Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 3
Artikel
Potensi Obat Tradisional
dalam Pelayanan Kesehatan
B. Dzulkarnain
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam GBHN tercantum salah satu amanat yang berat,
ialah: Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan secara
lebih luas dan merata sekaligus memelihara dan mengembang-
kan warisan budaya bangsa, perlu terus dilakukan penggalian,
penelitian, dan pengembangan obat-obat serta pengobatan
tradisional. Di samping itu perlu terus didorong langkah-
langkah mengembangkan budidaya tanaman obat-obatan
tradisional yang secara media dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk dapat ikut meningkatkan pelayanan kesehatan dan
meningkatkan pemerataan obat-obatan tradisional maka perlu
dijelaskan manfaat dari obat-obatan tradisional. Informasi
tentang manfaat obat-obatan tradisional ini perlu digali, di-
kumpulkan dan dikaji.
INFORMASI YANG DIPERLUKAN
Informasi apa yang diperlukan suatu zat sebelum diguna-
kan sebagai obat? Suatu zat merupakan obat bila dalam pe-
ngobatan atau eksperimen sudah diperoleh keterangan, di
antaranya tentang:
1)
hubungan dosis dan efek (dose effect relationship),
selain dari hanya diketahui adanya suatu efek,
2)
absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi zat tersebut,
3)
tempat zat tersebut bekerja (site of action),
4)
cara bekerja zat (mechanism of action), dan
5)
hubungan struktur dan respon (structure response
relationship).
Keterangan tentang lima hal di atas diperlukan dan di-
evaluasi dalam menilai suatu· obat modern sesuai Domer' .
Penisilin umpamanya sudah diketahui bahwa besar respon-
nya berkaitan erat dengan besar dosis, ia diketahui kapan
mencapai kadar efektif dalam darah manusia serta apa nasib-
nya dalam tubuh manusia dan dalam bentuk apa sisa penisilin
diekskresi. Diketahui pula pada bagian apa dari kuman peni-
silin bekerja, serta bagaimana bekerjanya, dan diketahui pula
hubungan kerja dengan struktur molekul penisilin.
Informasi seperti ini dipunyai semua obat modern yang
dipasarkan. Kurangnya informasi ini menyebabkan sesuatu
zat tak dapat diedarkan sebagai obat.
CARA MEMPEROLEH INFORMASI
Untuk memperoleh informasi seperti di atas, diperlukan
penelitian, dana, tenaga dan waktu yang sangat banyak.
Diperkirakan mulai dari ditemukannya, dibutuhkan sekitar
25 tahun, sebelum suatu zat dibolehkan beredar sebagai obat.
Penelitian berkenaan dengan hal di atas dimulai dari penapisan
tahap pertama, yaitu:
a)
penentuan toksisitas dan pengaruh terhadap gelagat
(behaviour),
b)
pengaruh zat terhadap tekanan darah dan semua percobaan
yang ada kaitan dengan tekanan darah dan diikuti dengan
c)
pengaruh zat terhadap organ-organ terisolasi, yang ke-
mudian diikuti dengan ratusan percobaan untuk melengkapi
informasi yang diperlukan. Tiga jenis penapisan ini banyak
memberikan arah penelitian dan sifat bahan yang diteliti,
mulai dari pengaruh terhadap Susunan Saraf Pusat (SSP),
Susunan Saraf Otonom (SSO), respirasi, relaksan otot dan
sbagainya.
Obat-obat modern dapat dikembangkan dari hasil temuan
dalam laboratorium atau dari sumber alam. Adanya obat-
obat modern adalah berkat ditemukannya bahan-bahan yang
berkhasiat dalam alam.
'
Sebagai contoh dapat disebut penisilin
yang ditemukan oleh Fleming dari jamur, dan sekarang banyak
bahan sintetik yang mirip dengan penisilin. Demikian pula
dengan primakuin, klorokuin, sulfas atropin dan tanaman
digitalis yang mengandung digoksin.
Dapatkah obat-obat tradisional dikembangkan dan di-
manfaatkan dengan cepat melalui langkah-langkah di atas?
Beberapa hal perlu dikemukakan dahulu sebelum penanyaan
tersebut di jawab.
1) Obat-obat tradisional merupakan bahan atau zat yang telah
digunakan sebagai obat oleh leluhur kita,
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
4
2)
Bahan komponen obat tersebut merupakan bahan yang
diperoleh langsung dari alam seperti daun atau kulit kayu dari
berbagai jenis tanaman.
3)
Obat tradisional seolah-olah telah diseleksi secara alamiah
tentang toksisitasnya. Para dukun dikatakan tak pandai atau
mungkin disingkirkan oleh masyarakat, bila ada yang mati
atau lebih menderita karena diobati olehnya.
4)
Telah dirasakan kegunaannya oleh masyarakat, karena bila
tidak bermanfaat tentu sudah lama tidak dgunakan. Sampai
taraf ini obat tradisional telah mengalami percobaan alamiah
(trial and error)
pada manusia.
5)
Dalam pengobatan diri sendiri, penggunaan obat tradisi-
onal tidak berkurang, seperti tercermin dalam Survai Kesehat-
an Rumah Tangga tahun 1980 dan l985.
3,4
Maka timbul pertanyaan apakah pengembangan dan pe-
manfaatan obat tradisional dengan sifat-sifat di atas mutlak
harus didahului penelitian mengikuti langkah-langkah yang
disebut di atas. Informasi yang sementara ini sudah dapat di-
peroleh dalam penelitian di dalam negeri kali ini dititikberat-
kan pada konsep dosis dan respon.
PENELITIAN BERKAITAN DENGAN INFORMASI HU-
BUNGAN DOSIS DAN RESPONS
Informasi yang diangkat merupakan hasil penelitian atau
pemeriksaan pakar di Indonesia. Dalam penelitian tidak di
titikberatkan dapat tidaknya pemeriksaan diulang (repro-
ducible). Karena seperti yang dikemukakan Domer
l
dua
percobaan yang sama tidak dapat menghasilkan informasi
yang persis sama. Ini disebabkan variasi biologis. Mungkin
secara kuantitatif tidak persis sama tetapi kualitatif sama,
hingga garis hubungan dosis dan efek sejajar. Oleh karena itu
kelompok kontrol selalu harus ada dalam tiap pemeriksaan.
Pengaruh bahan pada tekanan darah
1)
Djoyosoegito dkk.
5
membuktikan penurunan tekanan
darah kucing oleh ekstrak tanaman wijen hutan, dan melihat
pengurangan tahanan pembuluh darah perifer sebagai salah
satu sebab penurunan tekanan darah.
Penurunan
tahanan
pembuluh darah perifer dapat dilihat pada Daftar I.
Daftar I. Pengaruh bahan terhadap penurunan tahanan pembuluh
darah.
Dosis ekstrak
wijen hutan
Penurunan tahanan
pembuluh darah (%)
0,5 ml
1
ml
2
ml
39,89
41,2
42,5
Tidak ada perbedaan bermakna antara 0,5 dan 1 ml serta
antara 0,5 dan 2 ml. Namun melihat
%
penurunan mungkin
dengan pembesaran perbedaan dosis perbedaan efek akan ter-
lihat.
2)
Pengaruh dekok biji kecipir (semen
Psophocarpus
tetragonolobus
(L) DC.) terhadap tekanan darah kelinci
6
.
Penurunan tekanan darah akibat pemberian dekok (di-
nyatakan dalam
%).
NaCl 0,9% 8 ml/kg : 3,51 + 0,585
Dekok 60% 8 ml/kg : 28,6
+ 4,7667
Dekok 80% 8 ml/kg
: 26,70 + 4,45
Terlihat bahwa membesarkan dosis dekok membesarkan
penurunan tekanan darah. Perbedaan yang tidak besar mung-
kin disebabkan dosis sudah mencapai maksimum, hingga
perbesaran dosis tidak memberikan efek yang sebanding.
Juga tidak dijelaskan apakah kelinci menderita hipertensi.
Faal usus terisolasi
1)
Idayanti Hadinoto dkk.
7
memperlihatkan efek rangsang-
an dekok comfrey terhadap usus tikus terisolasi.
Daftar 11. Pengaruh bahan terhadap usus terisolasi.
Bahan
Kontraksi usus dalam cm pada dosis
Asetilkolin
10 mcg/ml
0,775+0,1089
100 mcg/ml
1,087+0,2588
1 mg/ml
1,4625 +0,243
KCI
50 mEq/l
0,225 +0,056
100 mEq/ml
0,6 +0,158
150 mEq/l
0,925 +0,90
dekok
comfrey
3 ml 10 %
0,275+0,056
3 ml 20 %
0,95 +0,206
Perhatikan hubungan dosis dan efek dekok comfrey dengan
pedoman hubungan dosis dan efek oleh asetilkolin dan KC1.
2)
Percobaan mekanisme kerja
antihistamin--like
8
.
Daftar III. Pengaruh bahan terhadap tonus usus terisolasi.
Bahan
Kenaikan tonus
dalam mm
10 mcg histamin
1 ml ekstrak A. calamus 10 % disusul
10 mcg histamin
3 ml ekstrak A. calamus 10 % disusul
10 mcg histamin
10 mcg histamin
15
12
10
16
A. calamus dapat mencegah kontraksi usus terisolasi dan
terlihat hubungan dosis dan efek.
Analgetik
-
antipiretik
1) Sari buah belimbing (Averrhoa carambola L.) telah di-
coba pengaruhnya terhadap rasa sakit mencit
9
untuk me-
nunjukkan daya analgetik sari buah belimbing pada mencit.
Hasil yang diperoleh adalah :
Daftar IV. Penurunan jumlah geliat rata-rata akibat
Perasan buah belimbing
Asetosal
5 ml/kg bb.
10 ml/kg bb.
20 ml/kg bb.
52 mg/kg bb.
67,6 71,3 74,3 75,3
Peneliti menemukan hasil efek analgetik yang bermakna
(0,01 < p < 0,025). Pada percobaan di atas terlihat adanya
hubungan dosis dan efek.
Anti tukak lambung
Pemeriksaan anti tukak daun jambu biji pada tikus
10
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 5
memperoleh hasil sebagai berikut :
Daftar V. Jumlah rata-rata ulkus pada tikus.
Kelompok
kontrol
Kelompok
aspirin
Kelompok aspirin
Infus daun jambu
10%
Kelompok aspirin
Infus daun jambu
20%
0,17+0,40 6,83+2,04 2,7
+ 1,3
2,33 + 0,83
Melihat hasil di atas tidak ada perbedaan nyata antara
kelompok infus jambu 10% dan 20%. Tetapi melihat angka
rata-rata, terlihat kecenderungan adanya hubungan efek dan
dosis. Tidak danya perbedaan nyata mungkin karena per-
bedaan dosis kurang besar, atau sudah mencapai kejenuhan
efek, untuk ini perlu diadakan percobaan lebih cermat.
Daya proteksi hati
Berpedoman pada besarnya waktu tidur maka dapat direka
derajat kerusakan hati atau perbaikan fungsi hati. Imono
Argo dkk
11
menguji air dari batang bambu untuk memperbaiki
fungsi hati. Terlihat pada pengujian waktu tidur kembali
memendek setelah pemberian cairan bambu. Sebelumnya hati
dirusak dengan pemberian karbon tetraklorida. Yang perlu
diperhatikan adalah hubungan dosis dan perpendekan waktu
tidur.
Daftar VI. Pengaruh perlakuan terhadap waktu tidur.
Waktu tidur dalam menit pada jam ke
Kelompok
48 72 96
120
I 158
+4,7 97,8
+ 5,2
65,6 + 3,6
32 + 3
II 151,8
+4
86,6 + 2,4
42,4 + 2,5
34 + 3,2
III 133,8
+5 43,2
+ 2,4
31 + 2,3
27,5 + 3,5
IV 128,2
+5 34
+ 4,7
28,7 + 2,9 26 + 4,1
Semua kelompok menerima CC1
4
. Kelompok II, III, IV ber-
turut-turut diberi cairan bambu 50%, 100%, 200% v/v. Bila
diperhatikan besarnya waktu tidur masing-masing kelompok
pada jam yang sama, terlihat adanya hubungan dosis dan efek.
Pengaruh terhadap uterus terisolasi
Pada percobaan dilihat sifat oksitosik infus dan ekstrak
comfrey (Symphytum officinale L.) pada uterus terisolasi
l2
.
Potensi sifat oksitosik dinyatakan dalam sentimeter simpangan
pencatat pada dua dosis dan oleh infus dan berbagai ekstrak.
Pada Daftar VII terlihat adanya pengaruh infus ataupun fraksi
Daftar VII. Pengaruh bahan terhadap uterus terisolasi.
simpangan dlm cm pada dosis
Bahan dicoba
0,5 ml
1 ml
Infus 20%
1,25 + 0,43
5,25 +0,83
Infus 30%
2,00 + 0,71
8,35 +0,83
Fraksi alkohol
11,25 + 1,62 13,00 +2,73
Fraksi kloroform
2,00 + 0,71
3,75 +1,48
Fraksi tak larut khl
16,50 + 0,86
18,75 +2,48
Fraksi tak larut PE
11,50 + 2,69
15,00 +1,058
Fraksi PE
4,25 + 1,09
3,5 +1,12
Keterangan: khl = kloroform
PE = petroleum eter
terhadap uterus terisolasi. Dengan perhitungan statistik tidak
terlihat perbedaan nyata antara 0,5 ml dan 1 ml. Tetapi pada
angka rata-rata terlihat ada kecenderungan adanya hubungan
dosis. dan efek. Perbedaan nyata mungkin dapat dilihat bila
perbedaan dosis diperbesar. Di sin terlihat adanya hubungan dosis
dan efek.
Bahan mirip testosteron
Pemberian infus krokot blanda (Talinum racemosum
Rohrb) merangsang pertumbuhan jengger anak ayam Leghorn
yang dicoba
13
, (Daftar VIII) :
Daftar VIII. Pengaruh bahan terhadap beat jengger.
Perlakuan
berat jengger (mg)/berat badan (gram)
Kontrol 27,18
24 mg/ekor/hari
28,11
72 mg/ekor/hari
29,63
240 mg/ekor/hari
40,19
metiltestosteron 87,98
Terlihat adanya hubungan dosis dan efek meskipun tidak
disajikan selang antara masing-masing respon.
Pengaruh terhadap pengeluaran urin dan batu kandung kemih
1)
Pemberian salah satu fraksi temulawak terhadap pe-
ngeluaran urin menunjukkan bahwa lebih besar dosis fraksi
yang dicoba, lebih besar volume urin dikeluarkan. Jadi ter-
lihat hubungan dosis dan efek
14
. (Daftar IX).
Daftar IX. Pengaruh bahan terhadap pengeluaran urin.
Doris (mg/200 gram bb)
Rata-rata volume urin ml (SD)
0,33 0,44
(0,67)
0,65 0,95
(0,47)
1,33 1,42
(0,5)
2,65
1,91 ( 0,18 )
5,3 2 , 5 7 ( 0 , 8 5 )
53
3 , 1 8 ( 0 , 3 7 )
530
3,51 (0,29 )
Hidroklorotiazid 4,441
(1,13)
2)
Efek infus gempur batu (Borreria hispida Schum) ter-
hadap batu kandung kemih buatan pada tikus putih.
l5
Daftar X. Pengaruh bahan terhadap sisa batu kandung kemih.
No tikus
dosis infus per 10 gram
batu yang tertinggal
(%)
1 10 80,3
2 100 51,45
3 500 38,2
4
akuades 84,13
5
tak diberikan sesuatu 100
Terlihat bahwa lebih besar dosis infus yang diberikan,
lebih besar hilangnya batu kandung kemih, karena lebih
kecil yang tertinggal dalam kandung kemih. Jadi di sini ter-
lihat juga adanya hubungan dosis dan efek.
Cermin Dunia Kedokteran No.58 1989
6
PENELITIAN BERKAITAN DENGAN DISTRIBUSI DAN
LAIN-LAIN TEMPAT KERJA, MEKANISME KERJA DAN
HUBUNGAN BENTUK DAN DAYA KERJA
Ke lima informasi tersebut harus ada dan tidak terpisahkan.
Untuk dapat menerangkan tentang hal-hal tersebut di atas,
perlu diketahui jenis zat berkhasiat sarnpai kepada bentuk
molekul dan metabolitnya
l
, karena tanpa ini tak dapat di-
telusuri ke mana obat pergi dan apa yang terjadi. dengan
pecahannya. Sampai sekarang belum banyak diketahui tentang
zat berkhasiat dalam obat-obat tradisional karena obat tradisi-
onal terdiri dari berbagai komponen yang masing-masing
mengandung berbagai zat.
Tetapi untuk dapat memanfaatkan obat-obat tradisional,
apakah masih diperlukan keterangan demikian rincinya?
Bahan yang diperiksa rnasih digunakan oleh masyarakat, jadi
tidak berbahaya secara akut, dan terbukti bermanfaat secara
keseluruhan (in toto). Yang perlu diperhatikan adalah peng-
gunaan secara terus menerus beberapa obat tradisional. Mung-
kin perlu diadakan penelitian akibat penggunaan menahun
obat-obat tradisional. Percobaan ini tidak disenangi karena
mahal dan memakan waktu.
PEMBICARAAN
Tidak semua penelitian khasiat dapat menunjukkan pe-
ngaruh terhadap kegiatan fisiologis organ yang digunakan
dalam eksperimen. Mungkin memang tidak ada pengaruhnya,
tetapi mungkin juga karena dosisnya kurang besar. Perlu
diperhatikan pula kewajaran dosis, sebab mungkin dosisnya
sudah toksik pada waktu percobaan dilakukan, sedangkan
gejala menguntungkan belum terlihat. Selain itu perlu di-
ketahui bahwa banyak percobaan yang mungkin belum ter-
rekam atau belum dilaporkan. Tetapi ada yang dapat di-
simpulkan dari sebagian kecil percobaan di atas.
Berdasarkan teori reseptor dan prinsip kunci-anak kunci
dapat dikatakan bahwa :
·
Ada bahan anak kunci (dari bahan diperiksa) yang cocok
dengan kunci yang menentukan respon. Mungkin dibutuhkan
berbagai jenis kunci dan anak kunci dengan hasil yang me-
rupakan suatu resultante kerja, tetapi respon dapat diamati.
·
Ada hubungan dosis dan efek; lebih banyak zat atau lebih
besar dosis, efeknya lebih besar. Ini pun. mengikuti hukum
masa dan reaksi kimia seperti yang dikemukakan dalam
Domer
l
.
·
Meskipun bahan merupakan campuran dari berbagai zat
yang mungkin sekali masing-masing mempunyai khasiat
yang tidak sama, di antaranya ada yang dapat mempengaruhi
reseptor.
Dengan demikian maka pengaruh yang terlihat memang
akibat bahan yang diberikan, meskipun bahan terdiri dari
berbagai jenis zat dan pengaruh bahan merupakan resultante
hasil pengaruh berbagai zat. Ini berarti harus ada zat yang ber-
tanggung jawab atas sifat efek farmakologi seperti yang di-
tunjukkan berbagai bahan. Dengan lain perkataan dalam
khazanah obat tradisional adayang dapat dibuktikan khasiat-
nya sehingga kita tidak perlu apriori merendahkan atau tidak
mempercayai obat tradisional. Jadi secara potensial obat
tradisional dapat digunakan sebagai obat.
Yang masih diperlukan adalah bantuan pembuktian yang
lebih banyak lagi pada pasien manusia. Untuk ini diperlukan
kesediaan sejawat yang bekerja di lapangan pelayanan, yang
langsung berhubungan dengan penderita, untuk ikut mem-
perhatikan akibat penggunaan obat tradisional tanpa curiga
dan objektif, termasuk adanya pengaruh negatif, bila ada,
tanpa dibesar-besarkan.
Gejala-gejala tersebut mungkin dapat ditemukan di daerah,
baik di Puskesmas atau pada praktek pribadi. Informasi ini
dibutuhkan dan bila tidak diketahui ke mana informasi dapat
dikirimkan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
rnerupakan salah satu tempat pengumpul informasi yang
tepat. Sekali lagi, mungkin sekali obat tradisional berkhasiat,
kalau tidak berkhasiat pun pernyataan perlu diberikan secara
obyektif dan tidak didorong emosi atau dasar apriori.
SARAN
1)
Merekam penggunaan obat tradisional. Hal ini akan
memberikan informasi mutakhir tentang masih digunakan-
nya obat tradisional. Di antaranya perlu direkam jenis obat
yang digunakan, terhadap penyakit apa, bahannya, dosisnya,
digunakan berapa lama. Bila mungkin, dilakukan observasi
keampuhannya dengan merekam frekuensi penggunaan serta
penyembuhan setelah menggunakan obat tersebut. Rekaman
akibat negatif setelah penggunaan obat tradisional sangat di-
perlukan, dengan penjelasan persentasenya.
2)
Mengadakan uji toksisitas khususnya uji toksisitas
subkronik atau kronik pada hewan percobaan. Pengobat
tradisional biasanya tidak rnerekam informasi tentang pasien-
nya, hingga tidak ada petunjuk sama sekali tentang kemung-
kinan adanya akibat negatif. Hanya dokter yang diajarkan
membuat rekaman pengobatan. Informasi ini perlu sebelum
obat tradisional dimantapkan khasiatnya pada manusia.
3)
Konfirmasi kebenaran yang dicoba pada manusia dalam
batas-batas tertentu, menggunakan dosis empirik setelah di-
sesuaikan dalam sistem metrik.
4)
Penelitian formulasi untuk memperoleh bentuk yang
enak digunakan, mudah digunakan, mudah pemberiannya.
KEPUSTAKAAN
1.
Domer FR. Animal experiments in pharmacological analysis.
Sringfield, Ill. Charles C Thomas, 1971.
2.
Goldstein A, Aronow L, Kalmah SM. Principles of Drug Action:
the basis of pharmacology. Second ed. New York: John Wiley &
Sons, 1974.
3.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Survei Kesehatan
Rumah Tangga 1980, 1980.
4.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Survei Kesehatan
Rumah Tangga 1985, 1985.
5.
Achmad Muhammad Djoyosoegito dkk. Titik tangkap pengaruh
hipotensif rebusan daun Oldenlanoia corymbosa L. pada kucing,
1976.
6.
Tri Partini Estiningsih dkk. Efek antihipertensi dekok biji Pso-
phocarpus tetragonolobus (L) DC. pads kelinci secara in vivo.
Risalah SPTO III, Yogyakarta, 1983 : 60-70.
7.
Idayani Hadinoto dkk. Pengaruh comfrey (Symphytum offici-
nale L.) terhadap kontraksi otot polos usus tikus putih. Risalah
SPTO III, Yogyakarta, 1983 : 276-82.
8.
B Dzulkarnain dkk. Pengaruh ekstrak beberapa tanaman obat
terhadap usus terisolasi. Bull Penelitian Kesehatan 1978: 6 (1) :
29-39.
9.
A Setiadi Ranti dkk. Pengujian efek analgetik bush Averrhoa
carambola L. pada mencit putih betina. Risalah SPTO III, Yogya-
karta, 1983 : 3 0 2 - 9 .
10.
Sugiyantono dkk. Pengaruh infusum daun jambu biji (Psidium
guafava L.) terhadap ulkus lambung tikus putih. Risalah SPTO V
Surabaya, 1986 : 92-102.
Cermin Dunia Kedokteran No. 58 1989 7
11.
Imono Argo dkk. Pengaruh cairan yang ke luar dari batang Bam-
busa vulgaris Schrad terhadap regenerasi sel hepar tikus putih
jantan. Risalah SPTO II, Yogyakarta, 1983 : 104-19.
12.
B Dzulkarnain dkk. The influence of the infusion and extracts
of Symphytum officinale L. leaves on the isolated guinea pig
uterus. Bull Penelitian Kesehatan 1982; 10 (1) : 7-14.
13.
M Amin. Penelitian androgenic Talinum racemosum Rohrb
(krokot blanda) pada anak ayam . Universitas Indonesia. Skripsi,
Jurusan Farmasi FMIPA UI. 1988.
14.
Eka Yoshida. Pemeriksaan efek diuretika ekstrak temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb) pada tikus putih. Universitas
Indonesia . Skripsi, Jurusan Farmasi FMIPA UI. 1988.
15.
Yun Astuti dkk. Khasiat infus Borreria hispida Schum terhadap
batu kandung kemih buatan pada tikus putih (rat). Kongres
Biologi Nasional VIII di Purwokerto, Oktober 1988.