background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 17
Pengaruh Infus Daun Keji Beling
(Strobilanthus Sp
)
terhadap Batu
Kandung Kemih Buatan pada Tikus Putih
B. Wahjoedi; B. Dzulkarnain; Adjirni
Staf Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Departemen Kesehatan R. L, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan untuk melihat pengaruh infus daun keji beling (Stro-
bilanthus sp.) famili Acanthaceae terhadap batu kandung kemih buatan pada tikus
putih. Batu kandung kemih buatan pada tikus terbentuk setelah menempatkan benang
sutera dalam kandung kemih. Tikus-tikus ini diberi infus daun Keji beling ekivalen
dengan 1 x dan 10 x dosis lazim orang, setiap hari selama 7 hari berturut-turut dan
menggunakan kelompok aquades sebagai pembanding.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa infus daun Keji beling tersebut mempunyai
efek mencegah pembentukan batu kandung kemih buatan pada tikus putih.
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui pemakaian obat modern dalam pe-
ngobatan penyakit kencing batu dan sejenisnya belum me-
muaskan. Oleh karena itu, pemakaian tanaman obat yang
dapat membantu penanggulangan penyakit tersebut, apa-
bila secara ilmiah dapat dipertanggung jawabkan, tidak ada
buruknya untuk dicoba, seperti Keji beling (Strobilanthus sp.)
yang secara empiris merupakan salah satu tanaman obat yang
banyak digunakan dalampengobatan penyakit kencing batu.
1,2
.
Dilihat dari segi botani, tanaman ini cukup banyak tumbuh di
Indonesia, sehingga kekuatiran kekurangan sebagai bahan
untuk pengobatan dapat dikurangi.
Beberapa peneliti terdahulu telah meneliti tanaman ini
dari beberapa segi. Antara lain E. Kurnia et al (1975) men-
dapatkan dalam percobaannya secara in vitro, bahwa infus
Strobilanthus crispus BL. mempunyai daya melarutkan batu
saluran kencing dari bekas operasi penderita kencing batu.
Selain itu terbukti pula bahwa penanaman dengan cara pe-
mupukan mempunyai days larut lebih besar dari pada tanpa
pemupukan
3
'
4
. Selanjutnya Halatoe (1974) menunjukkan
adanya efek diuretik infus Strobilanthus crispus pada kelinci
s
,
demikian juga dengan Van Steenis --Kruseman
6
.
Percobaan ini ingin melihat pengaruh infus daun Keji beling
(Strobilanthus sp.) secara in vivo terhadap batu kandung
kemih buatan pada tikus putih.
Disajikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional II Fitoterapi dan Fito -
farmasi di Bandung, tanggal 16 -- 18 Desember 1985..
BAHAN DAN CARA
Bahan
Bahan percobaan berupa serbuk daun Keji beling (Stro-
bilanthus sp.), famili Acanthaceae yang diperoleh dari pabrik
obat PT. Dupa Jakarta. Dari serbuk ini dibuat infus dengan
kadar masing-masing ekivalen dengan 1 x dan 10 x dosis lazim
orang. Infus ini yang selanjutnya dipakai sebagai bahan per-
cobaan.
Hewan percobaan: tikus putih berasal dari Unit Diponeoro
Pusltbang Gizi, Badan Litbangkes. DepKes. RI. di Jakarta,
berat sekitar 175 -- 200 gram. Jenis kelamin jantan.
Cara
Sejumlah tikus putih, jantan, berat sekitar 175 -- 200 g,
dibuat menjadi tikus dengan batu kandung kemih buatan
dengan jalan meletakkan benang sutera operasi seberat 0,58
mg ke dalam kandung kemih. Ini dilakukan dengan cara
operasi dan pembiusan memakai eter. Benang sutera ini ber-
fungsi sebagai
"
inti" untuk terjadinya batu kandung kemih
7
.
Ada 2 macam percobaan yang telah dilakukan.
Pertama
Dua minggu setelah inti diletakkan di dalam kandung ke-
mih, tikus percobaan dibagi menjadi 4 kelompok.
Kelompok I : diberi bahan percobaan, ekivalen dengan
dosis 1 x dosis lazim orang.
Kelompok II : s.d.a. 10 x dosis lazim orang.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
18
Kelompok III : diberi akuades.
Kelompok IV : tidak diberi apa-apa.
Volume dosis untuk semua tikus adalah 1 ml/100 g bb.,
dan diberikan secara oral, selama 7 hari terus-menerus. Pada
hari ke-15 semua tikus dibunuh, batu dikeluarkan dari kandung
kemih, kemudian dikeringkan lalu ditimbang.
Kedua
Dua hari setelah inti diletakkan di dalam kandung kemih,
tikus percobaan dibagi menjadi 4 kelompok.
Kelompok I : diberi bahan percobaan, ekivalen dengan
dosis 1 x dosis lazim orang.
Kelompok II : s.d.a. 10 x dosis lazim orang.
Kelompok III : diberi akuades.
Kelompok IV : tidak diberi apa-apa.
Volume dosis untuk semua tikus adalah 1 ml/ 100 g bb.
dan diberikan secara orang, selama 7 hari terus-menerus.
Pada hari ke-8 semua tikus dibunuh, dikeluarkan batu kandung
kemihnya, kemudian dikeringkan lalu ditimbang.
HASIL
Hasil percobaan untuk melihat pengaruh infus daun Keji
beling (Strobilanthus sp.) terhadap batu kandung kemih
buatan pada tikus putih dapat dilihat di dalam Daftar I dan II
di bawah ini.
Daftar I. Pengaruh infus daun Keji beling (Strobilanthus sp.) terhadap
batu kandung kemih buatan umur 14 hari pada tikus putih.
No. Bahan
Dosis
% perubahan
berat batu
1.
Infus Keji baling
1 x dosis orang
1425
2. Infus
Keji
baling
10 x dosis orang
1600
3.
Akuades
1 ml/100 g bb.
27
4. T.a.a.
--
100
Keterangan: -- T.a.a. = tidak d i be r i apa-apa
-- % perubahan berat batu, dibandingkan dengan ke-
lompok yang tidak diberi apa-apa (dianggap 100%).
Daftar II. Pengaruh infus daun Keji beling (Strobilanthus sp.) terhadap
batu kandung kemih buatan umur 2 hari pada tikus putih.
No. Bahan
Dosis
% perubahan
berat batu
1.
Infus Keji baling
1 x dosis orang
52
2.
Infus Keji baling
10 x dosis orang
50
3. Akuades
1 ml/100 g b.b.
73
4. T.a.a.
--
100
Keterangan: -- T.a.a. = tidak d i be r i apa-apa
-- % perubahan berat batu, dibandingkan dengan ke-
lompok yang tidak diberi apa-apa (dianggap 100%).
PEMBAHASAN
Pembuatan batu kandung kemih buatan pada tikus dilaku-
kan dengan menempatkan benang sutera operasi sebagai inti
dan batu dapat terbentuk dalam waktu seminggu. Pada per-
cobaan pertama bahan percobaan diberikan 2 minggu setelah
penempatan inti, dimaksud untuk melihat apakah bahan per-
cobaan mempunyai pengaruh terhadap penghancuran batu.
Pada percobaan kedua, bahan percobaan diberikan 2 hari
setelah penempatan inti dimaksud untuk melihat apakah
bahan percobaan mempunyai pengaruh terhadap pencegahan
terbentuknya batu kandung kemih. Dalam hal ini diasumsikan
bahwa 2 hari setelah penempatan inti, belum terjadi pemben-
tukan batu kandung kemih.
Dari hasil percobaan Daftar I, terlihat bahwa apabila infus
Keji beling diberikan setelah 2 minggu penempatan benang
sutera, tidak menunjukkan adanya pengurangan berat batu,
bahkan ada peningkatan berat (apabila dibandingkan dengan
kelompok yang tidak diberi apa-apa). Jadi dapat disimpulkan
bahwa infus bahan percobaan tidak dapat menghancurkan
batu buatan yang sudah terbentuk secara in vivo pada tikus
sampai dosis 10 x dosis lazim orang.
Dalam Daftar II terlihat bahwa bila dibandingkan dengan
kelompok yang tidak diberi apa-apa, ternyata 2 hari setelah
penempatan benang sutera, infus daun Keji beling baik pada
dosis 1 x maupun 10 x dosis lazim orang, mempunyai daya
menghambat pembentukan batu kandung kemih buatan tikus,
karena tidak terlihat adanya penambahan berat batu. Daya
menghambat ini kurang lebih 52% untuk dosis 1 x dosis orang
dan 50% untuk dosis 10 x dosis orang.
Sebagaimana diketahui kadar kalium dan natrium dalam
Strobilanthus crispus cukup besar, mungkin ini yang me-
nyebabkan tanaman tersebut bersifat sebagai diuretik. Karena
memperlancar
,
pengeluaran urin, kemungkinan ini yang me-
nyebabkan pembentukan batu kandung kemih dihambat,
bahkan mungkin sempat mengeluarkan batu. Sedangkan
apabila batu sudah terbentuk daya diuretik kelihatannya
tidak mengurangi pertambahan besar batu kandung kemih
atau tidak mengurangi batu yang sudah ada; bahkan ada
kesan pembentukan batu lebih intensif. Mekanisme terjadinya
hal-hal ini belum dapat dikemukakan.
KESIMPULAN
Infus daun Keji beling (Strobilanthus sp.) berindikasi
menghambat pembentukan batu kandung kemih pada dosis
1 x dan 10 x dosis lazim orang, diberikan per oral selama
7 hari terus menerus.
KEPUSTAKAAN
1.
Sudarman M, Harsono R. Cabe puyang warisan nenek moyang,
PT. Karya Wreda, cetakan IL. 1968.
2.
Heyne K. De nuttige planten van Nederlandsch Indie. 1927.
3.
Kurnia E. et al. Penelitian daya larut infus species-species Sonchus
dan empat jenis tumbuhan Keji beling terhadap beberapa batu
kalsium. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat, 1975.
hal. 169--75.
4.
Kurnia E. et al. Penelitian beberapa data farmakognostik dan daya
melarutkan infus daun Strobilanthus crispus BL. Hasil percobaan
kultivasi terhadap beberapa beta kalsium. Risalah Simposium
Penelitian Tumbuhan Obat I, 1975. hal. 176--90.
5.
Halatoe ER. Perbandingan khasiat diuretik dart Phyllanthus niruri,
Strobilanthus crispus dan Sonchus arvensis pada kelinci. Skripsi
sarjana farmasi Unair. 1974.
6.
Van Steenis -- Kruseman. Select Indonesian medicinal plants;
Bulletin no. 18, 1953. Organization for Scientific Research in
Indonesia, hal. 10--11.
7.
Liao CS. Pharmacological studies of Herbal Medicine in Taiwan;
Workshop I, Mode of action drugs used in East--Asian medicine,
Tokyo, Japan, 1981. hal. 11.
Ucapan terima kasih: Ditujukan kepada PT. Dupa yang telah menye-
diakan bahan percobaan berupa serbuk daun Strobilanthus sp.