lebih terperinci, glikosida ini ada pada bahan-bahan makanan
seperti berikut: singkong (pada daun dan akar), ubi jalar,
"yam" (dyoscoreaceae) (pada umbi), jagung (pada butir),
cantel (pada butir), rempah-rempah, tebu, kacang-kacangan
(peas & beans), terutama koro krupuk, & almonds.
Pada buah diketemukan antara lain pada : jeruk, apel, pear,
cherry, apricot, prune, plum.
Pada rumput dan tebu, kadar tertinggi glikosida toksik
tersebut terutama ada di pucuk muda tanaman yang tumbuh
di tanah subur. Pada koro krupuk kadar tertinggi ada pada
varietas hitam. Penanaman secara sistematis dari varietas
putih dapat banyak mengurangi kadar linamarin, tetapi
mungkin varietas tanpa linamarin tidak dapat diperoleh. Pada
singkong, kadar sianida yang tinggi hanya ada pada varietas
pahit, tetapi tidak ada perbedaan jelas antara varietas pahit
dan manis. Seluruh tanaman mengandung sianida, kadarnya
paling tinggi di kulit umbi. Mungkin sianida diperlukan
oleh tanaman untuk perlindungan terhadap serangga.
Amygdalin
Amygdalin merupakan suatu glikosida dari benzaldehyde
cyanohydrin (mandelonitrile) bila dihidrolisa lengkap meng-
hasilkan glukosa, benzaldehid dan hidrogensianida (HCN).
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 25
Hidrolisa dengan alkali atau asam pekat menghasilkan amyg-
dalinic acid. Hidrolisa dengan enzim berjalan dalam dua tahap
sebagai berikut :
Dhurrin
Dhurrin adalah glikosida dari phydroxy benzaldehyde
cyanohydrin, yang bila dihidrolisa menghasilkan glucose
phydroxy benzaldehyde, dan hidrogensianida (HCN).
Linamarin
Linamarin yang antara lain ada pada Koro krupuk (Lima
bean, Phaseolus lunatus) dan singkong (Cassava) adalah glu-
kosida dart acetone cyanohydrin. Bila dihidrolisa dengan
enzim Bglukosidase, menghasilkan glukosa dan 2-cyano-
2propanol. Hidrolisa lebih lanjut dari 2cyano2propanol
dengan enzim oxynitrilase menghasilkan aseton dan asam
sianida (Hydrocyanic acid, HCN).
Zat-zat tersebut di atas termasuk golongan Bglukosida,
sukar larut dalam air, sehingga tepat sebagai pembawa zat-
zat toksik seperti sianida, sampai zat toksin ini diperlukan
untuk suatu fungsi biologik.
Pengeluaran spontan HCN (autohidrolisa) dari tanaman
dapat terjadi, bila ada enzim glukosidase khusus dan air.
Enzim ini adalah enzim ekstraseluler, sehingga bila sel rusak
dapat bereaksi dengan glukosida. Sifat lain dari enzim ini
adalah dapat bereaksi dalam suasana dingin tapi mudah rusak
dengan pemanasan. Autohidrolisa dapat diperbesar bila se-
sudah sel-sel rusak, tanaman direndam.
Sianida cepat diabsorpsi di saluran pencernaan bagian
atas, juga langsung dapat melalui kulit. Gas HCN cepat di-
absorpsi oleh paru-paru. Sebetulnya manusia secara terus
menerus mendapatkan sianida dalam konsentrasi kecil, tidak
hanya dari makanan tetapi juga dari polusi udara, terutama
asap rokok. Adanya jumlah yang kecil sekali dalarn tubuh
mungkin dapat dianggap fisiologis dan mungkin berfungsi
menghambat proses oksidasi sel.
Untuk menghilangkan HCN dari makanan, caranya adalah
dengan merebus dan membuang air perebus. Misalnya, sing-
kong harus dimakan bila masih segar dan tidak rusak sel-
selnya, atau dikupas dan dicuci dengan air mengalir. Tanrnan-
tanaman lain yang mengandung HCN tidak boleh disimpan
lama, dan tidak boleh rusak (bruised) selama panen, penjualan
dan persiapan untuk dimakan. Dan yang telah direbus tidak
boleh dicampur dengan yang segar. Saran lain, singkong yang
pahit, yang berarti mengandung banyak HCN sebaiknya
tidak dimakan.
Saponin
Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada
banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman
dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan
dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan.
Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui, mungkin
sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan
waste product dari metabolisme tumbuh-tumbuhan. Ke-
mungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan
serangga.
Sifat-sifat Saponin adalah:
1)
Mempunyai rasa pahit
2)
Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3)
Menghemolisa eritrosit
4)
Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5)
Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidrok-
sisteroid lainnya
6)
Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7)
Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasil-
kan formula empiris yang mendekati.
Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan
permukaan (surface tension). Dengan hidrolisa lengkap akan
dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose,
pentose dan saccharic acid).
Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi
dalam dua kelompok:
1)
Steroids dengan 27 C atom.
2)
Triterpenoids, dengan 30 C atom.
Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawi-
nya, yaitu berbeda pada aglikon (sapogenin) dan juga karbo-
hidratnya, sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat mem-
punyai macam-macam saponin yang berlainan, seperti:
·
Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin
·
Alfalfa saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin
·
Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda
dalam sapogenin, atau karbohidratnya,
atau dalam kedua-duanya.
Kematian pada ikan, mungkin disebabkan oleh gangguan
pernafasan. Ikan yang mati karena racun saponin, tidak
toksik untuk manusia bila dimakan. Tidak toksiknya untuk
manusia dapat diketahui dari minuman seperti bir yang busanya
disebabkan oleh saponin.
Contoh glikosida lain adalah tioglikosida dan bensiltiogli-
kosida. Bila dihidrolisa dengan enzim menghasilkan tiosianat,
isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mem-
punyai sifat antitiroid. Zat-zat toksik tersebut ada pada
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
26
bawang, selada air, kacang-kacangan seperti kacang tanah,
kacang kedele dan juga pada macam-macam kol.
LEMAK
Asam lemak "cyclopropene
"
Ada pada beberapa macam minyak tumbuh-tumbuhan,
misalnya minyak cottonseed. Percobaan dengan ayam me-
nunjukkan asam lemak ini dapat menyebabkan hepatomegali,
telurnya menjadi berwarna merah muda. Percobaan dengan
tikus menunjukkan, bahwa makanan mengandung cottonseed
5%, dapat memperlambat pertumbuhan.
Phytanic acid
Dapat merupakan zat toksik pada penderita yang dapat men-
metabolisir asam-asam lemak dengan rantai C -- atom ber-
cabang.
Erucic acid
Erucic acid terdapat di dalam rape oil.
Makanan tikus dan itik, yang mengandung 10% rape oil
dapat menyebabkan miokarditis dan pelemakan hati. Minyak
rape seed (RSO) dan minyak mustard mengandung 40--50%
erucic acid.
Pada tikus RSO menyebabkan keterlambatan pertumbuhan,
berkurangnya jumlah makanan yang dimakan dan bertambah-
nya lemak tinja, tetapi tinja total tidak berbeda banyaknya
dengan kelompok kontrol. Ternyata bila ada asam-asam lemak
lainnya, terutama asam palmitat, maka efek merugikan asam
erucic, tidak diketemukan. Jadi mungkin dalam makanan
biasa, efek menekan pertumbuhan dari asam erucic dapat
dinetralkan oleh adanya asam-asam lemak lain.
Residu tung oil
Minyak tung diperoleh dari tung oil tree (Aleuritis fordii
atau Aleuritis montana) suatu minyak cepat menguap yang di-
pakai untuk pembuatan cat. Tidak termasuk minyak yang da-
pat dimakan. Residunya, tung meal, yang sangat beracun sering
menyebabkan keracunan ternak sapi (cattle) di USA, maka
hanya dapat dipakai sebagai pupuk. Biji tung tree macamnya
menarik, rasanya enak dengan kadar protein tinggi sekali
(25--30%), sehingga banyak usaha dilakukan untuk me-
ngetahui zat-zat toksik yang ada, agar dapat dihilangkan dan
dengan demikian dapat dipakai sebagai makanan hewan.
Ternyata dengan pemanasan zat-zat toksik ini tidak dapat
dirusak seluruhnya, sehingga harus di ekstraksi lebih dulu
dengan pelarut organik seperti alkohol, eter atau aseton.
Dari hasil penelitian ini ditarik kesimpulan bahwa ada dua
macam zat toksik yaitu yang stabil terhadap pemanasan,
larut. dalam pelarut organik; dan yang labil terhadap pe-
manasan, tidak larut dalam pelarut organik.
Bagian yang stabil terhadap pemanasan, telah diselidiki
oleh Holmes dan O'Connor (1961), dan sebagian rumus
bangunnya diketahui. Bagian ini terdiri dari dua zat toksik,
yang merupakan dua macam di-ester.
Bagian yang labil terhadap pemanasan, dulu dianggap
saponin. Tetapi berdasarkan beratnya diperkirakan suatu
protein. Protein yang di-isolir dari tung meal sifatnya toksik,
tetapi tidak dihilangkan dengan tripsin atau reagens yang dapat
mendenaturasi protein.
PROTEIN
Protein toksik, yang dapat menyebabkan aglutinasi eri-
trosit, menghambat pertumbuhan, merusak vitamin, me-
ngurangi aktivitas enzim, dan gejala-gejala lain diketemukan
pada macam-macam bahan makanan, misalnya hemagglutinin
pada kacang kedele (Liener, 1983). Tetapi umumnya tidak
merupakan masalah, karena dengan pemanasan protein akan
mengalami denaturasi. Lain halnya bila protein-protein ini
ada pada bahan makanan yang dimakan mentah, seperti
macam-macam buah, atau bila pemanasan terlalu singkat.
Peptida
Peptida, yang merupakan bagian dari protein, ada yang
toksik, misalnya yang dihasilkan oleh cendawan tertentu.
Protein terdiri dari asam-asam amino, yang satu sama lain
berikatan sehingga membentuk peptida. Di antara asam-
asam amino ini ada juga yang toksik, seperti Mimosine.
Mimosine
Mimosine suatu asam amino yang mempunyai rumus
bangun mirip dengan tirosin.
Mimosine merupakan asam amino dari protein lamtoro kem-
landingan, (Leucaena glauca) yang menyebabkan lamtoro men-
jadi suatu bahan makanan yang toksik. Kadar proteinnya
tinggi dan rasanya enak, tetapi bila diberikan pada hewan
seperti kuda, sapi, kambing, babi dan binatang laboratorium
lainnya dapat mengakibatkan pertumbuhan berkurang, kondisi
umum jelek dengan gejala khas, yaitu rontoknya bulu.
Menurut penelitian Lin dkk. (1964), efek makanan eks-
perimen yang mengandung 0,5% lamtoro yaitu lambatnya
pertumbuhan dapat dihilangkan sebagian dengan penambah-
an fenilalanin, dan dapat dihilangkan samasekali dengan
penambahan tirosin in-vitro. Kadar mimosine dalam biji daun
lamtoro menjadi berkurang bila disimpan pada temperatur
lebih tinggi dari 70°C dan pada keadaan lembab. (Mitsumoto,
1951). Sedangkan hasil penelitian Yoshida (1944) menunjuk-
kan bahwa penambahan garam FeSO
4
pada makanan tikus
yang mengandung lamtoro mengurangi aktivitas mimosine
karena absorpsi mimosine dari saluran pencernaan berkurang.
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 27
Jengkolic acid
Biji jengkol (Pithecolobium lobatum) merupakan makanan
yang digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sayangnya
sering terdengar keluhan keracunan atau kejengkolan. Ke-
racunan ini disebabkan oleh suatu asam amino, yaitu djeng-
kolic acid (asam jengkol).
Rumus bangun asam jengkol mirip dengan rumus bangun
asam amino sistin, tetapi sistin bukan merupakan pengganti
(substitute) ataupun antagonis untuk asam jengkol.
Anggapan Van Veen (1966) adalah, bila asam jengkol
dalam bentuk tidak berikatan dengan zat lain, maka kadarnya
adalah 12%. Pada varietas hitam kadar asam jengkol dapat
mencapai sampai 34%. Kejengkolan dapat terjadi bila reaksi
air seni pemakan (consumer) adalah asam, sehingga asam
jengkol mengendap dalam bentuk jarum halus yang dapat
merusak ginjal. Untuk mengatasi hal ini dapat diminum air
abu dari macam-macam tumbuh-tumbuhan yang bereaksi
alkalis. Menurut Heyne, keripik jengkol kurang beracun di-
banding dengan bahan semula.
Lathyrogen
Lathyrogen adalah suatu asam amino yang tidak umum,
yang ada pada protein dari biji tanaman jenis Lathyrus. Biji
ini banyak dimakan antara lain di India. Gejala dari lathyrism
ini adalah kerusakan jaringan saraf, rangka dan pembuluh
darah.
Ini disebabkan karena zat toksik tersebut merusak ikatan
cross-link antara rantai-rantai polipeptida pada kolagen dan
elastin, sehingga tulang dan dinding pembuluh darah menjadi
lemah. Zat toksik ini adalah suatu asam amino, yaitu B
aminopropionitrile (lathyrogen).
Asam-asam aminoSelenium
Asam amino ini LSelenocystine mempunyai unsur Se,
sebagai pengganti unsur S. Tanaman yang mempunyai asam-
asam aminoSe in, adalah yang tumbuh di tanah kaya akan Se.
Pada beberapa tanaman kadar Se dapat mencapai 15.000 ppm,
sedangkan 10 ppm dalam makanan sudah menunjukkan
toksisitas.
LDopa.
Asam amino LDopa mungkin memegang peranan pada
penyakit favism, suatu penyakit akut anemia hemolitik yang
disebabkan oleh konsumsi broad beans (fava beans) atau
inhalasi pollen dari kacang babi (Vicia faba). Dalam tubuh
manusia Dopa dapat dibentuk dari tirosin dan dapat dipakai
untuk sintesa hormon epinefrin.
Mineral
Ada trace elements yang termasuk toksik. Dalam jumlah
yang kecil sekali trace elements seperti Mo dan Se diperlukan
oleh manusia. Mo sebagai aktivator untuk bekerjanya enzim-
enzim tertentu dan Se sebagai pengganti vitamin E dalam
beberapa fungsi-fungsinya. Besarnya toksisitas oleh trace
elements ini tergantung dari banyaknya yang dimakan, sifat dan
macamnya, dan juga jenis binatang yang memakannya.
Pada umumnya trace elements yang ada pada hasil makanan
(food products) adalah dari tanah di mana tanaman itu turn-
buh dan dari polusi, terutama polusi industri, jadi bukan yang
diproduksi sendiri oleh tanaman-tanaman itu.
PENGGOLONGAN ZAT-ZAT TOKSIK ALAMIAH BER-
DASARKAN PERANANNYA DALAM TUBUH MANUSIA.
Anti-vitamin.
Ada zat-zat yang ada pada bahan makanan asal hewan dan
nabati yang dapat bekerja sebagai anti-vitamin. Sifat ini di-
sebabkan karena rumus bangun kimiawi yang hampir sama,
sehingga ada kompetisi antara vitamin dan anti-vitaminnya,
atau karena anti-vitamin bereaksi dengan vitamin itu.
Beberapa contoh dari anti-vitamin adalah sebagai berikut:
Antagonis untuk vitamin: Diketemukan pada bahan ma-
kanan:
-- tiamin
-- ikan segar, kerang, khamir,
linseed, mustard (antagonis.
thiaminase)
-- riboflavi
-- ackee (Blighia sapida)
-- niasin
-- jagung,
cantel
(millet)
(antagonis : niasinogen)
-- biotin
-- putih telur mentah (anta-
gonis : avidin)
-- piridoksin
-- linseed (Limun usitatissimun)
(antagonis : linatine)
-- asam pantotenat
-- Khamir
-- vitamin D
-- rumput kering (antagonis : B-
karotin)
-- vitamin K
-- sweet clover (Melilotus offici-
nalis) (antagonis:dicoumarol)
Antagonis thiamin (thiaminase) dapat merusak molekul
thiamin, diketemukan pada banyak macam ikan, terutama di
limpa, hati, jantung dan usus. Juga pada tumbuh-tumbuhan
seperti bracken fern (Pteridium aquillinum).
Antagonis niasin diperkirakan ada pada jagung, karena
manusia dan binatang yang makannya terdiri dari jagung,
menderita defisiensi niasin.
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
28
Avidin, antagonis biotin yang ada dalam putih telur men-
tah, membentuk kompleks dengan biotin, yang tidak dapat
dipakai tubuh.
Antagonis piridoksin (linatine) yang ada pada linseed dapat
bereaksi dengan vitaminB
6
(piridoksinfosfat), menghasilkan
kompleks yang tahan terhadap pemanasan dan dapat larut
dalam air. Antagonis piridoksin ini adalah LaminoDpro-
line yang ada dalam persenyawaan dengan asam glutamat
(linatine).
Antagonis asam pantotenat diketemukan pada tunas
kacang-kacangan.
Antagonis vitamin D adalah Bkarotin, yang juga me-
rupakan provitamin A. Bkarotin ada pada sayuran daun
hijau dan buah berwarna jingga (orange).
Antagonis vitamin K adalah dikumarol yang ada pada
tanaman sweet clover. Dikumarol dapat, dipakai sebagai
antikoagulan dalam ilmu kedokteran.
Anti-enzim.
Dalam bahan makanan ada zat-zat yang dapat menghalangi
atau mencegah bekerjanya suatu enzim. Zat ini dinamakan
anti-enzim. Inhibitors ini tidak hanya mengurangi penyerapan
proten makanan yang dicerna, tetapi juga komponen lain
dari makanan. Tetapi ada juga anti-enzim yang mempunyai
fungsi penting dalam tubuh, misalnya pada penggumpalan
darah. Sebagian besar anti-enzim ini akan hilang aktivitasnya
dengan pemanasan.
Beberapa contoh dari anti-enzim ini adalah sebagai berikut:
·
Pada kacang kedelai mentah ada suatu globulin dengan
berat molekul besar, yang dapat berikatan dengan tripsin,
sehingga menjadi suatu kompleks yang tidak mempunyai ke-
kuatan sebagai enzim. Anti-enzim ini dinamakan trypsin
inhibitor. Inhibitor ini juga diketemukan pada kacang-kacang-
an lain, kentang dan putih telur.
·
Pada ubi jalar ada trypsin inhibitor pada umbi dan daun,
terutama daun muda.
·
Pada kentang ada chymotrypsin inhibitor dan trypsin inhibitor
di umbi dan daun muda. Juga diketahui adanya inhibitor untuk
cholineesterase.
·
Pada kacang hijau ada trypsin inhibitor dan chymotrypsin
inhibitor, juga pada daunnya. Chymotrypsin inhibitor juga
diketemukan pada kacang-kacangan lain, seperti kacang
kedelai.
·
Pada gandum, kacang-kacangan, pisang mentah dan mangga
ada inhibitor untuk amilase
·
Pada pisang mentah dan mangga, di samping amylase inhi-
bitor, juga mengandung catalase inhibitor.
Di antara enzim-inhibitors ini, protease inhibitors me-
megang peranan penting. Protease inhibitors, yang terutama
ada pada kacang-kacangan (leguminosa) menghalangi bekerja-
nya enzim-enzim proteolitik. Protease inhibitors ini juga
suatu protein, sehingga akan rusak pada pemanasan (dena-
turasi). Efek ini umumnya diikuti oleh kenaikan nilai gizi
protein. Pada kacang kedelai, perebusan (pemanasan) meng-
halangi atau mencegah aktivitas trypsin-inhibitor, yang besar-
nya tergantung dari temperatur dan lamanya pemanasan.
Di antara protease inhibitors ini, yang paling penting adalah
anti-tripsin. Ada juga anti-enzim yang dapat menghalangi
bekerjanya tidak hanya satu enzim, tetapi beberapa enzim
sekaligus.
Solanine adalah suatu glikosida anti-enzim cholinesterase
Solanine diketemukan pada banyak macam sayuran dan buah,
misalnya pada kentang, terong dan tomat. Walaupun telah
diketahui adanya beberapa keracunan oleh karena makan
kentang, tetapi belum tentu keracunan itu disebabkan oleh
solanine, atau gliko-alkaloida lainnya. Solanine tidak terlalu
toksis, tidak rusak oleh pemanasan dan tidak larut dalam air.
PERANAN ANTIENZIM
Ada penyelidik yang menganggap peranan ini sebagai suatu
mekanisme pertahanan dan suatu cara perlindungan dari zat-
zat tertentu. Hipotesis mengenai peranan pelindung ini dapat
dimengerti, bila dipertimbangkan, bahwa sebagian besar
enzyme-inhibitor yang aktif diketemukan pada bagian yang
mengandung unsur reproduksi pada telur atau biji. Aktivitas
anti-enzim dapat juga dianggap sebagai pertahanan terhadap
serangga dan jamur.
KESIMPULAN
Walaupun zat-zat toksik ada dalam bahan makanan, belum
tentu merupakan racun dalam tubuh manusia karena:
1)
Kemungkinan dapat dihilangkan atau menjadi non-aktif
dengan pengolahan. Sebagian adalah protein yang akan meng-
alami denaturasi selama pemanasan pada pengolahan.
2)
Kemungkinan dalam tubuh ada mekanisme untuk detoksi-
fikasi, misalnya dengan direaksikan dengan zat tertentu,
sehingga aktivitas toksik hilang.
3)
Kemungkinan adanya zat-zat lain dalam makanan yang dapat
menekan atau menetralkan aktivitas toksin.
4)
Yang memegang peranan penting adalah banyaknya zat
toksik yang ikut dikonsumsi bersama makanan. Bila jumlah-
nya kecil, mungkin tidak berarti.
KEPUSTAKAAN
1.
Liener IE. (ed). Toxic constituents of plant foodstuffs. Academic
Press, New York, 1969.
2.
Ferrando R. Traditional and non-traditional foods. FAO, Rome,
1981.
3.
De Groot AP. Toxische stoffen die van nature in voedingsmiddelen
voorkomen. Literatuuroverzlcht.. Report No. V 85.074/350445.
CIVO Instituten--TNO, The Netherlands.
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :
Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O. Box 3105, Jakarta 10002