Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
56
PENGALAMAN PRAKTEK
Kepergian Seorang Tuna Wisma
Dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini, setiap insani mempunyai gelombang
tersendiri, di mana gelombang ini sesuai dengan suratan tangan sendiri. Dalam ke-
hidupan ini kita dapati berbagai corak ragarnnya sesuai dengan gelombang masing-
masing, di mana kita dapat perhatikan di sekitar pandangan mata kita mulai dari
sosial ekonomi rendah sampai dengan sosial ekonomi yang tinggi maupun dari yang
sakit ringan ataupun yang sakit berat dan lain sebagainya.
Adanya kekurangan ini sering kita dengar dengan sebutan "Tuna
"
sehingga dapat
kita kenal adanya Tuna Wisma, Tuna Rungu, Tuna Susila, Tuna Aksara, Tuna Bahasa,
Tuna Budaya dan lain sebagainya.
Alkisah kepergian seorang Tuna Wisma yang sangat memprihatinkan yang terletak
di tengah sawah dan bermandikan hujan deras tanpa kawan dan lawan hanya sendirian
menghadapi sakratul maut, mungkin demikian gelombang kehidupan yang sangat berat
diterimanya sebelum ajalnya tiba. Malam itu begitu derasnya hujan turun pada per-
tengahan Nopember 1986 pada saat itu jam menunjukkan pukul 21.00 wib, tiba-tiba
mobil kita disegat petugas Kepolisian dan menjelaskan perlunya pemeriksaan mayat.
Kita langsung ke tempat kejadian tanpa mempertimbangkan birokrasi, yang penting
kita periksa dulu, soal administrasi belakangan diselesaikan hal demikian kita lakukan
sesuai dengan situasi dan kondisi toleransi setempat (Sikontoles).
Tempat kejadian tidak begitu jauh dari jalan raya Anyer Jakarta tepat di wilayah
kerja kami desa Taman Baru (Depan Kopassus). Mayat seorang wanita tanpa diketahui
identitasnya, umumya diperkirakan 35 tahun lebih tua dari umur sebenamya, mungkin
akibat kegetiran hidup, terbaring posisi telentang beralaskan karung plastik dan ber-
bantalkan tangan sendiri dengan pakaian yang serba memprihatinkan dan sekitamya
didapati barang-barang keperluannya di samping barang-barang yang telah usang.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara lebih teliti diperkirakan mayat meninggal
6 jam yang lalu, kemudian diserahkan kepada Kepala Desa untuk urusan penguburannya
setelah sesuatunya diselesaikan.
Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, begitu rupanya kehidupan ini,
begitu juga yang dihadapi si Tuna Wisma di samping Tuna Karya yang mungkin
disertai Tuna lainnya pada dirinya, sehingga masyarakat sekitamya yang selama ini
membantu tak dapat diraihnya, sehingga kehidupannya hanya dijalani dengan minta-
minta tanpa sanak saudara yang bertanggung jawabkan kehidupannya. "Seperti Kerakap
tumbuh di atas batu, hidup segan mati belum waktunya" pada masa hidupnya.
Dr. Armen Hasibuan
Taktakan, Serang
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :
Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O. Box 3105, Jakarta 10002