Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
14
Efek Infus Borreria hispida Schum
terhadap Batu Kandung Kemih Buatan
pada Tikus Putih (Rat)
Yun Astuti, B. Wahjoedi, Lucie Widowati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Gempur batu (Borreria hispida SCHUM) secara empiris digunakan untuk meng-
hancurkan batu kandung kemih.
Untuk mengetahui apakah infus Gempur batu dapat menghancurkan batu kan-
dung kemih,telah dilakukan penelitian untuk melihat efek infus Gempur batu sebagai
penghancur batu kandung kemih buatan pada tikus putih strain L.M.R.
Batu kandung kemih buatan diperoleh dengan cara meletakkan benang sutera
untuk operasi ke dalam kandung kemih percobaan (Cara Liao,1981). Setelah benang
sutera berada dalam kandung kemih tikus selama 15 hari, bahan percobaan diberikan
selama 7 hari terus menerus secara oral. Dosis percobaan ada 3 macam yaitu masing-
masing ekivalen dengan 1%; 10% dan 50%.
Dari hasil percobaan ternyata infus dari tanaman Gempur batu (Borreria hispida
SCHUM) mempunyai efek menghancurkan batu kandung kemih buatan apabila di-
bandingkan dengan kontrol. Semakin besar dosis makin besar pula efeknya. Oleh
karena sifat diuretik tidak terlihat maka mungkin hancurnya batu bukan karena
diuresis.
PENDAHULUAN
WHO dalam salah satu seminarnya menganjurkan untuk
mengadakan penelitian khasiat dari tanaman obat yang di-
gunakan untuk mengobati penyakit yang sampai sekarang
belum dapat diobati dengan sistem pengobatan modern, ter-
masuk di dalamnya penyakit kencing batu
2
.
Di Indonsia banyak tanaman atau bagian dari tanaman
yang dinyatakan dapat mengobati penyakit kencing batu se-
cara empiris
3
'
4
'
8
. Salah satu tanaman dikatakan berkhasiat
sebagai penghancur batu kandung kemih adalah Gempur batu
(Borreria hispida SCHUM)
3
'
4
'
8
. Tanaman Gempur batu daun
dan batangnya mempunyai kandungan kalium yang cukup
tinggi
4
. Pada umumnya tanaman yang mempunyai kandung-
an kalium mempunyai efek sebagai penghancur batu kandung
kemih secara in vitro
6, 7
.
Untuk membuktikan kebenarannya secara ilmiah maka
dilakukan penelitian untuk mengetahui efek sebagai peng-
hancur batu kandung kemih pada tikus percobaan dari tanam-
an Borreria hispida SCHUM. Penelitian ini dilakukan secara
Dibacakan pada Kongres Biologi Nasional III, Oktober 1987 di Purwo-
kerto
in vivo untuk melihat pengaruh infus tanaman Borreria hispida
SCHUM terhadap pembentukan batu kandung kemih buatan
pada tikus. Hasilnya diharapkan memberi indikasi yang me-
nunjang penggunaan bahan di atas pada pemakaian obat
tradisional.
BAHAN DAN CARA
Bahan
Tanaman Gempur batu (Borreria hispida SCHUM), familia
Rubiaceae diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat
Puslitbang Farmasi Badan Litbangkes. Dep.Kes. R.I. Bahan
percobaan dikeringkan dalam oven pada suhu tidak lebih
dari 50°C sampai mendapatkan berat konstan. Setelah kering
bahan diserbuk dan diayak dengan menggunakan ayakan
mesh 48. Dari bahan serbuk ini dibuat infus sesuai dengan
petunjuk pada Farmakope ed. III. Infus ini yang selanjutnya
dipakai sebagai bahan percobaan.
Hewan percobaan menggunakan tikus putih strain LMR
dari Puslitbang Gizi Badan Litbangkes Dep.Kes. RI. Jakarta,
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 15
dengan berat rata-rata 200 gram dan jenis kelamin jantan.
Cara
Sebelum dilakukan percobaan, 30 ekor tikus diadaptasi-
kan pada lingkungan percobaan. Kemudian dilakukan operasi
terbuka untuk meletakkan benang sutera operasi panjang
1 cm dari Silicone Treated steril ukuran 3--0, merk. Davis
Geck, ke dalam kandung kemih
s
. Selanjutnya 15 hari setelah
penempatan benang sutera ke dalam kandung kemih, 30
ekor tikus percobaan ini dibagi menjadi 5 kelompok, masing-
masing 6 ekor tikus.
Sebelum diberi bahan percobaan semua tikus diukur
jumlah urinnya.
Kelompok I : diberi bahan percobaan dengan dosis 1%
setara dengan 10 mg/100 gram bb. tikus.
Kelompok II
: s.d.a. dengan dosis 40% setara dengan
100 mg/ 100 gram bb. tikus.
Kelompok III : s.d.a. dengan dosis 50% setara dengan
500 mg/100 gram bb. tikus.
Kelompok IV : sebagai kontrol diberi aquades 1 ml/100
gram bb. tikus
Kelompok V : tidak diberi apa-apa.
Bahan percobaan dan aquades diberikan secara oral selama
7 hari terus menerus dengan volume dosis sama untuk semua
tikus yaitu 1 ml/100 gram bb. tikus. Pada hari ke-22 yaitu
sebelum dibunuh semua tikus diukur lagi jumlah pengeluaran
urinnya.
Pada hari ke-23 semua tikus dimatikan dengan eter, di-
amati kandung kemihnya, batu diambil dari kandung kemih-
nya lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 40°C sampai
mendapatkan berat yang konstan.
HASIL
Dari hasil penelitian ternyata infus tanaman Borreria
hispida SCHUM mempunyai efek menghancurkan batu kan-
dung kemih buatan pada tikus putih dengan persentase se-
perti yang terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Berat batu kemih yang tertinggal setelah pemberian infus
tanaman Borreria hispida SCHUM pada tikus putih.
No.
Bahan
Dosis
Berat batu yang ter-
tinggal (%)
1. Infus
Borreria hispida
SCHUM
1 %
80,3
2.
Innis Borreria hispida
SCHUM
10 %
51,45
3.
Infus Borreria hispida
SCHUM
50 %
38,2
4. Akuades
1 ml/
84,13
100g
bb.
5. Kontrol
--
100
Keterangan: % perubaha berat batu yang tertinggal = membanding-
kan kelompok lain apabila kelompok yang tidak diberi
apa-apa dianggap 100%.
Dari hasil pengumpulan urin, ternyata jumlah urin rata-
rata sebelum dan sesudah pemberian infus tanaman Borreria
hispida SCHUM tidak menunjukkan perbedaan bermakna.
Tabel 2. Jumlah urin rata rata sebelum dan sesudah pemberian infus
tanaman Borreria hispida SCHUM.
Kelompok
Bahan dan Dosis
Jumlah urin
rata-rata se-
belum diberi
bahan (ml)
Jumlah urin
rata-rata sesu-
dah diberi
bahan (ml)
I
Infus Borreria hispida
SCHUM Dosis 1%
2,1 2,95
II
InfusBorreria hispida
SCHUM Dosis 10%
2,4 1,9
III
Infus Borreria hispida
SCHUM Dosis 50%
2,3
2,25
IV
Akuades 1 ml/100 g
3,01
3,1
V
bb.
Kontrol
2,25 2,7
Keterangan:
--
Volume dosis untuk semua tikus adalah 1 ml/100 gram bb.
--
Jumlah tikus setiap kelompok 6 ekor.
PEMBAHASAN
Pembuatan batu kandung kemih buatan pada tikus dilaku-
kan dengan menempatkan benang sutera operasi sebagai
inti dan batu dapat terbentuk dalam waktu satu minggu
s
.
Bahan percobaan diberikan 15 hari sesudah penempatan
inti, hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah infus tanam-
an Borreria hispida SCHUM mempunyai pengaruh terhadap
penghancuran batu. Percobaan secara in vivo dengan meng-
gunakan bahan berupa infus dan diberikan secara oral, karena
cara ini yang paling mendekati pemakaian empiris yaitu berupa
rebusan dari tanaman.
Dari hasil penelitian pada Tabel 1, ternyata 15 hari setelah
penempatan inti, infus Borreria hispida SCHUM pada dosis
1%; 10%; 50% mempunyai daya menghancurkan batu kandung
kemih buatan pada tikus apabila dibandingkan dengan ke-
lompok tikus yang tidak diberi apa-apa. Apabila prosentase
berat batu yang tertinggal pada kelompok tikus yang tidak
diberi apa-apa dianggap 100%, maka daya menghancurkan
pada dosis 1% adalah 80,3%; dosis 10% adalah 51,45% dan
pada dosis 50% adalah 38,20%.
Di sini juga terlihat adanya hubungan dosis -- efek yaitu
semakin besar dosis yang diberikan semakin besar daya meng-
hancurkan batu kandung kemih buatan pada tikus percobaan.
Hubungan dosis -- efek merupakan salah satu syarat apabila
bahan tersebut digunakan sebagai obat.
Tanaman Borreria hispida SCHUM mempunyai kandung-
an kalium yang cukup tinggi, yang dapat menyebabkan
diuresis
10
. Tetapi pada Tabel 2, terlihat meskipun kadar
kalium tanaman Borreria hispida SCHUM tinggi, ternyata
tidak mempunyai efek diuretik pada tikus percobaan. Dari
Tabel 2 juga terlihat bahwa sebelum dan sesudah diberi bahan
percobaan tidak terlihat perbedaan jumlah urin. Hal ini tidak
sesuai dengan teori keseimbangan cairan. Sehingga berkurang-
nya berat batu dalam kandung kemih bukan karena sifat
diuretik dari infus Borreria hispida SCHUM, tetapi mungkin
disebabkan adanya faktor lain yang belum dapat diketahui
mekanismenya, misalnya karena kepekatan urin berubah atau
adanya perubahan pH yang disebabkan oleh pemberian infus
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
16
dari tanaman Borreria hispida SCHUM atau oleh sebab lain.
Untuk membuktikan kebenaran beberapa dugaan tersebut
perlu dilanjutkan dengan penelitian lain.
KESIMPULAN
Infus tanaman Borreria hispida SCHUM mempunyai efek
menghancurkan batu kandung kemih buatan pada tikus putih.
Semakin besar dosis infus tanaman Borreria hispida SCHUM
semakin besar pula efeknya.
Infus tanaman Borreria hispida SCHUM tidak memperlihat-
kan efek sebagai diuretik pada tikus putih.
SARAN
Karena penelitian ini dalam, bentuk infus, belum dapat
diketahui zat apa yang berkhasiat sebagai penghancur batu
kandung kemih buatan pada tikus putih.
Untuk mengetahui zat tersebut sebaiknya diadakan pe-
nelitian secara kimiawi, untuk mengetahui komponen-
komponen mana yang infus tanaman Borreria hispida SCHUM
yang berkhasiat sebagai penghancur batu kandung kemih.
KEPUSTAKAAN
1.
Sambutan Men Kes. RI pada Pembukaan Simposium & Expo
Farma Obat Tradisional Indonesia, Bandung 29 Januari 1984.
Dalam buku: Himpunan Sambutan Men Kes. dan Dirjen POM
dalam bidang Obat Tradisional, DirJen. POM 1984.
2.
WHO report on a regional meeting (SEARO): The Development
of research protocols on priority areas in traditional medicine,
1981.
3.
Kloppenburg -- Versteegh, J. : Indische planten en haargenees-
kracht, edisi ulangan, 1975.
4.
Mardisiswojo S, Radjakmangunsudarso H. Cabe puyang warisan
nenek moyang, Karya Wreda, Jakarta 1975. Hal : 81.
5.
Liao CS. et al. Pharmacological studies of herbal medicine in
Taiwan. Eighth International Congress of Pharmacology, Tokyo
1981. Hal: 11.
6.
Kurnia E et al. Penelitian daya larut infus daun species-species
Sonchus dan empat jenis tumbuhan Keji Beling terhadap beberapa
batu kalsium. Proc Simposium Penelitian Tanaman Obat I. Institut
Pertanian Bogor. Bogor 1975. Hal : 169--175.
7.
Kurnia E et al. : Penelitian beberapa data farmakognostik dan
daya melarutkan infus daun Strobilanthus crispus BL hasil per-
cobaan kultivasi terhadap beberapa batu kalsium. Proc Simposium
Penelitian Tanaman Obat I. Institut Pertanian Bogor. Bogor 1975.
Hal : 176--190.
8.
Burkill IH. A dictionary of the economic product of the Malay
Peninsula. London 1935. Hal : 356-8.
9.
Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia ed. III. Jakarta
1979. Hal : 12.
10.
Sulistia Gan dkk. Farmakologi dan Terapi ed. II. Bagian Farma-
kologi FKUI. Jakarta 1980. Hal : 273--87
.