background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 11
Pemeriksaan
Toksisitas Akut, Gelagat dan Sifat Diuretik
Daun Mimba (Melia azadirachta L.)
Budi Nuratmi, B. Dzulkarnain, Pudjiastuti
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
ABSTRAK
Salah satu bentuk daun mindi (mimba) yang pernah ramai dipasarkan di Jakarta
setelah dideterminasi adalah Melia azadirachta L., Toksisitas akut, pengaruh terhadap
gelagat dan sifat diuretiknya ditentukan pada hewan percobaan.
LD
50
ekstrak air daun mindi adalah 24.010 mg/kg bb. pada tikus diberikan se-
cara oral. Pemeriksaan pengaruh terhadap gelagat, yang ditentukan pada mencit, me-
nunjukkan bahwa kemungkinan ada sifat merangsang susunan saraf pusat. Bahan
mempunyai sifat diuretik yang ditentukan pada tikus, meskipun tidak sekuat hidro-
klorotiazida. Disarankan menentukan sifat diuretik dengan dosis yang lebih besar.
PENDAHULUAN
Beberapa waktu yang lalu masyarakat, khususnya di Jakarta,
dihebohkan oleh adanya daun mindi (mimba) yang dikatakan
berkhasiat bagi segala jenis penyakit. Untuk mendapatkan pe-
tunjuk tentang khasiatnya, dilakukan beberapa percobaan.
Pada tahap pertama bahan dideterminasi oleh Herbarium
Bogoriense dan hasilnya adalah bahwa yang dipasarkan mem-
punyai nama Latin Melia azadirachta L. atau Azadirachta
indica Juss.
Secara empirik bahan ini digunakan sebagai obat demam,
anti malaria, eksema, obat cacing
1,3,6
. Sifat astringen, insek-
tisida, dan sifat stimulan telah pernah ditentukan
2
. Di samping
itu air rebusan bahan dapat menurunkan kadar SGOT tikus
pada dosis tinggi
s
. Disebut pula bahwa tanaman ini me-
ngandung nimbidin dan natrium nimbidinat yang terhadap
katak dapat menghambat dan akhirnya menghentikan denyut
jantung
8
.
Untuk melengkapi informasi maka pada penelitian ini di
tentukan: 1) toksisitas akut pada mencit, 2) pengaruh ter-
hadap gelagat mencit, dan 3) daya diuretiknya pada tikus putih.
BAHAN DAN CARA
Bahan
Bahan diperoleh dari Jakarta dan dideterminasi di Her-
barium Bogoriense (LBN LIPI). Untuk penentuan LD
50
dan
percobaan terhadap gelagat digunakan mencit dengan berat
Disajikan pada Kongres Nasional ISFI XII di Yogyakarta, 10 --13
Nopember 1986.
20 -- 25 gram dengan jenis kelamin betina dan jantan dari
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Litbang Kesehatan,
DepKes. Untuk percobaan diuretic digunakan tikus yang
diperoleh dari Puslitbang Gizi Jakarta, dengan berat antara
160 dan 220 gram.
Pengolahan bahan
Tujuh puluh gram daun segar diolah seperti yang dilakukan
untuk pengobatan. Bahan di atas direbus dengan air hingga
700 ml, dan diuapkan pada suhu antara 60° dan 63°C hingga
menjadi ekstrak kering dengan bobot 7,49 gram. Dosis lazim
ekstrak kering pada tikus secara oral adalah 0,223 mg/100 g
bb. Ini diperoleh dengan memperhitungkan 1 kali dosis ma-
nusia yaitu 7 helai daun segar (kira-kira 1 gram) direbus dalam 2
gelas air sampai tinggal 1 gelas dan diminum 3 kali sehari.
Percobaan toksisitas
Percobaan toksisitas akut dilakukan menurut cara Weil
10
menggunakan mencit betina dengan cara pemberian bahan
secara intraperitoneal.
Percobaan terhadap gelagat
Percobaan untuk melihat pengaruh terhadap gelagat dilaku-
kan dengan cara Campbell dan Richter
9
, menggunakan mencit
jantan dan betina dengan pemberian bahan secara intraperi-
toneal.
Percobaan diuretik
Percobaan diuretik dilakukan dengan cara Taylor dan Top-
liss
7
. Untuk itu tikus dibagi dalam 5 kelompok @ 3 ekor tikus.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
12
Tikus selama percobaan dimasukkan ke dalam kandang meta-
bolik.
Kelompok 1 diberi air 1 mg/100 gram bb.
Kelompok 2 diberikan larutan HCT 0,16 mg/100 gram bb.
Kelompok 3 diberikan ekstrak 0,223 mg/100 gram bb.
(1 kali dosis manusia)
Kelompok 4 diberikan ekstrak 2,23 mg/100 gram bb.
(10 kali dosis manusia)
Kelompok 5 diberikan ekstrak 22,3 mg/100 gram bb.
(100 kali dosis manusia)
Setelah 4 jam volume urine diukur.
HASIL
Percobaan toksisitas akut
LD
50
daun mimba adalah 3,43 (2,29 -- 3,95) mg/10 gram
bb. pada mencit secara intraperitoneal. Setelah diekstrapolasi
dengan cara Paget dan Barnes" untuk tikus dengan pemberi-
an bahan peroral diperoleh LD
50
= 24.010 mg/kg bb. Ini masih
lebih besar dari batas 15.000 mg/kg bb. per oral pada tikus
seperti yang ditentukan Gleason
11
, dan berarti bahwa daun
mimba termasuk bahan yang Practically Non Toxic.
Percobaan pengaruh terhadap gelagat
Pada percobaan terlihat adanya piloereksi dan reaksi
Straub yang memberi petunjuk bahwa ada rangsangan ter-
hadap susunan saraf pusat (khususnya sumsum tulang be-
lakang) atau pembebasan adrenalin. Penurunan suhu menanda-
kan adanya depresi pada susunan saraf, khususnya tempat
pengaturan suhu. (Tabel I dan Tabel II).
Percobaan pengaruh terhadap pengeluaran urine
Pengeluaran urine akibat daun mimba lebih besar dari
pada pengaruh pemberian akuades, dan melihat rata-rata
pengeluaran urine pada tiap dosis maka ada hubungan dosis
dan efek. Dengan demikian daun mimba mempunyai efek
diuretik. Sedangkan pengaruh clan dosis terbesar pada per-
cobaan ini belum sebesar pengaruh HCT. (Tabel III).
Tabel 1. Pengaruh daun mimba terhadap gejala berkaitan
dengan saraf
otonom.
Besar dosis dalam mg/10 gram bb.
pada
Mencit jantan
Mencit betina
Gejala
1 3 9 1 3 9
piloereksi +
+
+ -- +
+
salivasi --
--
-- -- --
--
lakrimasi --
--
-- -- --
--
Keterangan:
+ = ada pengaruh, -- = tidak ada pengaruh.
Piloereksi sudah terjadi pada dosis sepertiga kali LD50.
PEMBAHASAN
Angka LD
50
yang diperoleh, dibandingkan dengan batasan
Gleason (1969) sudah rnelewati batas tetapi tidak begitu jauh.
Bahan masih dianggap sebagai bahan yang Practically Non
Toxic, namun karena tidak berbeda besar dengan batasan
Gleason (1969) sebaiknya waspada.
Pada gelagat dilihat adanya piloereksi pada dosis 1, 3 dan
Tabel 2. Pengaruh daun mimba terhadap gejala berkaitan dengan
susunan saraf pusat.
Besar dosis dalam mg/10 gram bb.
pada
Mencit jantan
Mencit betina
Gejala
1 3 9 1 3 9
Ptosis --
--
-- --
--
--
Straub +
+
+
+
+
+
Ataksia --
--
--
--
--
--
Righting reflex
--
--
--
--
--
--
Perasaan nyeri
--
--
--
--
--
--
Suhu
-- -- -- -- -- --
Pernafasan --
--
--
--
--
--
Keterangan:
+ = ada pengaruh, -- = tak ada pengaruh.
Tabel 3. Pengaruh daun mimba terhadap pengeluaran urine.
Bahan
Dosis dalam
(mg/100 gram bb)
Jumlah urine rata-rata
(ml.)
Ekstrak daun mimba
0,223
1,8
Ekstrak daun mimba
2,23
1,9
Ekstrak daun mimba
22,3
2,6
Hidroklorotiazid 0,16 4,6
Akuades
1 ml
1,4
9 mg/10 gram bb. mencit kecuali mencit betina yang me-
nerima 1 mg/10 gram bb. Midriasis terlihat pada semua mencit
yang menerima bahan, mulai dari yang enerima 1 mg/ 10
gram bb. Piloereksi berkaitan dengan pembebasan atau adanya
adrenergik, atau rangsangan terhadap susunan saraf pusat.
Gejala Straub terlihat pada semua mencit yang menerima
bahan dan ini mungkin berkaitan dengan adanya piloereksi
dan midriasis, yang mungkin terjadi karena adanya pelepasan
adrenalin. Penurunan suhu menandakan depresi pada hipota-
lamus sebagai pusat pengatur suhu. Jadi seolah ada rangsangan
pada susunan saraf pusat sekaligus depresi khususnya sumsum
tulang belakang. Gejala inipun dapat terjadi karena jumlah
bahan yang diberikan mencapai dosis toksik.
Daya diuretik sudah terlihat pada dosis 1 kali dosis manusia.
Sedangkan melihat rata-rata pengeluaran urine terlihat adanya
hubungan dosis dan efek, yang berarti bahwa pengeluaran
urine disebabkan karena bahan yang diberikan. Pada dosis
terbesar pada percobaan ini volume urine belum sama dengan
pengaruh HCT. Berkaitan dengan dosis, mungkin perlu pem-
besaran dosis pada percobaan selanjutnya, dengan risiko ke-
tidakwajaran pada pemberian pada manusia. Sifat diuretik
mungkin disebabkan oleh Na nimbidin yang menurut Batia
2
mempunyai sifat diuretik.
KESIMPULAN
Daun mimba termasuk bahan yang practically non toxic
tetapi karena LD
50
masih dekat dengan batas yang telah di-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 13
tentukan Gleason maka perlu waspada.
Daun mimba berdaya diuretik. Untuk menegaskan ini perlu
percobaan dengan dosis yang lebih besar.
KEPUSTAKAAN
1.
Sofowora A. Chichester. Medicinal plants and traditional medicine
in Africa:. New York, Brisbane, Toronto, Singapore: John Wiley &
Sons. 1982 : p. 72--3 dan 177--9.
2.
Gopalan C. Medicinal plants of India. Vol. I, 1970 : 112--6.
3.
Dastur JF. Medicinal plant s of India and Pakistan, 3rd ed .Bombay
I: Taraporevala Sons & Co. Private Ltd. 1970 : 29-30.
4.
N Mustofa. Experimental design. Medan, Sumatera 1965.
5.
Efrianis. Pengaruh daun Melia azadirachta L. terhadap kadar
SGOT dan jumlah eritrosit dan lekosit serta kadar hemoglobin
pada tikus putih.. Skripsi sarjana Farmasi F MIPA Universitas
Andalas Padang 1986.
6.
Perry LM. Medicinal plants of East and South East Asia. Cam-
bridge, Massachusetts, London. The MIT Press 1928 : 260--1.
7.
Turner RA. Screening Methods in Pharmacology. New York and
London. Academic Press : 1965 : 16.
8.
Watt MJ Medicinal and Poisonous Plants in Eastern Africa. 2nd.
ed. Edinburgh, London, E&S Livingstone Ltd. 1962 : 745-6.
9.
Campbell, RIchter; dalam Domer: Animal Experiments in Phar-
macological analysis. Charles & Thompson, Springfield. 1971.
10.
Weil CS. Tables for convenient calculation of Median effective
dose (LDSO and ED50) and its instruction in their use. Biometrics.
1971, 8 : 249--63.
11.
Gleason MN. Clinical Toxicology of Commercial Products. William
& Wilkins Co, Baltimore: 3--4.
12.
Sulistia Gan, dkk. Farmakologi dan Terapi, ediai II, Bagian Farma-
kologi, FKUI Jakarta, 1980.
13.
Paget GE, Barnes JM. dalam: Laurence DR. & Bacharach AL.
Evaluation of drug activities: Pharmacometrics. Vol. I 1964.
Academic Press. London, New York : 161--2.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih ditujukan kepada Herbarium Bogorienses (LBN,
LIPI Bogor) yang telah membantu determinasi bahan daun mimba.
Terima kasih juga ditujukan kepada Pusat Penelitian Penyakit Menular
karena
.
telah membantu menyediakan mencit dan tikus untuk per-
cobaan.